Ada sebuah kisah tentang seorang wanita sederhana.
Namanya Ummu Mutiah.
Ia bukan wanita yang terkenal.
Bukan pula seseorang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat.
Rumahnya sederhana.
Hidupnya pun biasa-biasa saja.
Namun, ada sesuatu yang membuat namanya menjadi buah pembicaraan.
Konon, Rasulullah ﷺ menyebut namanya sebagai seorang wanita yang kelak menjadi penghuni surga.
BACA JUGA: Ummul Masakin: Zainab binti Jahsyi
Kabar itu sampai kepada Fathimah az-Zahra.
Putri Rasulullah ﷺ itu pun penasaran.
Apa yang istimewa dari wanita tersebut?
Apa amalnya?
Apa ibadahnya?
Apa yang membuat seorang wanita sederhana mendapatkan kemuliaan sebesar itu?
Fathimah kemudian mendatangi rumah Ummu Mutiah.
Ia membawa Hasan.
Ketika sampai di depan pintu, Fathimah mengetuk.
“Siapakah di luar?”
“Fathimah.”
Ummu Mutiah tentu sangat bahagia.
Namun ketika mengetahui Fathimah datang bersama Hasan, ia berkata dengan lembut bahwa ia belum mendapatkan izin suaminya untuk menerima tamu laki-laki.
“Bukankah Hasan masih kecil?” tanya Fathimah.
“Benar. Tetapi aku tidak ingin melanggar izin suamiku.”
Fathimah pun pulang.
Keesokan harinya ia datang lagi.
Kali ini bersama Hasan dan Husain.
Namun Ummu Mutiah kembali meminta maaf.
Ia hanya mendapatkan izin untuk menerima tamu tertentu.
Fathimah kembali pulang.
Hari berikutnya, barulah ia datang sesuai dengan izin yang diberikan.
Fathimah masuk.
Ia memperhatikan rumah itu.
Tidak ada kemewahan.
Tidak ada sesuatu yang tampak luar biasa.
Hanya rumah sederhana.
Seorang wanita sederhana.
Tetapi justru di situlah Fathimah menemukan sesuatu yang besar.
Ummu Mutiah begitu menjaga kehormatan dirinya.
Ia berhati-hati dalam perkara yang dianggap kecil.
Ia tidak menganggap remeh amanah.
Ia tidak menggunakan kedudukan tamunya sebagai alasan untuk melanggar aturan rumah tangganya.
Bahkan dalam kisah yang masyhur itu, Fathimah melihat sebuah cambuk yang disiapkan untuk suaminya.
Bukan untuk menyakiti.
Melainkan sebagai pengingat agar suaminya menegurnya apabila ia melakukan kesalahan dalam melayani dan menjaga amanah rumah tangga.
Fathimah pun terdiam.
Barangkali saat itu ia memahami sesuatu.
Kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari banyaknya orang yang mengenalnya.
Tidak selalu pula dari banyaknya amal yang dipamerkan.
Kadang, kemuliaan tumbuh diam-diam.
Di dapur.
Di kamar.
Di rumah yang sunyi.
Dalam kesetiaan yang tidak diketahui manusia.
Dalam amanah yang dijaga ketika tidak ada seorang pun melihat.
Ummu Mutiah mengajarkan bahwa kesalehan bukan hanya tentang apa yang tampak di hadapan manusia.
Tetapi tentang siapa kita ketika pintu rumah tertutup.
BACA JUGA: Abu Hanifah dan Ummu Imran, Wanita Gila
Ketika tidak ada pujian.
Ketika tidak ada yang menyaksikan.
Di situlah keikhlasan diuji.
Dan mungkin, dari amal-amal kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus, Allah mengangkat seorang hamba kepada derajat yang tinggi.
Sebab surga bukan selalu diraih oleh mereka yang terlihat hebat.
Bisa jadi, ia diraih oleh seseorang yang setiap harinya hanya berusaha taat.
Diam-diam.
Sederhana.
Namun sungguh-sungguh. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


