JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Baiti Jannati

Istri Durhaka Berbuah Dosa

Yang paling “bengkok” dari wanita adalah lisan dan perkataannya.

Oleh karena itu gangguan yang paling sering didapatkan oleh suami dari istrinya adalah gangguan lisan dengan berbagai bentuknya.

Di antara berupa gangguan lisan yang sering terjadi:

UCAPAN KETUS
cerewet sampai berbusa-busa,
komentar negatif yang tidak kunjung berhenti karena demikian panjang seperti kereta api saat jengkel dengan suami,

BACA JUGA: Suami Harus Sabar Menghadapi Istri

diksi-diksi yang sangat tepat untuk membuat hati suami tersakiti,
berulang-ulang menyebutkan secara detail kekurangan suami sejak awal pernikahan,
hobi menyalahkan suami dalam berbagai hal yang dilakukan suami tanpa persetujuan istri dll.

Menyikapi gangguan istri yang tak kunjung berhenti ada suami-suami hebat sebagaimana ulama di atas yang biasa disebut Ibnu Abi Zaid al-Qarawāni, seorang ulama besar Mazhab Maliki di zamannya yang memiliki gelar “Imam Malik kecil”. Beliau wafat di kota Qairawān Tunisia pada tahun 386 H.

Ada juga suami yang pada akhirnya kehabisan kesabaran menghadapi istri semisal ini sehingga dia menceraikannya.

Opsi cerai dalam hal ini bukanlah hal yang tercela bahkan opsi yang Nabi benarkan.

Diantara motivasi yang mendorong untuk tetap mempertahankan istri yang lisannya demikian menyakitkan hati suami adalah kesadaran bahwa ini adalah sebuah musibah yang sangat mungkin terjadi sebagai dampak dosa-dosa yang telah dilakukan di masa terdahulu.

Oleh karena itu, cerai belum tentu opsi terbaik karena tidak menutup kemungkinan setelah cerai suami malah mendapatkan ‘musibah’ dan derita yang jauh lebih berat.

Dampak dosa di dunia tidak mesti berupa hal-hal yang demikian sadis dan mengerikan semisal ketabrak mobil atau tersambar halilintar.

Boleh jadi omelan istri adalah bagian dari dampak negatif dosa.

Demikian pula sebaliknya sikap kasar suami boleh jadi adalah buah dari dosa yang dilakukan oleh istri.

BACA JUGA:  Suami Wajib Menafkahi Istri walaupun Istrinya Adalah Seorang yang Berkecukupan

Seorang muslim ketika mengevaluasi diri lebih cenderung mencari faktor kesalahan dari diri sendiri dan tidak gemar menjadikan orang lain sebagai kambing hitam.

Orang yang memiliki kedudukan istimewa dalam ilmu dan takwa itu belum tentu mendapatkan nikmat rumah tangga yang bahagia.

Bahkan boleh jadi ujian terberat yang didapatkan malah dari pasangan istri/suami dan anak.

Rumah tangga yang awet itu belum tentu karena cinta boleh jadi karena pertimbangan yang lain semisal keberadaan anak-anak, khawatir mendapatkan pengganti yang lebih menyakitkan, dan lainnya. []

Oleh: Ustadz Aris Munandar hafidzahullah. Source : t.me/hamalatulqurancom

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: wa.me/6285860492560 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam20
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Baiti Jannati

Ketentuan dalam Pemberian Nafkah

Baiti Jannati

Bagaimana Meminang Hati Anakmu?

Baiti Jannati

Surga Itu Sangat Dekat dengan Orang yang Berumah Tangga

Baiti Jannati

Hari Ibu Itu Setiap Hari Sepanjang Tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *