Mimpi buruk adalah pengalaman yang hampir pernah dialami setiap orang. Di tengah lelap malam, tiba-tiba hati terasa sesak, bayangan menakutkan hadir, dan rasa cemas tertinggal hingga terbangun. Islam, dengan kasih sayang dan kelengkapannya, tidak membiarkan seorang hamba menghadapi kegelisahan ini tanpa tuntunan. Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan yang jelas agar mimpi buruk tidak berubah menjadi beban jiwa.
Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa mimpi baik berasal dari Allah, sedangkan mimpi buruk datang dari setan. Karena itu, ketika seseorang melihat mimpi yang tidak disukainya, Nabi ﷺ menganjurkan beberapa langkah sederhana namun penuh hikmah: meludah ringan ke arah kiri tiga kali dan berlindung kepada Allah dari kejahatan mimpi tersebut. Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu bahkan bersaksi, mimpi buruk yang dulu terasa seberat gunung menjadi tak berarti lagi setelah ia memahami ajaran Nabi ini.
BACA JUGA: Agar Didoakan Malaikat Ketika Tidur
Para ulama salaf menekankan pentingnya sikap hati dalam menghadapi mimpi. Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Mimpi itu tidak membahayakan kecuali jika seseorang menyandarkan hatinya kepadanya.” Artinya, ketakutan berlebihanlah yang sering kali memberi ruang bagi kegelisahan, bukan mimpi itu sendiri.
Langkah pertama yang diajarkan Nabi ﷺ adalah membaca ta’awudz, memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.
Lebih utama lagi jika membaca Al-Falaq dan An-Nas, dua surah yang oleh para ulama disebut sebagai benteng perlindungan seorang mukmin. Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah menasihati, “Setan mempermainkan manusia ketika ia lalai dari dzikir.” Maka, dzikir adalah kunci ketenangan.
BACA JUGA: Bisakah Mimpi Bertemu dengan Rasulullah?
Kedua, dianjurkan meludah ringan ke kiri tiga kali sebagai isyarat penolakan gangguan setan.
Ini bukan sekadar gerakan fisik, melainkan simbol kepasrahan dan ketaatan kepada sunnah. Ketiga, seorang muslim tidak perlu takut atau menafsirkan mimpi buruk sebagai pertanda musibah. Semua yang terjadi di alam nyata berjalan atas kehendak Allah, bukan akibat mimpi. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Hati menjadi kuat dengan tawakal, bukan dengan prasangka.”
Terakhir, Nabi ﷺ melarang menceritakan mimpi buruk kepada orang lain.
Menyimpannya dan menyerahkannya kepada Allah jauh lebih menenangkan. Dengan niat yang benar, bahkan tidur pun bernilai ibadah. Maka, ketika mimpi buruk datang, ingatlah: Islam telah menyiapkan jalan agar malam kembali damai dan hati tetap tenang.
Wallahu a’lam. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


