Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitabnya Al-Wasailul Mufidah lil Hayatis Sa’idah menasihatkan sebuah prinsip emas dalam menghadapi gangguan, khususnya ucapan buruk. Beliau berkata:
“Gangguan orang-orang kepadamu, khususnya berupa ucapan jelek, tidak memberikan mudhorot (kerugian) bagimu, namun justru memberikan mudhorot bagi mereka. Kecuali jika engkau sibukkan dirimu dengan memperhatikannya dan membiarkan ucapan itu mengendalikan perasaanmu. Saat itulah ucapan itu akan merugikanmu sebagaimana merugikan mereka. Jika engkau tidak memperdulikannya, ucapan itu tidak akan memberi mudhorot sedikit pun bagimu.”
Ini adalah pelajaran besar tentang kontrol emosi. Syaikh As-Sa’di menegaskan bahwa kata-kata buruk tidak otomatis melukai kita—kitalah yang memberi kekuatan pada kata-kata itu jika kita mengizinkannya menguasai hati.
BACA JUGA: Hikmah dari Ucapan Assalamualaikum
Mengabaikan: Bukan Lemah, Tapi Kuat
Dalam Islam, membalas keburukan dengan kebaikan adalah ajaran mulia. Allah Ta’ala berfirman: “Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antara engkau dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang setia.” (QS. Fussilat: 34)
Ayat ini bukan hanya memerintahkan bersabar, tapi juga merespons dengan akhlak yang lebih tinggi. Mengabaikan ucapan buruk bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan iman.
Sabar dan Lapang Dada
Nabi Muhammad ﷺ memberikan teladan agung. Beliau sering mendapat ejekan, hinaan, bahkan tuduhan yang keji. Namun, beliau bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sabar bukan berarti pasif. Sabar adalah memilih tidak membiarkan hati dan pikiran dikendalikan oleh kemarahan yang dipicu oleh orang lain.
Ujian Jiwa
Ucapan buruk adalah ujian kesabaran dan kemurnian hati. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa ucapan buruk orang lain akan menjadi dosa bagi mereka, namun bisa menjadi pahala bagi kita jika dihadapi dengan sabar dan memaafkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahkan berkata:
“Siapa yang memaafkan dan tidak membalas, ia akan mendapatkan hati yang lebih lapang dan jiwa yang lebih bersih.”
Artinya, mengabaikan ucapan buruk bukan hanya melindungi diri dari luka hati, tetapi juga membuka pintu pahala dan ketenangan batin.
BACA JUGA: Setiap Ucapan Dicatat, Bahkan Rintihan Saat Sakit
Prinsip Menghadapi Ucapan Menyakitkan
1- Jangan langsung bereaksi – Diam dan berpikir sebelum menanggapi.
2- Alihkan fokus – Sibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat yang mengangkat hati.
3- Balas dengan kebaikan – Jika perlu merespons, pilih kata yang baik atau doa.
4- Ingat nilai akhirat – Gangguan ini sementara, sedangkan pahala bersabar kekal.
Kita tidak dapat mengendalikan apa yang orang lain ucapkan, tetapi kita bisa mengendalikan respon kita. Seperti nasihat Syaikh As-Sa’di, jangan biarkan ucapan buruk menguasai perasaanmu. Biarkan ia berlalu seperti angin yang hanya singgah, tanpa meninggalkan debu di hati.
Dengan kesabaran dan lapang dada, kita tidak hanya menjaga ketenangan diri, tapi juga mengamankan pahala besar di sisi Allah. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


