Saya merasakan kecenderungan diri pada syahwat seringkali melampaui batas, sehingga akal, hati, dan pikiran tidak lagi lurus. Saat itulah manusia tidak lagi sudi mendengarkan nasihat.
Suatu ketika, saya menghardik nafsu ini saat kecenderungannya pada syahwat mencapai puncak. “Celaka engkau! Berhentilah! Aku akan katakan sesuatu kepadamu, lalu lakukanlah apa yang terlintas di dalam benakmu!”
Nafsu saya berkata, “Katakanlah, aku akan mendengarkan.”
“Katakanlah, mengapa kecenderung anmu pada halhal yang mubah begitu lemah, sedangkan pada hal-hal yang haram begitu bersemangat? Menurutku. ada dua hal yang terjadi padamu. Seperti nya, sesuatu yang manis justru engkau anggap pahit. Segala perkara yang mu bah sangatlah terbuka untukmu, tetapi jalannya terasa sulit bagimu karena, mungkin, engkau tidak memiliki bekal yang cukup untuk menggapainya. Atau bisa saja engkau tidak mendapatkan ma ta pencarian yang memadai, sedangkan waktumu hilang dan terbuang begitu saja. Setelah itu, jika harta itu telah engkau peroleh, pikiran dan akalmu tersita untuk mengurusinya.”
BACA JUGA: Jangan Bangga Melakukan Dosa
“Rasa takut dan cemas akan selalu menghantuimu Engkau takut kekurangan makanan, padahal makanan yang berlebihan justru akan mendatangkan penyakit bagimu. Engkau pun cemas, pergaulanmu dengan sesa ma dapat berujung pada rasa bosan dan perpisahan,
“Sebaliknya, wahai nafsuku, sesuatu yang pahit di dunia ini justru engkau anggap manis. Halhal yang haram memang tampak begitu manis. Namun, di balik itu se mua ada celaka yang berujung pada siksaan dan hinaan di dunia dan akhirat.”
Anda akan merasakan, bahwa mengendalikan hawa nafsu memiliki kenikmatan yang tiada terkira. Kenikmatan itu akan semakin terasa saat nafsu semakin kuat dan keras ditekan. Orang yang bisa mengatasi gejolak hawa nafsu pantaslah dimuliakan dan disebut pemenang. Sebaliknya, seseorang yang dikalahkan hawa nafsu menjadi pecundang.
BACA JUGA: Apa Bekal Anda?
Berhati-hatilah. Jangan melihat segala sesuatu yang menarik hati dengan pandangan yang selalu baik. Seorang pencuri pastilah merasakan kenikmatan saat mencuri. Namun, di saat itu ia tak sempat berpikir tentang hukuman potong ta ngan yang bakal diterima. Mestinya, kita harus melihat dengan mata dan hati, sehingga bisa merenungi akibat akibat yang akan muncul.
Suatu ketika, kenikmatan dan kelezatan bisa saja berubah menjadi petaka, baik disebabkan rasa bosan, munculnya penyakit, maupun hilangnya orangorang yang sangat dicintainya. Maksiat pertama bagai makanan yang ditelan orang yang lapar, namun tak pernah merasa kenyang, malah membuatnya semakin lapar. Hendaklah Anda ingat, tatkala Anda bisa menekan hawa nafsu, akan banyak hikmah dan keselamatan yang Anda peroleh dari kekuatan kesabaran dalam menghadapi gejolaknya. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


