Ada orang yang benar, tetapi ia memilih diam.
Ada orang yang bisa menang dalam perdebatan, tetapi ia memilih mengalah.
Ada orang yang tahu sebuah dusta akan membuatnya terlihat hebat, tetapi ia memilih berkata jujur.
Dan ada orang yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi akhlaknya membuat orang lain merasa aman berada di dekatnya.
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu terletak pada kemampuan memenangkan perdebatan.
Kadang-kadang, kemuliaan justru terletak pada kemampuan menahan diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar. Aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia hanya bercanda. Dan aku menjamin sebuah rumah di bagian tertinggi surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud no. 4800)
BACA JUGA: Nama Pintu-Pintu Surga
Perhatikan tiga perkara ini.
Pertama, meninggalkan perdebatan meskipun benar.
Tidak semua kebenaran harus dipertahankan dengan perdebatan.
Ada kalanya seseorang benar, tetapi cara menyampaikannya justru melukai.
Ada kalanya kita mampu membalas, tetapi memilih diam demi menjaga persaudaraan.
Bukan karena kita lemah.
Tetapi karena kita tahu bahwa ketenangan lebih berharga daripada kemenangan dalam percakapan.
Kedua, meninggalkan dusta meskipun hanya bercanda.
Sebagian orang menganggap kebohongan kecil tidak masalah.
“Kan cuma bercanda.”
Padahal lidah yang dibiasakan berdusta akan semakin mudah menganggap dusta sebagai sesuatu yang ringan.
Kejujuran tidak mengenal musim.
Tidak hanya ketika serius.
Bahkan ketika bercanda pun seorang Muslim tetap menjaga lisannya.
Ketiga, memperbaiki akhlak.
Akhlak yang baik bukan sekadar tersenyum kepada orang lain.
Ia terlihat ketika kita marah.
Ketika disakiti.
Ketika berbeda pendapat.
Ketika memiliki kesempatan membalas, tetapi memilih memaafkan.
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa akhlak yang baik mencakup kesabaran terhadap gangguan, tidak membalas keburukan dengan keburukan, serta memperlakukan manusia dengan perkataan dan perbuatan yang baik.
Tiga jalan ini tampak sederhana.
Namun semuanya membutuhkan perjuangan melawan ego.
Meninggalkan debat membutuhkan kerendahan hati.
BACA JUGA: Karamah Terendah dan Tertinggi bagi Ahli Surga
Meninggalkan dusta membutuhkan kejujuran.
Memperbaiki akhlak membutuhkan kesabaran.
Dan lihatlah balasannya.
Bukan sekadar pujian manusia.
Bukan sekadar nama baik di dunia.
Tetapi sebuah rumah di surga.
Maka ketika hari ini kita memilih diam meskipun mampu membalas, memilih jujur meskipun dusta terasa lebih menguntungkan, dan memilih berbuat baik meskipun orang lain memperlakukan kita dengan buruk, jangan merasa sedang kalah.
Boleh jadi, di sisi Allah, kita sedang memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Sebab ada kemenangan yang hanya berlangsung beberapa menit.
Tetapi ada kemenangan yang mengantarkan seseorang menuju surga. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


