JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Apa Peran yang Allah Pilihkan untuk Abu Bakar?

Abu Bakar 

Dalam rentang waktu tiadanya seorang rasul pun, Allah hendak mengutus seorang rasul untuk mengembalikan agama pada esensi dan hakikatnya, mengeluarkan kehidupan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kegalauan menuju kebenaran.

Allah memilih seorang rasul; Muhammad bin Abdullah. Wahyu turun, perjalanan Al-Qur’an nan penuh berkah pun dimulai.

Inilah pawai luhur yang diberi tugas untuk mengubah dan memperbarui nurani umat manusia.

Muhammad, wahyu, dan Al-Qur’an.

Namun, pawai ini terlihat seakan berhenti sambil mengamati.

Rupanya ia menanti seseorang untuk mengisi kekosongan di tengah sengahnya. Pawai ini takkan bergerak maju sebelum ia datang

Seseorang yang dimaksud bukanlah nabi, tetapi dialah yang akan meneruskan peran nabi,

BACA JUGA:  Mimpi Abu Bakar sebelum Masuk Islam

Seketika burung burung pipit berkicau
Berita gembira datang
Orang itu datang juga

Dan datanglah Abu Bakar!

Datanglah seseorang yang tanpa pikir panjang ataupun ragu, yang selalu berkata kepada Nabi, “Engkau benar, engkau benar…”

Datanglah seseorang yang akan menemani Nahi meniti jalan hijrah, meski in tabu pasti bahwa orang-orang Quraisy akan memobilisasi pasukan untuk mengusir Nabi yang tengah berhijrah dengan sepenuh kekuatan, rasa dengki, dan tipu daya yang mereka punya.

Datanglah seseorang yang akan menyadarkan kembali kaum. muslimin-seluruh kaum muslimin-kala berita kematian rasul mereka dengar.

Datanglah seseorang yang akan membentuk umur baru untuk Islam dan kesatuan kaum muslimin melalui sikap yang ia tunjukkan dalam peristiwa Saqifah.

Datanglah seseorang yang andai tanpa keberadaannya selama masa kemurtadan, tentu Islam lenyap dan tersembunyi.

Intinya, datanglah seseorang yang memang harus datang menemani Rasulullah, menjadi perangkat yang Allah pilih untuk mengubah dunia. membersihkan dunia, dan meluruskan kehidupan.

Inilah peran hakiki dari Abu Bakar.

Lembaran-lembaran berikut ini hanya merupakan usaha sederhana untuk menggambarkan peran mulia yang tiada duanya.

Melalui kehidupan dan keteguhannya, guru umat manusia dalam seni keimanan akan memperlihatkan kepada kita segala keajaiban dan keagungan dalam seni keimanan!

Lantas model penguasa seperti apakah Abu Bakar dan juga Umar bin Khattab?

Bagaimana Anda menyelaraskan antara kepercayaan kuat Anda terhadap demokrasi dengan kepercayaan kuat Anda terhadap sosok penguasa seperti Umar bin Khattab, yang meski sosoknya adil secara mutlak, kami tetap tidak bisa menerima jika dikatakan Umar adalah penguasa yang demokratis?

Jika pertanyaan ini terlontar seputar Umar, tentu terlontar pula seputar Abu Bakar, mengingat dua khalifah ini memiliki model kekuasaan yang sama.

Untuk menjawab pertanyaan ini dan menghapus syubhat ini, tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar.

Keliru jika orang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar adalah penguasa tiran yang adil. Alasannya:

Pertama, Abu Bakar dan Umar tak pernah sesaat pun berlaku semena-mena.

Kedua, di dunia ini tidak ada yang namanya sosok tiran-adil.

Andai semua hal yang berlawanan dan berseberangan dalam kehidupan ini bersatu, maka perilaku sewenang-wenang dan adil tetap tidak bisa bersatu, tidak akan pernah bertemu. Yang terjadi, salah satunya akan langsung lenyap ketika yang satunya lagi muncul. Sebab, fenomena dan tuntutan keadilan yang paling sederhana mengharuskan bagi siapa pun yang memiliki hak, berhak mendapatkan haknya. Karena setiap orang berhak untuk ikut serta memilih kehidupan dan memutuskan masa depan, maka pada saat yang sama-dan karena sebab yang sama pula-mengharuskan untuk menyingkirkan perilaku tiran dan semena-mena.

Abu Bakar dan Umar paham betul akan hal itu. Kendatipun keduanya didukung seluruh umat-tunduk secara mutlak pada syariat yang Allah turunkan, keduanya tetap memberikan kesempatan bagi kaum muslimin untuk berdialog dan menentukan pilihan. Sampai-sampai, ada seorang rakyat biasa meraih kerah baju Umar saat berkuas, dan berkata kepadanya. “Takutlah kepada Allah, Umar…!”

Bahkan, kita juga melihat sendiri khalifah ini mengumpulkan kaum muslimin, lalu berdiri di tengah-tengah mereka menyampaikan:

“Hadirin semuanya! Apa yang akan kalian katakan jika aku memiringkan kepalaku seperti ini?”

“Kalau begitu, akan kami luruskan dengan pedang seperti ini.” sahut seseorang di antara hadirin.

“Apakah aku yang kamu maksud?” tanya Umar.

BACA JUGA:  Berapa Tahun Abu Bakar Memerintah? Dan Apa Saja yang Dicapai dari Pemerintahannya?

“Kamulah yang kumaksudkan,” jawab orang itu.

“Semoga Allah merahmatimu. Segala puji bagi Allah yang menjadikan seseorang di tengah-tengah kalian yang akan meluruskan jika aku berlaku tidak lurus,” kata Umar.

Bisakah penguasa seperti ini disebut sebagai penguasa tiran adil?

Lantas dari mana syubhat dan ketidakjelasan ini bisa muncul dari para penghafal Al-Qur’an yang melontarkan pertanyaan; bagaimana menyelaraskan kepercayaan terhadap demokrasi dengan kepercayaan terhadap Umar?

Bukannya memungkiri logika syubhat ini. Hanya saja, logika seperti ini membentuk dirinya ketika banyak sekali bagian dan cahaya hakikat yang hilang. []

Sumber: Khulafaur Rasül – Biografi Khalifah Rasulullah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Umar bin Abdul Aziz / Karya: Khalid Muhammad Khalid / Penerbit: Ummul Qura / Cetakan: VI. Agustus 2021 M/Dzulhijjah 1442 Η

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Detik-detik Umar bin Khattab Masuk Islam

Sirah

Zainab binti Jahsy: Wanita Bertangan Panjang yang Menyusul Rasulullah

Sirah

Keimanan Abu Bakar yang Luar Biasa

Sirah

Zaid bin Haritsah: Anak Angkat Rasulullah ﷺ