Ibnul Jauzi berkata, Pada masa lalu, yang menjadi penceramah dan pemberi nasihat adalah para ulama dan ahli fiqih. Maka itu Abdullah bin Umar pernah hadir di majelis Ubaid bin Umair, lantas Umar bin Abdul Aziz pun pernah hadir di majelis sang pemberi nasihat.
Namun kemudian peran mulia ini menjadi hina ketika orang-orang jahil berani mengambil alih, sehingga mereka yang memiliki kedudukan tidak lagi mau hadir di majelis mereka. Justru orang-orang awam dan para wanitalah yang menyukai majelis seperti itu.
Para penceramah, pemberi nasihat, serta penutur kisah tidak membekali diri dengan ilmu syar’i. Mereka juga lebih memilih cerita-cerita dan/atau kisah-kisah yang membuat orang-orang jahil dan awam terkagum-kagum. Akibatnya, bermuncullah berbagai macam bid’ah.
Kami telah menyebutkan kerusakan mereka di dalam al-Qushshash wal Mudzakkirin. Di sini, kami hanya akan menyebutkan sebagiannya.
BACA JUGA: Talbis Iblis terhadap Ahli Hadits
Mereka memalsukan hadits-hadits targhib wat tarbib (motivasi dan ancaman). Iblis membuat talbis atas mereka sehingga mereka menyatakan: “Kami bermaksud memberi anjuran kepada manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah mereka dari keburukan.”
Ini merupakan pelanggaran terhadap syariat. Pasalnya dengan perbuatan demikian, mereka menganggap syariat Islam itu masih kurang dan perlu disempurnakan. Mereka melupakan sabda Rasulullah:
(( مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ))
“Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, silakan dia mengambil tempat duduknya di Neraka.”
Di antara talbis iblis lainnya adalah mereka sengaja mencari-cari kalimat yang bisa memotivasi jiwa dan menggairahkan hati. Mereka membuat-buat berbagai seni berbicara. Anda dapat melihat mereka mendendangkan syair-yair ghazal yang bercerita tentang mabuk cinta, Iblis memperdaya mereka whingga mereka berkata “Maksud kami tidak lain ingin menasihati mereka agar cinta kepada Allah SWT.”
Padahal kebanyakan yang datang ke majelis mereka adalah orang orang awam, yang hati mereka sarat dengan hawa nafsu. Karenanya, tersesat dan menyesatkanilah para penceramah, pemberi nasihat, dan para penutur kisah itu.
Sebagian dari mereka ada yang menampakkan kesan penghayatan dan kekhusyuan melebihi apa yang ada dalam hatinya. Iou seriadi karena banyaknya orang yang datang kepada mereka, yang tentunya menuntut kepura-puraan. Sehingga, jiwa mereka pun berusaha mengkreasi tangisan dan kekhusyuan berlebih. Siapa saja di antara mereka ada yang berdusta, niscaya dia merugi dunia akhirat. Dan suapu saja yang ju maka kejujurannya tidak terlepas dari riya yang menosdainya.
Di antara mereka ada yang melakukan gerakan gerakan mengiringi bacaan yang dilagukan. Nada-nada yang mereka perlihatkan apabila di zaman ini menyerupai nyanyian, sehingga ia lebih layak dikatakan haram daripada makruh. Sang qari bernyanyi, sedangkan penceramah menyanyikan kisah asmara dengan bertepuk tangan dan kedua kakinya menghentak hentak mirip orang mabuk.
Hal itu membuat jiwa bergejolak serta membangkitkan semangat. Laki-laki ataupun wanita berteriak histeris sambil merobek-robek pakaian yang dikenakan. Hal itu terjadi karena nafsu yang terpendam. Kemudian mereka keluar, lantas menyerukan: “Majelis ini adalah majelis yang bagus.” Maksud bagus itu adalah perbuatan haram yang dilakukan padanya.
Di antara mereka juga ada yang melakukan seperti yang disebutkan di atas, tapi dia mendendangkan syair-syair ratapan terhadap orang-orang yang telah mati. Tujuannya menggambarkan ujian yang telah alami lagi menyinggung keterasingan dan orang yang mati dalam keadaan terasing.
Dia membuat kaum wanita menangis, dan majelis berubah menjadi majelis ratapan kematian. Padahal, seharusnya ia mengingatkan untuk bersikap sabar atas kematian orang tercinta. Bukan malah mendorong untuk bersedih hati.
Di antara mereka ada yang berani berbicara mengenai esensi sikap zuhud dan kecintaan kepada Allah. Lalu, Iblis membisikkan talbis ke dalam hatinya: “Sungguh, kamu ini termasuk orang yang memiliki sifat demikian, karena kamu tidak kuasa menyifati hingga kamu benar-benar mengetahui apa yang kamu sifati itu, dan kamu telah menempuh jalan yang seharusnya ditempuh.”
Cara menyingkap kedok talbis Iblis ini adalah dengan menjelaskan bahwasanya upaya menyifati Allah juga termasuk ilmu, adapun suluk bukanlah ilmu.
Di antara mereka ada yang berbicara mengenai berbagai bencana dan penyimpangan yang keluar atau bertentangan dengan syariat Islam. Mereka mengungkapkan syair-syair kasmaran, yang tujuannya ialah memperbanyak histeria di majlisnya, sekalipun didasari oleh ucapan yang bathil.
Cukup banyak dari mereka yang memperindah ucapan dengan ungkapan yang tidak punya makna sama sekali. Mayoritas pembicaraan mereka hanya seputar Musa dan Gunung Thur, atau ihwal Yusuf dan Zulaikha. Hampir tak pernah mereka menyinggung perkara-perkara wajib dan tidak pula mencegah manusia dari perbuatan dosa.
Jika demikian, kapan pelaku zina dan pemakan riba itu bertaubat kepada Sang Pencipta?
Jika demikian, kapan seorang wanita mengetahui hak suaminya dan dapat menjaga shalatnya?
Alangkah jauh kebaikan syariat tersebut dapat tercapai apabila mereka tetap bersikap demikian!
Mereka mengabaikan syariat, menaruhnya di belakang. Maka jualan mereka pun laris manis; karena kebenaran itu memang berat disampaikan, sedangkan kebatilan sangatlah ringan disebarkan.
BACA JUGA: Talbis Iblis terhadap Ahli Qiraat atau Qari
Di antara mereka itu ada yang mengajak manusia untuk bersikap zuhud terhadap dunia serta melaksanakan shalat malam, tapi dia sendiri tidak menjelaskan kepada kalangan awam tentang hakikat zuhud dan shalat malam. Sehingga terkadang ada seseorang dari mereka yang bertaubat lalu menyendiri atau pergi ke gunung, sementara keluarganya dia tinggalkan tanpa jaminan nafkah.
Sebagian mereka menjelaskan kepada manusia tentang perlunya berharap kepada Allah serta tamak atas apa yang ada di sisi-Nya. Namun dia tidak memadukannya dengan sikap yang bisa menjadikan seseorang takut kepada Allah serta bersikap waspada. Akibatnya, orang-orang semakin berani untuk berbuat kemaksiatan. Apa yang dia katakan itu didukung dengan kecenderungannya kepada dunia, yang terlihat dari kendaraannya yang mewah dan pakaiannya yang mahal. Maka, dia merusak hati manusia dengan perkataan dan perbuatannya. []
Sumber: Al-Muntaqa An-Nafis min Talbîs Iblîs (Talbis Iblis – Tipu Daya dan Perangkap Iblis ddalam Upaya Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Kehancuran / Penulis: Ibnul Jauzi / Penerbit: : Dar Ibnul Jauzi Riyadh KSA / Cet. I 1429 Η / Pustaka Imam Syafi’i / Cetakan Keenam Jumadil Ula 1442 H / Desember 2020 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


