JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Nabi dan Abdullah Bin Ummi Maktum

“Selamat datang orang yang karenanya Allah menegurku.” Itulah sepenggal kalimat yang selalu diucapkan Rasulullah ﷺ saat berjumpa dengan ‘Abdullah Bin Ummi Maktum. Ya, wajar bila kalimat itu sering dilontarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada sahabat yang buta itu, sebagai pernghormatan terhadapnya. Memang karena Ibnu Ummi Maktum itulah Rasulullah ﷺ ditegur Allah ﷻ.

Kisahnya begini. Rasulullah ﷺ sedang serius mengajak para pembesar Quraisy untuk masuk Islam. Mereka yang saat itu sedang dihadapi oleh Rasulullah ﷺ antara lain ‘Utbah, Syaibah, Abu Jahal alias Amer Bin Hisyam, Umayyah Bin Khalaf, Walid Bin Mughirah, dan Al-‘Abbas Bin Abdil Muthallib, paman Rasulullah ﷺ Kesemuanya adalah pemegang kebijakan pada kalangan masyarakat Quraisy. Jadi bisa dibayangkan bila mereka itu masuk Islam, akan mudah saja bagi para pengikutnya untuk memeluk Islam. Dan itu pula yang dibayangkan Rasulullah ﷺ

Di saat itulah datang Adullah Bin Ummi Maktum. “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu,” pintanya kepada Rasulullah ﷺ yang tengah asyik menyeru para tokoh tadi untuk masuk Islam. Sejenak pandangan Rasulullah ﷺ berailh kepada orang buta yang datang itu. Namun segera saja beliau memalingkan muka dan kembali menghadapi para dedengkot Quraisy itu.

Ibnu Ummi Maktum tidak berputus asa. Dia masih mencoba meminta untuk yang kedua kalinya. Namun Rasulullah ﷺ mensikapinya dengan sikap yang sama. Dan untuk ketiga kalinya. Hingga Allah ﷻ. menurunkan ayat sebagai teguran kepada Rasulullah ﷺ Firman-Nya:“Ia bermuka masa dan berpaling. Karena telah datang kepadanya orang yang buta.” ) (‘Abasa 1-2)

Rasulullah ﷺ menyadari kekeliruan dan kesalahan sikapnya. Sejak itulah Rasulullah ﷺ begitu memuliakan dan melayani kebutuhan Ibnu Ummi Maktum. Dan beliau sering mengulang kalimat di atas bila berjumpa dengannya.

Ayat itu masih dilanjutkan: “Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya. Ada pun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri. Dan ada pun orang yang datang kepadamu dengan bersegara (untuk mendapatkan pengajaran). Sedang ia takut kepada Allah. maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali janganlah demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (‘Abasa 3-11)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, “Saat itu Rasulullah ﷺ ingin Ibnu Ummi Maktum itu diam agar memberinya waktu berbicara kepada orang-orang itu sebab Rasulullah sangat berambisi menariknya ke dalam Islam.” Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Ummi Maktuk memiliki tujuan yang baik, untuk kepentingan dakwah dan bukan kepentingan dirinya sendiri. Namun tetap saja cara itu dianggap keliru oleh Allah ﷻ. sehingga Dia berkenan menegur Nabi-Nya.

Di mana letak ketidaktepatan sikap yang diambil Rasulullah ﷺ ? Dalam Fi Zhilalil-Quran, Sayyid Quthb mengemukakan, “Inti persoalannya bukanlah sekadar bagaimana seharusnya seorang manusia diperlakkan atau bagaimana seharusnya sekelompok manusia diperlakukan. Dimensinya lebih jauh dan lebih agung dari sekedar itu. Inti persoalannya adalah: bagaimana seharusnya manusia menimbang segala urusan dalam kehidupan ini? Dari mana manusia mengambil nilai-nilkai untuk dijadikan parameter?

Dan arahan rabbani dalam ayat itu menegaskan bahwa hendaknya manusia di muka bumi mengambil nilai-nilai dan parameter dari pandangan Allah saja, yang datang kepada mereka dari langit, tidak terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan rendahan bumi. Nilai-nilai yang bukan muncul dari pandangan-pandangan yang terikat dengan kepentingan bumi.”

Pada bagian lain, setelah mengutip firman Allah ﷻ. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa”, Sayyid Quthb menyatakan, “Yang paling mulia di sisi Allah itulah yang berhak mendapatkan perhatian dan sambutan, meskipun ia kosong dari segala nilai-nilai duniawi yang dikenal manusia semacam keuturunan, kekuasaan, dan harta, serta nilai duniawi lainnya.” (Fi Zhilalil-Quran juz 6 3825)

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

6 Jiwa Suci dari Bumi Yatsrib

Sirah

Kabilah-kabilah yang Ditawari Islam

Sirah

Tertidur saat Ingin Menonton

Sirah

Di Depan Pendeta Bahîrâ

Leave a Reply