JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

Iffah

Seorang salafusholih yang bergelar Al-Miski karena tubuhnya yang wangi, Abu Bakar Al-Miski pernah ditanya, “Kami selalu mencium aroma wangi ketika bertemu dengan Anda, apa rahasianya?”

Al-Miski menjawab, “Demi Allah, aku tidak pernah memakai wewangian seumur hidupku. Adapun sebab tubuhku selalu wangi adalah; dulu ada seorang wanita yang menggodaku, hingga ia mampu mengajakku ke dalam rumahnya lalu mengunci pintunya, kemudian ia memaksaku agar aku mau melayani nafsunya, sehingga aku rasakan dunia terasa begitu sempit saat itu.

“Maka aku berkata kepadanya; aku ingin membersihkan diriku dulu. Lalu ia menyuruh pembantunya mengantarkanku ke kamar kecil. Ketika aku berada di sana, akupun langsung mengambil kotoran yang berada di dalam kamar kecil itu dan melumurkannya ke seluruh tubuhku, kemudian aku kembali menemui wanita tersebut dengan tubuh yang berlumuran kotoran dan sangat bau. Ketika ia melihatku, iapun terkejut dan menyuruh pembantunya untuk mengusirku dari rumahnya.

“Aku segera pulang,  kemudian mandi dan membersihkan diriku. Ketika aku tidur di malam harinya, aku bermimpi ada seseorang yang berkata kepadaku; Engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh siapapun, sungguh kami akan mengharumkan tubuhmu di dunia dan di akhirat. Ketika aku bangun maka aroma wangi menyelimuti diriku dan hal itu berlangsung sampai saat ini.” (Kitab Al-Jaza’ min Jinsil ‘Amal,  Al-‘Affani,)

Secara bahasa ‘iffah adalah menahan dan menjaga. Adapun secara istilah; menahan diri dari perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan demikian seorang yang ‘afif adalah orang yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwanya menginginkannya.

Di dalam Al Qur’an, disebutkan lafazh “Isti’faf” maksudnya adalah: “Permintaan untuk menjaga diri dari sebab-sebab kerusakan, menjauhkan diri dari perbuatan zina dan fitnah wanita.” Hal tersebut sebagaimana firman Allah Swt: “Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian diri sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (QS. An Nuur: 33)

Termasuk dalam makna ‘iffah adalah menahan diri dari meminta-minta kepada manusia.  Allah SWT berfirman:”Orang yang tidak tahu menyangka mereka itu adalah orang-orang yang berkecukupan karena mereka ta’affuf .” (QS. Al Baqarah: 273)

Dalam hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri ra mengabarkan bahwa orang-orang dari kalangan Anshar pernah meminta-minta kepada Rasullah ﷺ. Tidak ada seorang pun dari mereka yang minta kepada Rasulullah ﷺ melainkan beliau berikan hingga habislah apa yang ada pada beliau.

Rasulullah ﷺpun bersabda kepada mereka: “Apa yang ada padaku dari kebaikan tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, maka Allah akan memelihara dan menjaganya dan siapa yang bersabar dari meminta-minta, maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya, maka Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Itulah dua makna dari ‘iffah, yaitu menahan dan menjaga diri dari syahwat kemaluan, dan menahan diri dari syahwat perut dengan cara meminta-meminta.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Antara Orang Zuhud dan Fuqaha

Kajian

Talbis Iblis dalam Berpegang Teguh terhadap Sesuatu yang Tidak Diwajibkan

Kajian

Menyampaikan Salam: Adab, Amanah, dan Tanggung Jawab dalam Syariat

Kajian

Kewajiban Shalat dan Orang Kafir

Leave a Reply