Bagaimana jika yang selama ini kita kejar ternyata hanya kemasan, sementara isinya justru kita abaikan?
Setiap hari kita sibuk mengejar sesuatu.
Harta.
Jabatan.
Popularitas.
Rumah yang lebih besar.
Kendaraan yang lebih mewah.
Pakaian yang lebih mahal.
Namun pernahkah kita bertanya, apakah semua itu benar-benar tujuan?
Ataukah semua itu hanya kemasan?
Saudaraku, ketika membeli sebuah hadiah, kita sering terpukau oleh bungkusnya.
Warnanya indah.
Pitanya rapi.
Kotaknya tampak mewah.
BACA JUGA: Jasmani dan Dunia
Namun yang paling berharga bukanlah bungkusnya.
Melainkan isi di dalamnya.
Begitulah dunia.
Dunia hanyalah kemasan.
Sedangkan akhirat adalah isinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185).
Dunia memang indah dipandang.
Tetapi keindahannya hanya sementara.
Hari ini seseorang dipuji.
Esok ia dilupakan.
Hari ini seseorang kaya.
Besok hartanya bisa lenyap.
Hari ini tubuh terasa kuat.
Suatu saat ia akan menua.
Semua yang kita banggakan akan tertinggal.
Yang ikut bersama kita ke dalam kubur bukanlah rumah.
Bukan kendaraan.
Bukan pula gelar.
Yang menemani hanyalah amal.
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka yang kembali ada dua, sedangkan yang tetap bersamanya hanya satu, yaitu amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Betapa sering kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempercantik kemasan.
Namun hanya beberapa menit untuk memperbaiki isi.
Kita sibuk memperindah penampilan.
Tetapi lupa memperindah hati.
Kita rajin memperbarui barang.
Namun lalai memperbarui taubat.
Kita khawatir nilai investasi turun.
Namun tidak khawatir ketika iman mulai melemah.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Dunia hanyalah persinggahan, bukan tempat tinggal yang abadi.”
Saudaraku, Islam tidak melarang memiliki dunia.
Yang dilarang adalah ketika dunia memiliki hati kita.
Gunakan harta sebagai jalan menuju surga.
Jadikan jabatan sebagai sarana menegakkan keadilan.
Manfaatkan usia untuk memperbanyak amal saleh.
Karena pada akhirnya, kemasan akan dibuka.
Saat itu tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.
Yang dinilai bukan seberapa mewah kehidupan kita.
Tetapi seberapa ikhlas ibadah kita.
BACA JUGA: Jangan Memfitnah Diri dengan Angan-angan Dunia
Bukan seberapa banyak pengikut kita.
Tetapi seberapa dekat kita kepada Allah.
Maka sebelum kemasan itu rusak dan dibuang oleh waktu, sibukkanlah diri memperbaiki isi.
Perbanyak shalat.
Perbanyak membaca Al-Qur’an.
Perbanyak sedekah.
Perbanyak taubat.
Karena ketika dunia telah selesai dilipat, yang tersisa hanyalah bekal menuju kehidupan yang sebenarnya.
Jangan sampai kita pulang dengan membawa kemasan yang indah, tetapi isi yang kosong. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


