قـــال الشوكاني:
فترى الرّجل إذا لقي أهْله كان أسوأَ الناس أخلاقًا وأشجَعهم نفسًا وأقلهم خيرًا، وإِذا لقي غير الأهل من الأجانب لانَتْ عَريكتُه وانبسطت أخلاقهُ وجادت نفسه وكثر خيره، ولا شك أن من كان كذلك فهو محرومُ التوفيق زائغٌ عن سواء الطريق، نسأل الله السلامة.
نيل الأوطار٢٤٦/٦
Asy-Syaukani rohimahullah berkata,
“Kau lihat ada lelaki yang bila bertemu istrinya akhlaknya buruk, berani dan sedikit kebaikannya. Bila bertemu selainnya menjadi lembut dan baik akhlaknya. Tak ragu lagi orang ini terhalang dari taufiq dan tersesat jalan. Kita memohon kepada Allah keselamatan”
[Nayl al-Awthor – 6/246]
Ucapan ini menjadi peringatan serius bagi siapa pun yang menunjukkan dua wajah berbeda dalam berinteraksi: satu penuh kelembutan di hadapan orang lain, namun berubah keras dan buruk akhlaknya ketika bersama keluarga, terutama istri. Padahal, rumah adalah tempat ujian sebenarnya. Orang yang mampu berakhlak mulia di luar rumah, tetapi gagal menjaga akhlaknya di dalam rumah, belumlah mencapai kesempurnaan iman.
BACA JUGA: Tips agar Istri Menjadi Teman Setia Sang Suami
Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi, no. 3895)
Rasulullah ﷺ adalah teladan yang sempurna dalam memperlakukan keluarga. Beliau tidak hanya berakhlak baik kepada sahabat dan masyarakat, tapi juga sangat lembut dan penuh perhatian kepada istri-istrinya. Inilah akhlak sejati: konsisten dan adil dalam segala situasi.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat di timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlak yang mulia.” (Madarijus Salikin, 2/294)
Akhlak adalah cerminan iman. Maka, jika seseorang hanya bersikap manis kepada teman atau rekan kerja, tapi menjadi kasar dan emosional kepada istri atau anak-anaknya, berarti ada kerusakan dalam hatinya. Bisa jadi, ia mencari pujian manusia dan melupakan penilaian Allah.
BACA JUGA: Suami Bijak di Hadapan Amarah Istri
Hasan Al-Bashri rahimahullah juga pernah berkata, “Iman itu bukan dengan angan-angan dan hiasan, tapi iman adalah yang menetap di hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.”
Oleh karena itu, mari muhasabah diri. Jangan sampai kita termasuk golongan yang disebut oleh Asy-Syaukani: baik di luar, namun buruk di rumah. Tanda taufiq dari Allah adalah saat seseorang menjaga akhlaknya di setiap tempat dan keadaan. Semoga Allah memperbaiki akhlak kita, menjadikan kita pribadi yang lembut kepada keluarga, dan melindungi kita dari akhlak yang munafik. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


