Disebutkan dalam al-Musnad dan as-Sunan, dari Amr bin Murrah, dari Salim bin Abil Ja’d, dari Abu Ubaidah bin Abdillah bin Mas’ud, dari ayahnya, dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
(( إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانَ إِذَا عَمِلَ الْعَامِلُ فِيهِمْ بِالْخَطِيئَةِ جَاءَهُ النَّاهِي تَعْذِيرًا، فَإِذَا كَانَ الْغَدُ جَالَسَهُ وَوَاكَلَهُ وَشَارَبَهُ، كَأَنَّهُ لَمْ يَرَهُ عَلَى خَطِيئَةٍ بِالْأَمْسِ، فَلَمَّا رَأَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ذَلِكَ مِنْهُمْ ضَرَبَ بِقُلُوْبِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ، ثُمَّ لَعَنَهُمْ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِمْ دَاوُدَ وَعِيسَى بْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُوْنَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَلَتَأْخُذُنَ عَلَى يَدِ السَّفِيْهِ وَلَتَأْطُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا ، أَوْ لَيَضْرِبَنَّ اللهُ بِقُلُوْبِ بَعْضِكُمْ عَلَى بَعْضٍ، ثُمَّ لَيَلْعَنَكُمْ كَمَا لَعَنَهُمْ ))
“Sesungguhnya pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian, yakni apabila ada di antara mereka yang berbuat dosa, maka datanglah orang yang melarang itu sekadarnya. Keesokan harinya, orang yang melarang tadi duduk-duduk bersama orang yang melakukan dosa, serta menemaninya makan dan minum, seolah-olah kemarin dia tidak melihatnya melakukan dosa. Ketika melihat hal tersebut terjadi pada sebagian mereka, Allah membenturkan hati sebagiannya atas sebagian yang lain, kemudian melaknat mereka melalui lisan Nabi-Nya, Daud dan ‘Isa bin Maryam. Hal ini dikarenakan kemaksiatan dan sikap mereka yang melampaui batas. Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, hendaklah kalian benar-benar menyuruh berbuat kebaikan, mencegah kemunkaran, dan memegang tangan orang yang bodoh lalu menuntunnya kepada kebenaran. Jika tidak demikian, Allah akan membenturkan hati sebagian kalian atas sebagian yang lain, lantas Dia melaknat kalian, sebagaimana Dia melaknat mereka.”
BACA JUGA: Dosa Besar: Sombong, Berbangga, Angkuh, Ujub, dan Takabur
Ibnu Abid Dunya menyebutkan dari Ibrahim bin Amr as-Shan’ani, ia berkata: “Allah memberi wahyu kepada Yusya bin Nun: ‘Sungguh, Aku membinasakan 40.000 orang baik dan 60.000 orang jahat dari kaummu.’ Yusya berkata: ‘Wahai Rabbku, orang-orang jahat itu memang pantas mendapatkannya. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang baik?” Allah menjawab: ‘Orang-orang itu tidak marah seperti kemarahan-Ku kepada orang-orang jahat tadi, bahkan mereka makan dan minum bersama orang-orang tersebut. ”
Disebutkan oleh Abu Umar bin Abdil Barr, dari Abu Hizzan, dia mengatakan: “Allah mengutus dua Malaikat ke suatu daerah untuk menghancurkannya beserta penduduknya. Selanjutnya, keduanya melihat seorang laki-laki yang tengah melaksanakan shalat di Masjid. Mereka pun berkata: ‘Wahai Rabb kami, di daerah itu terdapat hamba-Mu, Fulan, yang sedang mendirikan shalat.’ Allah berfirman: ‘Hancurkanlah daerah itu sekaligus penduduknya, termasuk dia. Sesungguhnya wajahnya tidak pernah marah karena Aku.160
Ini merupakan cerita Ira-liyyat. Riwayat ini jelas jelas mu’dhal Riwayat tersebut dibawakan oleh al-Baihaqı dalam Syu’ainul Imán (no. 9428), tetapi dia menyandarkannya kepada al-Wadhin bin Atha. Maksudnya, raut wajah hamba Mukmin itu sama sekali tidak pernah menunjukkan rasa marah ketika melihat kemunkaran yang dilakukan oleh kaumnya. Wallahu alam.
Al-Humaidi mengabarkan dari Sufyan bin Uyainah, ia berkata: “Aku diberitahu Sufyan bin Sa’id, dari Mis’ar, bahwasanya ada Malaikat yang diperintahkan untuk membenamkan suatu daerah. Malaikat itu sempat berkata: ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya di daerah itu terdapat Fulan yang merupakan seorang ahli ibadah. Allah se pun mewahyukan kepadanya: “Mulailah dengan membenamkan Fulan tadi. Sesungguhnya raut wajahnya tidak pernah marah karena Aku.”
BACA JUGA: Dosa Besar: Memakan Riba
Ibnu Abid Dunya mengabarkan dari Wahb bin Munabbih, dia berkata: “Ketika Nabi Daud melakukan kesalahan, beliau berdoa: ‘Wahai Rabbku, ampunilah aku. Allah berfirman: ‘Aku telah mengampunimu. Aku menetapkan aib tersebut kepada Bani Israil.” Daud berkata: ‘Wahai Rabbku, bagaimana itu terjadi, sedangkan Engkau Mahabijaksana dan Mahaadil, tidak menzhalimi seorang pun. Bukankah aku yang melakukan kesalahan, tetapi mengapa Engkau menetapkan aibnya kepada selainku?’ Allah pun menjelaskan kepadanya: “Sesungguhnya mereka tidak segera mengingkari perbuatanmu ketika kamu berbuat kesalahan.”
Ibnu Abid Dunya menyebutkan dari Anas bin Malik, bahwasanya dia pernah masuk menemui Aisyah bersama seorang laki-laki lain. Orang tadi berkata: “Wahai Ummul Mukminin, ceritakanlah kepada kami tentang az-Zalzalah (hari keguncangan).” Aisyah menjawab: “Apabila orang-orang telah memperbolehkan zina, meminum khamer, dan menabuh alat-alat musik, maka Allah pun cemburu di langit-Nya, lantas berkata kepada bumi: ‘Guncangkan mereka! Berhentilah jika mereka mau bertaubat dan menghentikan perbuatan mereka. Sebaliknya, hancurkanlah mereka jika tidak mau!'” Pria tadi bertanya lagi: “Wahai Ummul Mukminin, apakah itu merupakan adzab bagi mereka?” Aisyah menjawab: “Itu adalah peringatan dan rahmat bagi kaum Mukminin, tetapi merupakan hukuman, adzab, dan kemurkaan untuk orang-orang kafir.” []
Sumber: Ad-Daa’ wad Dawaa’, Macam-macam Penyakit hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Imam As-Syafi’i, Cetakan ke-10 November 2016 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


