JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah Rasulullah ﷺ

Abu Bakar 

la bernama asli Abdullah-dikenal juga dengan Atiq-bin Abu Quhafah Utsman bin Amir Al Qurasyi At-Taimi RA.

Yang meriwayatkan darinya adalah beberapa orang sahabat dan pemuka Tabi’in.

Ibnu Abu Mulaikah dan lain-lain mengatakan bahwa Atiq adalah julukannya.

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Nama yang diberikan oleh keluarganya kepada Abu Bakar adalah Abdullah, tetapi dia sering dipanggil dengan nama Atiq.”

Ibnu Ma’in berkata, “Dia dijuluki dengan Atik karena wajahnya ganteng.”

Al-Laits bin Sa’ad juga mengatakan hal yang senada.

Yang lain berkata, “Dia keturunan Quraisy yang paling tahu tentang nasab mereka.”

Dia tokoh masyarakat Quraisy yang pertama kali beriman.

Ibnu Al-Arabi berkata, “Biasanya orang Arab menyebut sesuatu yang sangat bagus dengan sebutan atiq.”

BACA JUGA:  Mimpi Abu Bakar sebelum Masuk Islam

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Tidak ada seorang pun ayah dari kalangan Muhajirin yang masuk İslam selain Abu Bakar.”

Diriwayatkan dari Az-Zuhri, dia berkata, “Abu Bakar berkulit putih kekuning-kuningan, lembut, berarribut kriting, pangkal pahanya ramping, dan kain sarungnya tidak pernah naik di atas lututnya.”

Diceritakan bahwa dia sering berdagang ke Bashrah dan mendermakan hartanya kepada Nabi serta untuk membela agama Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada harta yang lebih bermanfaat bagiku daripada hartanya Abu Bakar.”

Urwah bin Az-Zubair berkata, “Ketika Abu Bakar masuk Islam, dia merrmpunyai empat puluh ribu dinar.”

Amr bin Al-Ash berkata, “Ya Rasulullah, siapa orang yang paling engkau senang?” Beliau menjawab, “Abu Bakar.”

Diriwayatkan dari Ali, bahwa Nabi ﷺ pernah melihat Abu Bakar danı Umar bin Khattab seraya bersabda, “Kedua orang ini adalah pemimpin penghuni surga dari dulu hingga yang terakhir, kecuali para nabi dan rasul. Engkau jangan memberikan informasi ini kepada mereka, wahai Ali.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda,

لَوْ كُنتُ مُتَّجِدًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً.

“Seandainya aku boleh mengambil kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih.”

Ibnu Abbas juga meriwayatkan hal yang sarna, lalu dia menambahkan, “Tetapi dia adalah saudaraku dan sahabatku yang dilandaskan karena cinta kepada Allah. Tutuplah jendela masjid kecuali jendela Abu Bakar!”

Diriwayatkan dari Umar, dia berkata, “Abu Bakar adalah pemimpin kami, orang terbaik kami, dan orang yang menjadikan kami cinta kepada Rasulullah ﷺ.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata, “Aku pernah berkata kepada Aisyah, ‘Siapa sahabat Nabi ﷺ yang paling beliau cintai?” Aisyah menjawab, ‘Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?” Dia menjawab, ‘Umar.” Aku bertanya lagi, ‘Lalu siapa?” Dia menjawab, ‘Abu Ubaidah.” Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?” Aisyah kemudian tidak berkata apa-apa.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ pernah duduk di atas mimbar lalu bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang diizinkan oleh Allah untuk memilih antara kemegahan dunia dengan apa yang yang ada di sisi-Nya, lalu dia memilih apa yang ada di sisi-Nya.” Abu Bakar berkata, “Kami siap menjadi penebusmu, ya Rasulullah.”

BACA JUGA:  Abu Bakar dan Rasulullah: Orang yang Tersesat dan yang Menunjukkan Jalan

Abu Sa’id berkata: “Kami kemudian terkejut. Orang-orang pun berkata, “Lihatlah syaikh ini, Rasulullah mengabarkan tentang orang yang diberi pilihan oleh Allah, tetapi dia berkata, ‘Kami siap menjadi penebusmu.”

Abu Sa’id berkata, “Orang yang diberi pilihan itu adalah Rasulullah ﷺ, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang paling tahu tentang hal itu daripada kami.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, Tidak ada seorang pun yang meminta kepada kami kecuali kami akan memberinya selain Abu Bakar, karena dia justru memiliki tangan yang dengannya Allah mencukupinya pada Hari Kiamat. Tidak ada harta yang memberiku manfaat sama sekali selain harta milik Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih, tentu aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah, sahabat kalian ini adalah kekasih Allah!”

Muhammad bin Jabir bin Muth’im berkata, “Ayahku menceritakan kepadaku bahwa seorang perempuan pernah datang menemui Rasulullah ﷺ lalu berkata tentang sesuatu kepada beliau dan beliau pun memerintahkan sesuatu kepadanya. Perempuan itu berkata, ‘Bagaimana ya Rasulullah jika aku tidak menemukanmu lagi (karena engkau meninggal)?’ Beliau menjawab, ‘Jika kamu tidak menemuiku lagi maka temuilah Abu Bakar.”

Derivayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah bersabda kepadaku ketika beliau sedang sakit, “Panggillah Ayah dan saudaramu supaya menuliskan suratku, karena aku takut ada orang yang berangan-angan dan ada orang yang berkata begini dan begitu, lalu Allah dan orang-orang beriman manolak kecuali Abu Bakar.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits Abu Idris Al Khaulani, ia berkata: Aku mendengar Abu Ad-Darda berkata, “Ketika Abu Bakar dan Umar sedang berdiskusi, tiba-tiba Umar marah kepada Abu Bakar. Umar kemudian keluar meninggalkannya dalam keadaan marah, lalu Abu Bakar mengikutinya dan menyuruhnya untuk beristighfar, tetapi Umar tidak melakukannya hingga dia menutup pintu di depannya. Abu Bakar lantas pergi menemui Rasulullah ﷺ . -Abu Ad-Darda berkata, “Kami ketika itu berada di sisi Rasulullah-Setelah itu beliau bersabda, “Sahabat kalian ini adalah orang yang lapang dada.”

Al-Bukhari berkata, “Umar kemudian menyesali perbuatannya, maka la lalu datang dan duduk di samping Nabi ﷺ , lantas menceritakan tentang masalah tersebut kepada Nabi.”

Abu Ad-Darda lanjut berkata: Rasulullah ﷺ kemudian marah, lalu Abu Bakar berkata, “Demi Allah ya Rasulullah, aku benar-benar telah berbuat zhalim!” Rasulullah lalu bersabda, “Apakah kalian meninggalkan sahabatku karenaku? Aku menyerukan kepada kalian wahai manusia, “Sesungguhnya aku adalah utusan kepada kalian semua,” lalu kalian berkata, “Kamu berdusta,” namun Abu Bakar berkata, “Engkau benar.”

Atha bin As-Sa’ib berkata, “Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, pagi harinya dia memanggul barang dagangannya sendiri. Ketika dia bertemu dengan Umar dan Abu Ubaidah, mereka berdua lalu melarangnya.” Abu Bakar berkata, “Dari mana aku bisa memberi makan keluargaku?” Mereka berdua berkata, “Pulanglah, kami yang akan mencukupimu.” Mereka kemudian memberinya seekor kambing setiap hari, namun mereka mempertanyakan kepala dan perut kepada beliau! (Perhatikanlah, betapa mulanya mereka. Betapa agungnya kaidah hukum yang merasa letakkan mendahului apa yang dilakukan orang-orang Barat sekian abad sebelumnya Khalifah kaum muslim diberi gaji, tetapi mereka mempertanyakan masalah kepala dan perut kambing kepada beliau, apakah dia berhak ataukah tidak? Itulah mereka, sosok pemimpin dan kebanggaan umat)

Umar berkata, “Aku yang akan memberikan keputusan.” Abu Ubaidah berkata, ‘Kepada aku membayar dendanya.” Umar berkata, ‘”Selama satu bulan aku menjabat, tidak ada dua orang berperkara mengadu kepadaku.”

Muhammad bin Sirin berkata, “Abu Bakar adalah sosok yang paling pandai menakwilkan mimpi dari kalangan umat ini setelah Nabi ﷺ.”

Zubair bin Bakkar berkata dari beberapa gurunya, “Pembesar para sahabat itu adalah Abu Bakar dan Ali.”

Diriwayatkan dari Urwah, dari Aisyah, bahwa dia pernah memanggil orang yang mengira bahwa Abu Bakar pernah melontarkan bait-bait syair, ia berkata, “Demi Allah, Abu Bakar tidak pernah membaca syair, baik pada masa jahiliyah mapun Islam. Dia dan Utsman telah meninggalkan minum khamer sejak masa jahiliyah.”

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Laila, bahwa Umar pernah naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Ketahuilah, orang yang paling mulia dari umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar. Siapa pun yang mengatakan hal yang bertentangan dengan ini setelah aku berdiri di sini, berarti dia telah mereka-reka kebohongan, sehingga dia berhak mendapatkan hukuman.”

Abu Mu’awiyah dan jamaah berkata: Suhail bin Abu Shaleh bercerita dari ayahnya, dari Ibnu Umar, ia berkata, “Pada masa Rasulullah ﷺ , kami pernah berkata, “Jika Abu Bakar, Umar, dan Utsman meninggal dunia, maka semua manusia sama.” Ketika perkataan tersebut sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau tidak mengingkarinya.”

Ali berkata, “Sebaik-baik orang dari kalangan umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar.”

Demi Allah, ucapan tersebut dikatakan oleh Ali dan disampaikan secara mutawatir dari Ali, karena ia mengatakannya di atas mimbar Kufah. Semoga Allah menghancurkan orang-orang Rafidhah yang bodoh.

As-Suddi berkata Diriwayatakan dari Abdul Khair, dari Ali, dia berkata, “Orang yang paling besar pahalanya dalam masalah mushaf adalah Abu Bakar. Dialah orang pertama yang mengumpulkan Al Qur’an dari lembaran-lembaran pelepah kurma.” Sanadnya hasan.

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Hari pertama Abu Bakar sakit, beliau mandi. Pada saat itu cuaca sangat dingin, sehingga beliau menderita flu dan panas dingin, sehingga selama lima belas hari tidak dapat shalat berjamaah. Dia kemudian menyuruh Umar untuk memimpin shalat jamaah, dan mereka menjenguknya. Utsman lalu mewajibkan mereka untuk menjenguknya. Abu Bakar wafat pada malam Selasa, 22 Jumadil Akhir. Ketika itu beliau telah menjabat sebagai khalifah selama dua tahun seratus hari.”

Abu Ma’syar berkata, “Dua tahun empat bulan kurang empat malam.”

Al Waqidi berkata, “Ketika Abu Bakar sudah merasa berat, dia memanggil Abdurrahman bin Auf seraya berkata, “Ceritakan kepadaku tentang Umar!’ Abdurrahman menjawab, “Jangan bertanya kepadaku tentang sesuatu yang engkau lebih tahu daripadaku.” Abu Bakar berkata, “Tidak apa-apa.” Abdurrahman berkata, ‘Demi Allah, pendapatnya lebih baik darimu di dalamnya.” Abu Bakar kemudian memanggil Utsman dan bertanya kepadanya tentang Umar. Utsman lalu menjawab, ‘Menurutku, jiwanya lebih baik daripada lahimya, dan di antara kita tidak ada orang yang sebanding dengannya.” Abu Bakar berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Demi Allah, seandainya kamu meninggalkannya maka aku akan memusuhimu. Oleh karena itu, Sa’id bin Az-Zubair, Asyad bin Hudhair, dan yang lain selalu mengajak mereka berdua bermusyawarah.

Seorang pria kemudian berkata, “Apa yang kamu katakan kepada Tuhanmu jika Dia bertanya tentang penggantimu, Umar, padahal kamu telah mengetahui kesalahannya?” Abu Bakar berkata, ‘Dudukkanlah aku, apakah engkau ingin menakut-nakuti diriku dengan Allah? Aku ingin menegaskan bahwa aku telah memilih seorang khalifah terbaik di antara umat-Nya’.”

Setelah itu Abu Bakar memanggil Utsman seraya berkata, “Tulislah ‘bismillahirrahmanirrahim’, inilah janji Abu Bakar bin Abu Quhafah pada akhir masanya di dunia menjelang ajalnya tiba dan awal masanya memasuki akhirat, kendati orang kafir menjadi beriman, orang jahat menjadi baik, dan pendusta menjadi jujur, bahwa aku memilih Umar bin Khaththab sebagai penggantiku. Dengarlah dan taatilah dia. Sesungguhnya aku tidak pernah mengurangi kebaikan Allah, Rasul-Nya, agamanya, diriku, dan diri kalian. Jika benar maka itulah prasangkaku dan pengetahuanku di dalamnya. Jika ternyata meleset, maka setiap orang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannnya. Aku hanya menginginkan kebaikan dan aku tidak mengetahui alam gaib, ‘Dan orang-orang yang zhalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (Qs. Asy-Syu’araa (26): 227)

Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Hafsh bin Umar, bahwa menjelang Abu Bakar meninggal dunia, Aisyah sempat membaca syair,

لَعَمْرُكَ مَا يَنْبَغِي الثَّرَاءُ عَنِ الْفَتَى إِذَا حَسْرَجَتْ يَوْمًا وَضَاقَ بِهَا الصَّدْرُ

“Sumpah, kekayaan tidak bermanfaat bagi seseorang
Jika ajal telah menjemput dan dada menyempit.”

Abu Bakar berkata, “Bukan seperti itu tetapi, ‘Sakaratul maut telah datang dengan benar.” (Qs. Qaaf [50]: 19) Sesungguhnya aku menitipkan kebun ini kepadamu, maka jika ada sesuatu yang menjadi hakku padanya, kembalikan kepada ahli waris.” Aisyah menjawab, “Ya.” Abu Bakar lalu berkata, “Sesungguhnya kami sejak menjabat sebagai Amirul Mukminin tidak pernah makan uang dinar dan dirham mereka, tetapi kami memasukkan makanan yang paling jelek ke dalam perut kami dan memakai pakaian yang paling rendah kualitasnya di badan kami. Kami juga tidak pernah mengambil sesuatu dari pajak kaum muslim kecuali seorang budak Habsyi ini, unta tua ini, dan unta hamil ini. Jika aku meninggal dunia maka kembalikan seluruhnya kepada Umar.”

Aisyah pun melaksanakannya.

Al Qasim berkata: Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata “Ketika Abu Bakar menjelang wafat, ia sempat berkata, ‘Yang aku tahu bahwa keluarga Abu Bakar hanya memiliki unta ini dan budak ini. Dia bekerja sebagai pedangnya kaum muslim dan mengabdi kepada kami. Jika aku meninggal dunia maka kembalikan dia kepada Umar.”

Ketika Aisyah mengembalikannya kepada Umar, Umar berkata, ‘Semoga Allah merahmati Abu Bakar, dia telah memberatkan orang-orang sesudahnya.”

Az-Zuhri berkata, “Abu Bakar pernah berwasiat agar dia dimandikan oleh istrinya, Asma binti Umais, dan jika tidak bisa maka mintalah bantuan kepada anaknya, Abdurrahman.”

BACA JUGA:  Abu Bakar Berkata tentang Sumpah yang Datang dari Setan

Abdul Wahid bin Aiman dan lainnya berkata: Diriwayatkan dari Abu Ja’far Al Baqir, ia berkata, “Ali pernah datang menengok Abu Bakar setelah ia dibungkus kain kafan, ia berkata, ‘Tidak ada orang yang bertemu Allah dengan shahifahnya lebih aku cintai daripada orang yang terbungkus dengan kafan ini.”

Al Qasim berkata, “Abu Bakar pernah berwasiat agar dikuburkan di samping Rasulullah ﷺ, maka ketika kuburan telah digali kepalanya pun diletakkan di sisi kedua pundak Rasulullah ﷺ.”

Diriwayatkan dari Amir bin Abdullah bin Zubair, ia berkata, “Kepala Abu Bakar diletakkan di sisi kedua pundak Rasulullah ﷺ, sedangkan kepala Umar diletakkan di samping pinggang Abu Bakar.”

Diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, “Abu Quhafah berkata kepada ahli warisnya, Aku telah mengembalikan hal itu kepada anaknya. Setelah itu dia hanya bisa bertahan hidup selama enam bulan beberapa hari’.”

Diriwayatkan bahwa yang memperoleh warisannya adalah ayahnya, kedua istrinya, Asma binti Umais dan Habibah binti Kharijah, ibu Ummu Kultsum, Abdurrahman, Muhammad, Aisyah, Asma’, dan Ummu Kultsum. []

Sumber: Nuzhatul Fudhala’ Tahdzih Siyar A’lam An-Nubala (Ringkasan Siyar A’lam An-Nubala) / Penulis: Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi / Penerbit: Pustaka Azzam / Cetakan Kedua, Juni 2011

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Bayi Muhammad, Berkah bagi Keluarga Halimah

Sirah

Lima Cahaya Keutamaan Abu Bakar

Sirah

Ketika Umar bin Khattab Temui Rasulullah Tidur di Atas Tikar, Hati di Atas Langit

Sirah

Abdullah bin Rawahah, Hancurkan Berhala untuk Sadarkan Sahabat Dekatnya