JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

Kisah Anak Durhaka pada Bapak: Rabb-mu Benar-benar Mengawasimu!

Khadijah

Tidak pernah ia membayangkan pada suatu hari nanti ia melihat dirinya selalu terikat antara kasur dan kursi rodanya.

Selain itu, perkataan kejam dari anaknya selalu memenuhi telinganya, malam maupun siang. Setiap detik, ia selalu teringat pada ayahnya yang telah meninggal dunia karena kekejaman yang ia lakukan terhadapnya. Sebelum ayahnya meninggal, bertahun-tahun ia menghadapi kedurhakaannya.

Sekarang, lisannya hampir-hampir tidak pernah berhenti berdoa untuk ayahnya agar mendapatkan rahmat. Ia juga berdoa bagi anaknya agar mendapatkan petunjuk. Di sela-sela itu, ia juga merenungkan tentang hikmah Rabb semesta alam dari peristiwa tersebut. la lebih banyak lagi berpikir tentang apa yang telah dilakukannya dahulu pada ayahnya, dan apa yang dilakukan anaknya padanya sekarang.

Di awal masa mudanya, ada tabir tebal di hadapan kedua matanya. la lupa akan kewajibannya kepada Allah Ta’ala, juga kewajibannya kepada ayahnya. Ia lupa bahwa keridaan Allah menuntut keridaan ayahnya terhadapnya.

BACA JUGA: Kisah Anak Durhaka: Hati yang Terbuat dari Baja

Abdullah bin ‘Amr berkata, “Rasulullah telah bersabda, Keridaan Allah terletak pada keridaan bapak, dan kemarahan Allah terletak pada kemarahan bapak.” (Hadits sahih).

Pada masa kelam dari kehidupannya, ia selalu berkumpul dengan teman-teman yang buruk dan menjadi pencandu khamr. la mencari harta dengan berbagai cara. Dan ketika tidak bisa mendapatkannya ia pun memintanya kepada ayahnya. Namun ayahnya menolak untuk memberikan harta kepadanya. Bukan karena dia bakhil, tetapi untuk mencegahnya melakukan perbuatan haram. Karena ia tahu bahwa anaknya akan menggunakan harta tersebut hanya untuk yang haram saja.

Dan ketika ia mabuk, terjadilah perdebatan antara ia dan ayahnya. Suara keduanya pun meninggi. Lalu setan mengisyaratkan kepadanya untuk memukul ayahnya. Karena serangan yang tiba-tiba itu, ayahnya tidak melawan tindakan lalim anaknya tersebut. la pun merasa senang karena mengira bahwa ayahnya itu lemah. Kemudian ia merebut tas ayahnya, lalu mengambil sejumlah uang yang ia butuhkan untuk membeli khamr.

Sekarang ia sudah menikah dan memiliki satu anak laki-laki dan satu perempuan. Sementara itu istrinya hanya bisa menahan kepahitan dari tingkah lakunya. Saat itu ia tinggal di rumah ayahnya. Pada hari ketika ia berbuat lalim kepada ayahnya dengan memukulnya, ia segera pergi keluar untuk bersenang-senang dengan uang yang ia rebut dari ayahnya.

Setelah kejadian tersebut, ayahnya secara tiba-tiba mengalami krisis kesehatan yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Namun pada malam itu ia pergi menemui teman-teman buruknya. Dan minuman khamr telah mematikan perasaan kemanusiaan yang masih tersisa padanya. la terus minum hingga mabuk. Ia tidak bisa lagi membedakan dan menyadari apa yang ada di sekelilingnya.

Dalam keadaan mabuk berat, ia berpamitan pada teman-temannya. Ia berjalan dengan lambat menuju mobilnya. la mengendarai mobilnya dengan tanpa konsentrasi. Pada saat itulah ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Pada saat itu pula, mobil keluar jalur dan menabrak tiang lampu penerangan.

Ia pun dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadar selama beberapa hari. Kedua kakinya telah lumpuh permanen. Mau tak mau ia harus berada di kursi roda. Berpindah ke sana ke mari dengan letih dan sulit. Raut wajahnya yang muram juga menyiratkan pahitnya rasa penyesalan dari masa lalu yang menyakitkan.

Istrinya merasa tertekan dengan kondisinya itu. Setelah beberapa bulan, istrinya pun meninggalkannya. Pada mulanya kedua anaknya ikut dengannya. la pun kembali tinggal bersama ibunya di rumah ayahnya. Dan sekarang ibunyalah yang mengurusinya semuanya. Hari-hari pun berlalu dengan cepat. Tak lama kemudian ibunya berpulang ke rahmatullah. Setelah itu anak perempuannya menikah. Maka sekarang hanya anak laki-lakinya yang tinggal bersamanya.

BACA JUGA:  Kisah Anak Durhaka: Aku, Seorang Perempuan yang Cinta Dunia

Suatu hari, anak lelakinya itu mengambil paksa hartanya lalu pergi begadang bersama teman-temannya hingga waktu fajar. Kemudian pulang ketika pagi menjelang sambil terhuyung-huyung. la selalu menasihati anaknya itu dengan berbagai nasihat yang meragukan, karena ia melihat gambaran dirinya pada masa lalu ada padanya. Ia juga melihat bahwa kedurhakaan anaknya terhadapnya sama seperti kedurhakaan yang dahulu ia lakukan kepada ayahnya.

Ibnu Umar meriwayatkan, Nabi Nabi bersabda, “Ada tiga orang yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, pecandu khamr, dan orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya. Dan ada tiga orang yang tidak akan masuk surga: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang melihat aib keluarganya dan tidak mengubahnya, dan wanita yang menyerupai laki-laki.” []

Sumber: Kisah Anak Durhaka dan Orang Tua Lalai / Penulis: Khalid Abu Shalih / Penerbit: Aqwam / Cetakan 2: Cetakan II: Jului 2018 M/Dzul Qa’dah 1439 H

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

Kisah Anak Durhaka pada Ibu: Balasan Itu Sesuai Jenis Perbuatan

Ibrah

Hidup Seperti Lebah

Ibrah

Jalan Surga Imam Malik

Ibrah

Yang Dilakukan Para Salaf di Waktu Pagi