JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibadah

Bangkai Kambing yang Cacat

Rasulullah ﷺ adalah pendidik agung yang selalu menggunakan cara yang menyentuh hati dalam menyampaikan pelajaran. Beliau tidak hanya mengajarkan dengan kata-kata, tetapi juga dengan perumpamaan nyata yang membuat para sahabat mudah memahami. Salah satu pelajaran penting yang beliau sampaikan adalah tentang betapa hinanya dunia di sisi Allah ﷻ.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, suatu hari Rasulullah ﷺ melewati pasar bersama para sahabatnya. Di sana, beliau melihat bangkai seekor kambing yang kecil telinganya, cacat, dan tidak berharga. Rasulullah ﷺ lalu memegang telinga bangkai kambing itu dengan jarinya dan bertanya, “Siapa yang mau membelinya seharga satu dirham?”

Para sahabat pun menjawab, “Kami sama sekali tidak tertarik. Apa yang bisa diperbuat dengannya?”

BACA JUGA:  Hutang: Beban Dunia dan Akhirat yang Sering Diremehkan

Beliau ﷺ melanjutkan, “Maukah kalian kalau ini menjadi milik kalian dengan cuma-cuma?”

Para sahabat tetap menolak, bahkan berkata, “Demi Allah, seandainya kambing itu hidup, ia pun cacat. Apalagi sekarang sudah mati.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Allah, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada pendapat kalian tentang anak kambing ini.” (HR. Muslim, no. 2957).

Hadis ini menunjukkan betapa rendahnya nilai dunia di sisi Allah ﷻ. Apa yang dianggap manusia berharga, megah, dan membanggakan, sejatinya lebih hina daripada bangkai kambing yang cacat. Dunia hanya sementara, penuh dengan tipu daya, dan tidak sebanding dengan kehidupan akhirat.

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Dunia adalah negeri ujian, bukan negeri balasan. Manusia hanya melewatinya, bukan untuk menetap di dalamnya.” Perkataan ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah ladang untuk menanam amal yang akan dipanen di akhirat.

Para ulama salaf juga menekankan agar seorang mukmin tidak tertipu dengan gemerlap dunia. Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata, “Barang siapa menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka dia akan banyak bersedih. Namun barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan mencukupinya urusan dunianya.”

Dunia yang kita kejar dengan penuh ambisi sejatinya fana. Harta, jabatan, dan kemewahan akan habis, sedangkan amal saleh akan kekal. Inilah sebabnya Rasulullah ﷺ selalu mengingatkan umatnya agar jangan tertipu. Beliau pernah bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2956).

BACA JUGA:  3 Penyakit Hati: Cinta Dunia, Kedudukan, dan Pujian

Seorang mukmin tidak boleh terlena. Dunia hanyalah alat, bukan tujuan. Ketika dunia masuk ke hati, ia akan menjadi fitnah yang menjerumuskan. Tetapi ketika dunia ada di tangan, ia bisa menjadi sarana kebaikan untuk menolong agama Allah.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menulis, “Cintailah dunia sekadar kebutuhanmu, dan cintailah akhirat sesuai dengan tempat kembalimu.” Perkataan ini sejalan dengan pesan Rasulullah ﷺ: dunia hanyalah sarana, sedangkan akhirat adalah tujuan yang abadi.

Maka, jangan sampai dunia yang hina ini menghalangi kita dari mengingat Allah. Sebab, kehidupan yang sesungguhnya baru dimulai setelah dunia berakhir. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibadah

Kenapa Harus Menjaga Shalat Shubuh

Ibadah

Menyela-nyela rambut dan Jenggot ketika Mandi?

Ibadah

Hukum Menggosok Anggota Tubuh ketika Mandi

Ibadah

Kapan Membasuh Kedua Kaki ketika Mandi?