Allah subḥānahu wa ta‘ālā memuji hamba-hamba-Nya yang berinfak, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274).
Ayat ini menegaskan bahwa berinfak baik secara terang-terangan maupun secara rahasia sama-sama berpahala. Akan tetapi, ada nilai yang lebih tinggi bagi mereka yang mampu menyembunyikan amalnya dari pandangan manusia, lalu mempersembahkannya hanya untuk Allah.
Sayangnya, sering kali manusia terjebak pada riya’ — amal yang dilakukan dengan tujuan agar dilihat orang lain. Seolah-olah seseorang baru mau bersedekah, beribadah, atau beramal saleh ketika ada yang menyaksikan. Namun, ketika berada di tempat sepi tanpa pengawasan manusia, amal itu hilang seketika. Padahal, hakikat amal adalah keikhlasan hati yang hanya ditujukan kepada Allah.
BACA JUGA: Amal Kebaikan sebagai Kekasih
Ibnu Athaillah al-Iskandari rahimahullāh pernah berkata dalam al-Ḥikam:
“Pendamlah dirimu dalam-dalam. Karena benih yang ditanam kurang dalam, hasilnya tidak akan bagus.”
Kata-kata hikmah ini memberi isyarat bahwa amal yang tersembunyi, jauh dari sorotan manusia, biasanya menghasilkan buah yang lebih berkah dan lebih diterima oleh Allah. Sama seperti benih yang ditanam semakin dalam, maka akarnya akan kokoh dan buahnya lebih berkualitas.
Para ulama salaf juga menegaskan keutamaan merahasiakan amal. Imam az-Zuhri berkata:
“Menyembunyikan amal adalah hiasan bagi seorang mukmin. Sedangkan menampakkan amal tanpa sebab syar‘i bisa menjadi tanda lemahnya keikhlasan.”
Perumpamaan yang sederhana bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Batang bambu yang lurus justru terletak di bagian dalam rumpun, sedangkan yang tampak di luar biasanya bengkok. Begitu pula dengan singkong; yang paling lezat tersimpan di dalam tanah, sementara yang berada dekat permukaan cenderung keras dan kurang enak. Demikianlah amal manusia: semakin tersembunyi dari sorotan, semakin besar nilainya di sisi Allah.
Meski begitu, tidak berarti menampakkan amal selalu tercela. Selama niatnya ikhlas karena Allah, maka amal yang terlihat orang tetap diterima. Bahkan dalam kondisi tertentu, menampakkan amal bisa menjadi sarana untuk memotivasi orang lain. Allah berfirman:
“Jika kalian menampakkan sedekah, itu baik. Dan jika kalian menyembunyikannya lalu memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian…” (QS. Al-Baqarah: 271).
Ayat ini menjelaskan, menampakkan amal memiliki nilai baik, tetapi menyembunyikannya lebih utama.
BACA JUGA: 4 Keutamaan di Balik Sedekah
Karena itu, seorang mukmin hendaknya berusaha menanam amalnya dalam-dalam, menyembunyikannya semampu mungkin, dan tidak menjadikannya sebagai bahan pameran. Jika pun orang lain mengetahui lalu memuji, biarlah itu menjadi tambahan nikmat dari Allah, bukan tujuan utama amal tersebut.
Sebagaimana dinasihatkan Sufyān ats-Tsaurī rahimahullāh: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi seorang mukmin daripada niatnya. Karena niat bisa terus berubah-ubah.”
Maka, menjaga niat dan mengikhlaskan amal adalah jalan selamat menuju ridha Allah. Amal tersembunyi yang murni karena Allah akan lebih mendekatkan kita kepada-Nya dibanding amal yang dilakukan demi sorotan manusia. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


