Hari itu, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memasuki ruang sederhana tempat Rasulullah ﷺ beristirahat. Tak ada kemewahan, tak ada hiasan, hanya sebuah tikar dari pelepah kurma yang membekas di punggung mulia beliau. Bekas-bekas itu seperti guratan saksi, bahwa pemimpin seluruh manusia tidur di atas sesuatu yang tak layak untuk seorang raja dunia.
Mata Umar pun berkaca, hatinya pecah. Air matanya jatuh, membasahi tubuh Rasulullah ﷺ. Beliau yang tengah terbangun menatap sahabatnya itu dengan penuh kasih.
“Apa yang membuatmu menangis, wahai Umar?” tanya beliau lembut.
Dengan suara tersendat, Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis? Tikar ini membekas pada punggung engkau. Aku tidak melihat apa pun di rumahmu. Padahal para raja Persia dan Romawi tidur di atas kasur sutra, tinggal di istana megah. Sedangkan engkau, utusan Allah, kekasih-Nya, justru di sini…”
BACA JUGA: Detik-detik Umar bin Khattab Masuk Islam
Rasulullah ﷺ tersenyum, senyum yang menenangkan sekaligus meneguhkan jiwa.
“Wahai Umar, mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan. Tak lama lagi akan sirna. Tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia, sementara kita memiliki akhirat?”
Kata-kata itu bagaikan air jernih yang menyejukkan bara di dada Umar.
Beliau lalu menambahkan perumpamaan yang menggetarkan,
“Dunia ini bagiku hanyalah seperti seorang musafir yang berteduh sebentar di bawah pohon, lalu meninggalkannya.”
Kisah ini termaktub dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Ia adalah potret nyata bagaimana Rasulullah ﷺ menanggalkan gemerlap dunia. Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata: “Tidak pernah kenyang keluarga Muhammad dari roti gandum selama tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari, no. 5416).
Kesederhanaan beliau bukan karena tak mampu, melainkan karena hati beliau terikat pada janji Allah. Dunia bagi beliau hanyalah ladang singgah, bukan tujuan abadi.
Umar menangis bukan sekadar melihat tikar yang kasar, tapi karena menyadari betapa jauhnya pandangan manusia tentang mulia. Raja-raja dunia mengira kemuliaan ada pada istana. Rasulullah ﷺ menunjukkan, kemuliaan sesungguhnya adalah hati yang terpaut pada Allah.
Al-Hasan al-Bashri pernah berucap, “Sesungguhnya orang mukmin itu adalah tawanan di dunia, ia bekerja keras hingga kelak bebas di akhirat.” Ucapan ini seakan menggaung kembali dalam momen tangisan Umar.
BACA JUGA: Fakta-fakta Umar bin Khattab
Di balik kesederhanaan Rasulullah ﷺ, tersimpan pesan: jangan biarkan dunia membelenggu hati. Dunia hanyalah bayangan yang akan sirna ketika matahari terbenam. Yang kekal hanyalah akhirat.
Tangisan Umar adalah tangisan kita. Tangisan yang lahir dari rasa malu—malu pada kesenangan fana yang kita genggam erat, sementara Rasulullah ﷺ justru mengajarkan pelepasan.
Maka, tidakkah kita rela dunia menjadi milik mereka yang mengejarnya, sementara kita menyiapkan diri untuk negeri abadi?
Sebab dunia ini hanyalah tikar pelepah kurma: kasar, sementara, dan cepat usang. Tapi akhirat adalah istana yang tak lekang, bagi mereka yang rela bersabar menanti.
Sumber: Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim. Yaumun fi Bait ar-Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam, Sehari di Kediaman Rasulullah ﷺ. Jakarta: Darul Haq
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


