JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

Kisah Anak Durhaka: Penyesalan Tiada Guna

Kisah Anak Durhaka

Sebut saja namanya Munir’. la mengisahkan, “Aku adalah anak laki-laki satu-satunya di antara tiga orang saudara perempuanku. Sejak kecil ibuku mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya padaku agar kelak aku bisa menjadi pengganti ayahku yang meninggal sewaktu aku masih kecil. Saat itu usia ibuku 25 tahun.

“Ibuku menolak siapa saja yang ingin menikahinya agar dapat berkonsentrasi untuk merawatku dan tiga orang saudara perempuanku. Ibuku mengatakan kepada semua kerabatnya bahwa dia akan mencurahkan hidupnya hanya untuk mendidik anak-anaknya. Dia tidak ingin menikah lagi agar hal tersebut tidak menjadi faktor kesengsaraan kami.

“Untuk menafkahi kami, ibuku bergantung pada gaji pensiunan ayah yang sangat terbatas di samping mendapat sedikit bantuan dari keluarganya. Meskipun demikian, ia berusaha mengatur biaya pengeluaran dengan baik. Jangan sampai kami berbeda dengan anak-anak lainnya dalam mendapatkan sesuatu.

“Kemudian ketiga saudara perempuanku menikah sehingga tinggallah aku sendiri di rumah bersama ibuku yang meliputiku dengan seluruh kasih sayang dan perhatiannya. Ketika aku telah menjadi seorang pemuda yang menginjak dewasa, ibuku memintaku untuk segera menikah hingga dia dapat melihat anak-anak kecilku, juga hatinya menjadi senang dengan mendidik mereka, seolah-olah dia menjadi sosok ibu selamanya.

BACA JUGA:  Tanda Anak Durhaka

“Pada awalnya aku menolak permintaan itu karena khawatir hidupku akan disibukkan oleh istri yang kadang bisa mengambil sebagian dari perhatianku yang seluruhnya tertuju untuk menjaganya. Namun karena ibu mendesakku terus-menerus, aku pun dengan segan menyetujuinya. Aku pun meminta kepada beliau mencarikan calon istri yang sekufu, yang senang padanya dan mau hidup bersamanya. Dengan begitu, aku tidak akan berpisah dengan ibu selamanya.

“Namun, dalam proses tersebut, aku dikejutkan oleh kakak perempuanku yang paling besar yang datang ke rumah bersama tiga orang anaknya untuk tinggal bersama ibuku, setelah suaminya menceraikannya. Maka bertambahlah beban belanja ibuku, meskipun ditambah dengan gajiku yang tak seberapa yang aku berikan padanya, agar dapat dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Aku mengira urusan kakakku ini akan mengalihkan perhatian ibu dari perkara pernikahanku sampai kondisi ekonomi kami membaik. Namun ternyata, ibuku tetap berkomitmen melanjutkan rencana pernikahanku hingga kebahagiaanku dapat terwujud. Ibu mengatakan bahwa ia akan mengerti bagaimana mengatur biaya pengeluaran yang tidak terduga bagi tiga orang anak saudariku, sebagaimana yang dahulu telah dia lakukan pada kami dengan gaji pensiunan bapakku yang sangat terbatas.

“Benar, dia telah memilih salah seorang dari kerabatku untuk menjadi istriku. Pilihannya agar aku rampungkan perkara pernikahanku agak mengherankan. Dia mensyaratkan pada keluarganya agar istriku dapat tinggal di rumah ibuku.

“Beberapa bulan setelah pernikahanku, terjadilah percekcokan antara istriku dengan kakak perempuanku.

“Karena ikatan perasaanku pada istriku, aku pun selalu membelanya tanpa melukai perasaan kakak perempuanku. Setahun setelah pernikahanku, aku pun dikejutkan bahwa istriku juga berselisih dengan ibuku. Dengan cara yang cukup rumit akhirnya aku berhasil menyelesaikan permasalahan keduanya, bahwa keduanya bersalah. Demikianlah permasalahan itu berlalu tanpa ada ganjalan apapun dalam jiwa.

“Namun setelah tiga tahun berlalu, istriku telah melahirkan dua orang anak, dan mulailah permasalahan-permasalahan di dalam keluarga semakin meruncing. Penyebabnya adalah keinginan istriku untuk mendapatkan bagian yang besar dari rumah ibuku. Itu adalah perkara yang menimbulkan kemarahan ibuku, saudara perempuanku, juga anak-anaknya. Permasalahan itu pula yang menjadi penyebab adanya percekcokan yang berkelanjutan yang tidak dapat kuselesaikan kecuali dengan terus menerus meminta persetujuan istriku agar mau menyewa rumah yang terpisah untuknya.

“Dan benar, setelah tarik ulur yang cukup lama akhirnya istriku setuju untuk menyewa satu rumah khusus untuk kami.

“Keputusan ini menimbulkan kemarahan ibuku. Ibu tidak berhenti menangis selama dua hari karena kepergianku. Ibu baru berhenti menangis setelah aku beritahu bahwa aku akan mengunjunginya setiap pekan, juga akan memberikan bantuan materi sebagaimana yang telah aku berikan padanya untuk biaya kebutuhan keluarga.

“Aku menepati janjiku ini selama empat bulan pertama dari kepergianku. Setelah itu, kunjunganku mulai berkurang karena adanya berbagai kesibukan, di samping istriku menganggap kunjunganku ini terlalu sering. Maka tidak ada jalan lain bagiku selain memperjarang kunjunganku pada ibuku menjadi setiap bulan hingga tidak terjadi perselisihan baru di dalam keluarga.

“Kemudian, karena adanya desakan dari istriku untuk memperbarui perabotan rumah tangga dengan cara mengangsur setiap bulan, yang mengakibatkan penyusutan pendapatanku. Hal ini pun mulai berdampak pada bantuan bulanan yang aku berikan pada ibuku. Akhirnya, aku mengunjungi beliau dua bulan sekali untuk memberinya uang yang jumlahnya lebih sedikit dari sebelumnya.

“Ibuku tidak berkomentar apapun tentang perkara ini. Beliau menerima pemberianku dengan rasa puas sambil berdoa untukkku. Sekilas dalam kunjunganku yang singkat itu aku perhatikan kondisi materinya kekurangan. Terutama setelah anak-anak saudara perempuanku semakin besar dan kebutuhan harian mereka bertambah. Sayangnya, setiap kali aku mencoba berdialog dengan istriku untuk menghemat biaya pengeluaran rumah tangga agar bisa kembali memberikan bantuan bulanan pada ibuku, ia marah dan menuduhku tidak peduli padanya juga pada anak-anakku. Lalu dia mulai mengada-adakan berbagai kebutuhan baru lainnya untuk membelanjakan harta seperti sepeda atau memperbarui dekorasi rumah.

“Setelah kondisi demikian berjalan beberapa bulan, gajiku tidak lagi cukup selain untuk menutup biaya keperluan rumah. Itupun dengan keadaan cukup sulit. Akibatnya, aku tidak bisa mengunjungi ibuku beberapa bulan lamanya. Karena tidak ada uang yang bisa kuberikan kepada beliau sebagaimana dahulu aku lakukan, juga karena perasaan bersalahku. Maka tidak ada lagi jalan lain bagi ibuku selain datang sendiri ke rumahku untuk memastikan kesehatanku.

“Di rumahku, beliau merasakan kemewahan hidup yang dijalani anak-anakku juga istriku, di saat dia tidak bisa memenuhi berbagai kebutuhan cucu-cucunya dari kakak perempuanku. Hal itu membut beliau jatuh sakit setelah kepulangannnya ke rumah.

BACA JUGA:  Dosa Besar, Durhaka pada Orangtua

“Meskipun kakak perempuanku telah menghubungiku lewat telepon agar aku menjenguknya, istriku memberi isyarat padaku untuk tidak menjenguknya dengan alasan bahwa ibuku hanya pura-pura sakit karena ketamakannya untuk mendapatkan harta lebih dari harta yang harus aku nafkahkan untuk rumah tanggaku saja. Demikianlah, hingga beberapa minggu berlalu, aku tidak pergi untuk menjenguk ibuku yang sedang sakit.

“Hingga pada satu hari aku dikejutkan oleh kakak perempuanku yang berbicara padaku melalui telepon sambil menangis memberitahuku bahwa ibuku telah meninggal dunia, dan bahwa keinginan terakhirnya adalah dapat melihatku.

“Sejak saat itu, aku diam di rumah untuk mengingat-ingat kenanganku dahulu. Aku pun menangis dengan keras karena telah menyia-nyiakan ibuku yang sangat penyayang, yang selama hidupku tidak pernah menghalangiku mendapatkan apa pun, sedangkan pembangkangan serta pengingkaran ini muncul dari diriku.

“Setiap kali aku mengingat keinginan terakhirnya untuk melihatku maka mengalirlah air mata dengan deras dari mataku karena aku telah menyia-nyiakan haknya. Itu adalah perbuatan durhaka yang telah aku lakukan kepada ibuku.

“Namun, apakah penyesalan itu ada gunanya setelah semuanya berlalu?” []

Sumber: Kisah Anak Durhaka dan Orang Tua Lalai / Penulis: Khalid Abu Shalih / Penerbit: Aqwam / Cetakan 2: Cetakan II: Jului 2018 M/Dzul Qa’dah 1439 H

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

Kerendahan Hati Umar bin Abdul Aziz di Hadapan Allah dan Doanya yang Dijabah

Ibrah

Kisah Anak Durhaka pada Ibu: Balasan Itu Sesuai Jenis Perbuatan

Ibrah

Kisah Anak Durhaka pada Bapak: Rabb-mu Benar-benar Mengawasimu!

Ibrah

Hidup Seperti Lebah