Saya merenung tentang bumi dan apa yang ada di permukaannya Tampaklah banyak kerusakan. Orangorang kafir kebanyakan menguasai dunia, sedangkan umat Islam jauh lebih sedikit.
Dalam pandangan saya, kaum Muslimin telah disibukkan hartanya namun lupa akan Pemberi rezekinya. Akibatnya, mereka berpaling dari ilmu yang bisa mengantarkannya mengenal Rabb.
Para pemimpin disibukkan perintah dan suruhan serta kelezatan yang begitu banyak tersedia, namun lupa mensyukurinya. Tak seorang pun berani memberi nasihat kepadanya. Yang muncul justru pujianpujian yang semakin membuat mereka larut dalam hawa nafsu.
Seharusnya, sebuah penyakit dilawan dengan obat penangkalnya. Umar bin alMuhajir bercerita, “Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berpesan kepadaku, Jika engkau telah melihatku berpaling dari kebenaran, tariklah aku dan guncangkanlah tubuhku. Aku bertanya keheranan, ‘Ada apa denganmu, wahai ‘Umar?”
Umar bin Khaththab juga pernah berkata, “Semoga rahmat Allah selalu dilimpahkan kepada mereka yang menunjukkan kepada kita aib dan kekurangan diri kita.”
BACA JUGA: Hawa Nafsumu
Orang yang paling banyak memerlukan nasihat adalah para penguasa, karena hampir semua aparatnya mabuk dalam hawa nafsu dan kenikmatan dunia, lagi pula diliputi kebodohan. Mereka sangat kebal dengan dosa, bahkan telah mati rasa. Mereka tidak juga malu memakai sutra, atau minum minuman keras, hingga ada yang berkata, “Apa yang diker jakan aparat itu?” Bekerja sama dengan orangorang yang zhalim adalah perilaku mereka seharihari.
Orang-orang kampung tenggelam dalam jurang kebodohan. Demikian pula orangorang kota, mereka berlumuran dosa. Mereka melalaikan shalat, bahkan para wanitanya shalat sambil duduk.
Saya kemudian merenungi kondisi para pedagang. Mereka juga mabuk ketamakan, hingga tak peduli dari mana harta diperoleh. Riba merayap di mana saja. Mereka tidak mau mengeluarkan zakat. tak ada yang merasa takut meninggalkan nya, kecuali mereka yang dirahmati Allah
Saya merenungi pula para pemilik modal. Mereka adalah orangorang yang saling menipu, mengurangi timbangan, dan merugikan yang lain. Meskipun demikian, mereka terus saja tenggelam dalam kebodohan
Saya juga memerhatikan orang orang yang memiliki anak. Mereka se ringkali membebani anaknya dengan pe kerjaanpekerjaan untuk mencari nafkah, sebelum mereka sempat mengajari so pan santun dan tata krama hidup.
Saya menyimak hal lain tentang keadaan kaum wanita. Tampak sekali tipis nya agama mereka. Di antara mereka banyak yang bodoh. Tak banyak dari mereka yang mengerti akan urusan akhirat, kecuali yang dapat perlindungan dari Allah Saya lalu menggugat, “Jika demikian keadaannya, siapakah yang tersisa dan sanggup untuk berbakti kepada Allah?”
Saya lalu mengarahkan pandang kepada ulama, orang-orang terpelajar, ahli ibadah, dan para mutazahhid. Namun, kebanyakan ahli ibadah dan mutazahhid beribadah tanpa dasar ilmu, mabuk penghormatan, dan bangga jika tangantangan mereka diciumi pengikutnya Ada di antara mereka yang, jika membutuhkan sesuatu dari pa sar, tidak mau keluar rumah untuk membelinya sendiri karena khawatir wibawanya akan jatuh.
Rasa gengsi mereka semakin meninggi hingga segan menjenguk orang-orang sakit, tak pernah mengantarkan jenazah, kecuali yang mereka pandang terhormat. Mereka juga tidak saling mengunjungi, bahkan lebih dari itu, sa ling membenci. Mereka kini terjerat atur anaturan yang mereka buat buat sendiri, bahkan menuhankannya!
Seringkali mereka mengeluarkan fatwa tentang suatu hal yang tidak dikuasai agar dianggap pintar. Mereka ingin tampil dan selalu tampil Tidak jarang mereka menghina para ulama karena dianggap cinta akan dunia. Mereka tidak tahu, ke gigihan berusaha mencari rezeki dengan halal adalah sebuah kehormatan. Yang tercela di dunia ini justru keangkuhan dan penghinaan yang mereka lakukan
Setelah saya perhatikan, hanya sedikit ulama dan kalangan terpelajar yang mempunyai kesungguhan. Di antara tanda kesungguhan adalah mencari ilmu untuk beramal, sementara kebanyakan menjadikan ilmu hanya sebagai alat untuk mencari pekerjaan dan mengejar kedudukan. Mereka berbondongb mencari ilmu agar diangkat menjadi hakim erbondongbondong atau hanya ingin membuat dirinya berbeda dengan orang lain dan merasa cukup dengan hal itu.
Kebanyakan ulama telah terbuai hawa nafsu dan menggunakannya seba gai senjata. Mereka lebih mengutamakan sesuatu yang menghalangi untuk mendapat ilmu dan dapat menjerumus kannya pada halhal yang dilarang aga ma. Mereka nyaris tidak bisa merasakan manisnya berhubungan dengan Allah.
Keinginannya hanyalah ingin mengatakan, “Cukup!”
Ketahuilah, Allah SWT tiada akan pernah membiarkan bumi sepi tanpa orang yang taat kepadaNya, yang memadukan ilmu dengan amal, yang mengerti akan hakhakNya dan takut kepadaNya. Merekalah poros dunia ini.
Begitu pentingnya mereka, sehingga jika mereka meninggal, Allah akan menggantikannya. Mungkin saja sebe lum mereka pergi, telah muncul generasi pengganti. Orangorang seperti ini tiada mungkin hilang dari dunia.
Kedudukan mereka laksana nabi. Merekalah orangorang yang menegak kan prinsip agama, sangat menjaga batasan-batasannya, sekalipun, mungkin saja, ilmunya terbatas dan tidak cukup luas pergaulannya. Adapun orangorang yang sempurna sangatlah sedikit jum lahnya. Satu orang seperti itu mungkin hanya muncul dalam sekian ratus atau bahkan ribu tahun.
Saya lalu menelusuri kehidupan para ulama salaf. Siapakah di antara mereka yang memadukan ilmu dengan amal, sehingga menjadi mujtahid dan suri teladan bagi orangorang ahli ibadah? Saya menemukan tiga orang, yaitu al-Hasan al-Bashri, Sufyan ats-Tsauri, dan Ahmad bin Hanbal. Saya telah menulis riwayat hidup tiap-tiap mereka dalam buku yang terpi sah. Namun, saya menolak memasukkan Said bin alMusayyib dalam karya saya.
Memang, ulama salaf banyak sekali jumlahnya. Namun, kebanyakan dari mereka memiliki keahlian dalam suatu bidang ilmu tertentu tetapi tidak terlalu menonjol di sisi lainnya. Ada pula yang sangat menonjol keilmuannya dan ada pula yang masyhur dengan amalnya.
BACA JUGA: 5 Cara Atasi Nafsu Syahwat
Terlepas dari itu semua, mereka sungguh memiliki ilmu yang mumpuni dan tangguh. Tidak akan menyesal orang yang mau mengikuti jejak me reka atau bahkan melebihinya, walaupun yang membuka jalan pertama kali pastilah memiliki keutamaan sendiri. Kita bisa menyimak kembali kisah Khidir yang mengajari Musa halhal yang tidak diketahuinya. Khazanah Allah sangatlah luas dan karuniaNya tidak pernah diberikan hanya kepada satu orang.
Saya pernah menyimak kisah tentang Ibnu ‘Uqail. Dia berbicara tentang dirinya. “Suatu kali, aku membuat sebuah perahu. namun setelah itu rusak. Saya tahu bah wa ada yang salah dengan dirinya, namun apa hendak dikata? Betapa banyak orang yang berbanggabangga diri namun disingkapkan orang lain tabir kelemahannya. Betapa banyak generasi penerus. yang jauh lebih dewasa pikiran dan perbuatan daripada generasi pendahulunya
Dikatakan dalam sebuah syair:
Malam dan siang selalu mengandung. namun Tiada yang tahu selain Allah apa yane akan dilahirkan keduanya
Kebanyakan ulama telah terbuai hawa nafsu. Mereka lebih mengutamakan sesuatu yang menghalangi untuk mendapat ilmu. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


