JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

Kisah Seorang Penyembah Berhala

Syekh Abdul Wahid berkata, “Ketika naik sebuah perahu, tiba-tiba kami terlempar di sebuah pulau. Ternyata di sana ada seorang laki-laki penyembah berhala. Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai laki-laki, siapakah yang kau sembah itu?’

Ia menunjuk sebuah berhala.

Aku berkata, “Sesungguhnya Tuhanmu itu dibuat di tempat kami, ada orang yang membuat patung seperti itu, mengapa barang seperti itu disembah?”

Ia balik bertanya, “Sedangkan kamu, apakah yang kamu sembah?”

Kami berkata, “Kami menyembah Raja yang harusnya ada di langit dan tindakan-Nya ada di bumi, serta ketentuan-Nya meliputi orang-orang yang masih hidup maupun orang-orang yang sudah mati, nama-nama-Nya Sangat Suci Maha Agung dan Maha Tinggi.”

BACA JUGA: Sejarah Berhala Pertama Kali Disembah di Mekkah

Ia berkata, “Siapakah yang mengajarimu seperti ini?”

“Raja itu telah mengutus kepada kami seorang Rasul yang mulia kemudian ia memerintahkan hal itu kepada kami.”

Ia berkata, “Apa yang telah dilakukan Rasul itu?”

Kami berkata, “Manakala beliau telah menyampaikan risalah itu kepada kami, maka Sang Raja itu telah memanggilnya kepada-Nya dan memberikan nikmat kepadanya di sisi-Nya.”

“Apakah Rasul itu meninggalkan tanda-tanda kepadamu?” ia bertanya lagi.

Kami menjawab, “Beliau meninggalkan kitab Raja itu kepada kami.”

Ia berkata, “Perlihatkanlah padaku kita belajar itu, pasti kita belajar itu bagus sekali.”

Kemudian kami menunjukkan mushaf kepadanya. Ia berkata, “Aku tidak mengerti isi kitab ini.”

Lalu kami membacakan satu surat kepadanya, maka ia terus menangis sampai kami dapat mengkhatamkan satu surat. Kemudian ia berkata, “Seharusnya Yang Memiliki memiliki kitab ini tidak didurhakai.”

Lalu ia pun memeluk Islam dan setia kepada agamanya. Kami mengajarkan kepadanya syariat Islam dan beberapa surat Al-Quran. Pada suatu malam, ketika kami telah menjalankan shalat Isya dan hendak tidur, ia berkata, “Wahai kaum, Tuhan yang kamu Tunjukkan kepadaku itu jika malam datang, apakah dia tidur?”

Kami menjawab, “Dia tidak tidur, wahai hamba Allah, Dia Maha Agung, hidup, berdiri sendiri, yidak mengantuk dan tidak tidur.”

Ia berkata, “Sungguh, kamu adalah seburuk-buruk hamba. Kamu tidur sedang Tuan kamu tidak tidur. ”

Tentu saja kata-katanya itu membuat kami terkejut. Dan ketika kami hendak pergi meninggalkan tempat itu, ia berkata, “Ajaklah aku bersamamu!” Kami pun mengajaknya.

Ketika kami tiba di Ubadan, saya berkata kepada sahabat-sahabat saya, “Orang ini baru memenuhi Islam alangkah baiknya seandainya kita mengumpulkan uang dan kita berikan kepadanya.”

Maka ia terkaget, “Apa ini?”

Kami berkata, “Beberapa dirham yang bisa engkau gunakan.”

Dia berkata, “Tidak ada Tuhan selain Allah, kamu telah menunjukkan kepadaku jalan yang kamu tidak menitinya. Aku berada di sebuah pulau menyembah berhala, namun Dia tidak menyia-nyiakan aku, padahal aku belum mengenal-Nya. Lantas, bagaimana Dia akan menyia-nyiakan aku Sedangkan sekarang aku telah mengenalnya?”

Tiga hari kemudian, aku mendengar berita bahwa ia telah sakit dan telah mendekati ajalnya. Aku pun datang kepadanya dan mengatakan, “Apakah engkau mempunyai suatu keperluan?”

Ia menjawab, “Dia yang membawamu ke pulau ini telah memenuhi keperluanku.”

Syekh Abdul Wahid berkata, “Kemudian kedua mataku mengantuk hingga aku tertidur di sebelahnya. Maka aku melihat sebuah taman hijau, di dalamnya terdapat kubah, dan di dalam kubah itu terdapat ranjang, di atas ranjang itu ada wanita yang amat cantik, kecantikan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.”

Wanita itu berkata, “Demi Allah, kenapa engkau tidak segera mengantarkan dia kepadaku, sungguh aku amat merindukannya.”

Kemudian aku terbangun, ternyata ia telah meninggal dunia. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala meramatinya. Kemudian aku segera memandikannya, mengkafaninya, menyolatinya dan memakamkannya.

Ketika malam tiba, aku bermimpi lagi. Dalam mimpi itu aku melihat kamar hijau tersebut, di dalamnya terdapat kubah. Di dalam kubah tersebut terdapat ranjang dan di atas ranjang terdapat wanita cantik yang telah aku lihat dalam mimpi sebelumnya.

BACA JUGA:  4 Golongan Manusia dengan Kematian

Sedangkan laki-laki itu telah berada di sampingnya, dan ia membacakan ayat Al-Quran Surat Ar-Ra’d ayat 23 dan 24

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ ۝٢٣

(Yaitu) surga-surga ‘Adn. Mereka memasukinya bersama orang saleh dari leluhur, pasangan-pasangan, dan keturunan-keturunan mereka, sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu.

سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ ۝٢٤

(Malaikat berkata,) “Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu) karena kesabaranmu.” (Itulah) sebaik-baiknya tempat kesudahan (surga).

Sungguh luar biasa kekuasaan Allah. Hidangan kasih sayang-Nya, Dia mengubah kehidupan seseorang yang sepanjang hidupnya menjadi penyembah berhala selama hidupnya melalui seorang pelayan yang terdampar. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Kau berikan, dan tidak ada pula yang dapat memberikan apa yang Engkau halangi. (Raudhur Riyahin) []

Sumber: 40 Hari Menuju Kematian, Karya: Syaikh Maulana M. Islam, Penerbit Nabawi, Cetakan Pertama 2016

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: wa.me/6285860492560 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam20
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

Mansyur bin Dzadzan, Kata-katanya Membuat Seorang Syekh Menangis

Ibrah

Husnul Khatimahnya Seorang Pembaca Alquran

Ibrah

Ibadahnya Para Ulama (2-Habis)

Ibrah

Ibadahnya Para Ulama (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *