JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Hadist

Hadist Allah Tidaklah Tidur

عن أبي موسى الأشعري قال: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ لَا يَنَامُ، وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ، حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبْحَاتُ وَجْهِهِ مَا
انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

Dari Abu Musa al-Asy’ri berkata, Rasulullah berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan lima perkara, beliau berkata, “Sesungguhnya Allah tidaklah tidur dan tidak seharusnya Dia tidur. Dia Dzat yang berkuasa menurunkan timbangan amal dan mengangkatnya. Segala amalan pada waktu malam akan diangkat kepada-Nya sebelum amalan waktu siang dimulai. Dan segala amalan siang akan diangkat kepada-Nya sebelum amalan waktu malam dimulai. Hijab-Nya adalah cahaya. Sekiranya hijab itu dibuka niscaya keagungan Wajah-Nya akan membakar yang dipandang oleh-Nya.” (HR. Muslim No. 179)

Hadis ini termasuk di antara hadis-hadis yang komprehensif dalam membahas iman dan keyakinan, terutama berkaitan dengan keyakinan kepada Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia dan luhur. Tidak diragukan lagi, bahwa mengenal Allah adalah sumber hidayah dan kesuksesan di dunia dan akhirat, semakin seorang hamba mengenal Allah, maka dia semakin takut kepada-Nya, semakin beribadah kepada-Nya, dan semakin menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.

BACA JUGA:  \Keimanan Umar bin Khattab Disebutkan dalam Hadist Nabi

Maka tidak mengherankan, jika ini adalah salah satu pilar terbesar yang di atasnya dibangun dakwah para nabi shalawatullah wa-salamuhu, yakni dengan memperkenalkan Tuhan Yang Agung, dan sifat-sifat-Nya yang indah, luhur, lagi sempurna.

Mengenal Allah adalah pintu gerbang menuju hidayah dan jalan kembali kepada-Nya melalui ketaatan, ketundukan, kerendahan hati, dan ketaatan kepada perintah-Nya.

Mari kita telaah apa yang dikatakan oleh Abu Musa al-Asy’ari dalam hadis di atas, “Rasulullah berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan lima perkara”. Yakni, beliau berdiri di antara kami sebagai seorang khatib, pemberi nasihat , pendidik, dan pengajar.

Berdiri yang Nabi lakukan dengan kedua kakinya untuk menyampaikan nasihat kepada umatnya sebatas hanya untuk membahas iman kepada Allah, yaitu mengetahui Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Bahkan dalam berdirinya itu, Beliau tidak membahas perkara-perkara agama atau pun pembahasan besar lainnya.

Maka dari sini kita dapat mengambil faedah, bahwa manusia membutuhkan nasihat semacam ini, untuk mengajarkan mereka keimanan dan mengenalkan mereka kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang agung, yang menunjukkan kesempurnaan, keagungan, dan kebesaran-Nya.

Karena jika seorang hamba lemah dalam mengenal Allah di dalam hatinya, maka dia juga akan lemah dalam agamanya, lemah dalam kembali dan bersegera kepada-Nya, dan lemah juga rasa takutnya terhadap siksa dan kemurkaan-Nya jalla fi ‘ulah

Hadits di atas juga merupakan dalil yang penting dalam hal memberikan perhatian khusus terhadap akidah dalam pengajaran dan pendidikan, dengan menyediakan sesi khusus untuk mempelajari aqidah, membahas kitab-kitab terkait, dan mengkajinya di dalam majelis-majelis tersendiri dengan mengikuti tuntunan Rasulullah dan sunahnya, sebagaimana keterangan di dalam hadits di atas dan hadits-hadits lain yang komprehensif menjelaskan perkara ini, yang merupakan perkara paling besar, paling penting, dan paling utama.

Hadis ini juga merupakan hadis paling komprehensif di dalam bab ini bab mengenal Allah Tuhan Yang Maha Agung-ia khusus menjelaskan perkara tersebut. Seperti halnya Ayat Kursi, yang merupakan ayat terpenting di dalam al-Qur’an, ia dikhususkan untuk memperkenalkan Tuhan dan menyerukan tauhid.

Di dalam ayat Kursi disebutkan nama-nama Allah: lima nama-nama, dan dua puluh-an lebih sifat-sifat-Nya. Tidak ada ayat yang sebanding dengan ayat Kursi dalam menerangkan nama dan sifat Allah. Berikut adalah kisah Ubay bin Ka’ab dalam Shahih Muslim ketika Nabi bersabda kepadanya,

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ؛ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ، قَالَ: قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟، قَالَ: قُلْتُ: اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومِ، قَالَ: فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ: «اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ )

“Wahai Abu al-Mundzir, tahukah engkau ayat al-Qur’an mana yang paling agung?”

Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya.”

Kemudian beliau bertanya kembali, “Wahai Abu al-Mundzir, tahukah engkau ayat al-Qur’an mana yang paling agung?”

Akhirnya aku pun menjawab, “lalah Allah, tidak ada Tuhan selain-Nya, Yang Maha Hidup, Dzat yang senantiasa mengurus makhluk-Nya (QS. Al-Baqarah: 255).”

BACA JUGA: Tentang Hadist yang Dimansukh

Kemudian beliau menepuk dadaku seraya berkata: “Demi Allah, semoga dadamu dipenuhi dengan ilmu, wahai Abu Mundzir. ” (HR. Muslim No. 810.)

Yakni, ucapan selamat kepadamu atas ilmu yang agung yang telah Allah berikan kepadamu dan memuliakanmu. Karena kamu telah mengetahui bahwa ayat ini adalah ayat yang dikhususkan untuk menerangkan keesaan Allah, dan bukti-bukti-Nya, yang menjadikannya sebagai ayat yang paling agung di dalam al-Qur’an.

Sebagaimana ayat kursi maka begitu pula hadis di atas, yang mana ia telah dikhususkan untuk menerangkan perkara ini, bahkan beberapa ulama mengatakan, “Hadis ini merupakan bentuk lain dari kandungan Ayat Kursi, ia adalah rajanya hadis-hadis, sebagaimana Ayat Kursi adalah rajanya ayat-ayat al-Qur’an.” Sebagai penegasan akan hadis ini dan keagungan isi yang dikandungnya, juga ketika kita merenungkan hal-hal yang terangkum dalam hadis yang mulia ini, kita dapati bahwa hal itu sejalan dengan apa yang tercantum dalam Ayat Kursi dan ayat-ayat lain yang membahas bab yang sangat mulia ini, bab yang memperkenalkan tentang Tuhan. []

Sumber: Kumpulan  Hadis Seputar Keimanan / Penulis: Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr / Penerbit UFA Office  

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Hadist

Riyadhush Shalihin Hadist 12: Tawasul dengan Doa

Hadist

Riyadhush Shalihin Hadist 11: Niat Kebaikan dan Keburukan

Hadist

Riyadhush Shalihin Hadist 10: Menunggu Shalat dalam Masjid

Hadist

Hadits Qudsi ke-6 tentang Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam Banyak Membaca Subhanallahi wa Bihamdih, Astaghfirullah, Wa Atubu Ilaih