JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Abu Bakar Membebaskan Bilal

Pemilik Gambus

Matahari Makkah terasa membakar.

Di atas pasir yang panas, seorang lelaki hitam terbaring dengan tubuh penuh luka.

Namanya Bilal bin Rabah.

Ia adalah seorang budak milik Umayyah bin Khalaf.

Bilal telah memilih Islam.

Dan bagi orang-orang Quraisy, pilihan itu adalah sebuah penghinaan.

“Siapa Tuhanmu?” bentak Umayyah.

Bilal menatap langit.

BACA JUGA: 5 Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Napasnya berat.

Tubuhnya nyaris tak berdaya.

Namun bibirnya tetap bergerak.

“Ahad… Ahad…”

Allah itu satu.

Hanya Allah yang ia sembah.

Umayyah semakin marah.

Bilal diseret ke tengah padang pasir. Sebuah batu besar diletakkan di atas dadanya.

“Bersumpahlah bahwa engkau meninggalkan agama Muhammad!”

Bilal tidak menjawab.

Ia hanya mengulang kalimat yang sama.

“Ahad… Ahad…”

Kabar tentang penyiksaan Bilal sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat.

Hati mereka sedih.

Tetapi keadaan Makkah ketika itu membuat mereka belum mampu berbuat banyak.

Di antara orang yang paling gelisah melihat keadaan Bilal adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu.

Suatu hari, Abu Bakar mendatangi Umayyah.

“Aku akan membeli Bilal.”

Umayyah melihat Abu Bakar.

Ia tahu, Bilal adalah budak yang sudah tidak banyak berguna baginya selain menjadi sasaran kemarahan.

Maka terjadilah transaksi.

Abu Bakar menyerahkan hartanya.

Bilal pun bebas.

Tidak ada pesta.

Tidak ada panggung.

Tidak ada tepuk tangan.

Abu Bakar hanya melepaskan belenggu dari seorang manusia yang disiksa karena mempertahankan tauhidnya.

Sejak hari itu, Bilal menjadi manusia merdeka.

Namun kisahnya belum selesai.

Kelak, lelaki yang pernah disiksa di atas pasir Makkah itu berdiri di atas Ka’bah.

Suara azannya menggema di kota yang dahulu menyiksanya.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Dari seorang budak yang diseret di atas pasir, Bilal menjadi salah satu muazin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada Abu Bakar:

“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

BACA JUGA: Hanya Abu Bakar yang Percaya

Abu Bakar tidak sekadar membeli seorang budak.

Ia membebaskan seorang mukmin.

Dan Bilal tidak membalas penyiksaan dengan dendam.

Ia membalasnya dengan tetap teguh di atas tauhid.

Begitulah iman.

Kadang-kadang ia hanya terdengar dalam dua kata:

“Ahad… Ahad…”

Tetapi dua kata itu mampu membuat seorang budak berdiri lebih mulia daripada para pembesar Quraisy. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Sumur yang Dibeli oleh Ustman bin Affan

Sirah

Lapar Datang Tuhan pun Dimakan

Sirah

Julukan-julukan Umar bin Khattab, dan Artinya

Sirah

Mulianya Khadijah