JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Uncategorized

Perbuatan Maksiat

maksiat

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 28:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaannya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan di dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Firman Allah:

وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا

dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami.

Apa yang dimaksud dengan ذِكْرِنَا “mengingat kami”? Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud dari ذِكْرِنَا Adalah Al-Quran. Sebagian ulama yang lain ada yang mengatakan maksud dari ذِكْرِنَا  adalah dzikir secara umum, yaitu mereka dibuat lalai sehingga tidak sibuk dengan Al-Quran dan tidak sibuk dengan mengingat Allah serta Allah menjadikan hati mereka lalai.

BACA JUGA: Kelezatan Maksiat dan Kenikmatan Beribadah

وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ

serta menuruti hawa nafsunya

Pada kalimat ini terdapat faedah yang perlu kita perhatikan. Pada kalimat sebelumnya, Allah mengatakan, اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا  “Kami lalaikan dari mengingat Kami”

Dan, yang dimaksud Kami di sini adalah Allah, yaitu Allah yang membuat hatinya lalai. Ini dalil bahwasanya segala yang terjadi di alam semesta (yang baik maupun yang buruk) semuanya di bawah kehendak Allah. Sampai-sampai lalainya hati seseorang pun atas kehendak Allah.

Ini termasuk permasalahan iman kepada takdir, bahwasanya semua yang terjadi dalam semesta ini tidak ada yang keluar dari kehendak Allah, apakah itu perkara yang baik maupun perkara yang buruk. Contoh sederhananya, di dunia ini ada iblis yang buruk dan yang menciptakannya adalah Allah. Iblis meminta dipanjangkan umurnya untuk menggoda manusia juga dikabulkan dan diizinkan oleh Allah. Jadi, semua yang terjadi berupa keburukan dan kemaksiatan semuanya di bawah kehendak Allah semuanya ada hikmah yang Allah kehendaki.

Pada kalimat yaitu “Kami lalaikan dari mengingat Kami” maksudnya adalah Allah menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah, yaitu Allah menakdirkan semuanya. Kemudian, pada kalimat setelahnya Allah mengatakan:

وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ

serta menuruti hawa nafsunya

Ini adalah dalil bahwasanya perbuatan hamba disandarkan kepada dirinya sendiri. Maksudnya, jangan sampai seseorang bermaksiat, lalu dia mengatakan bahwa hal tersebut kehendak Allah yang telah ditakdirkan. Maka, hal ini tidak diperbolehkan. Jika seseorang berbuat maksiat maka maksiat tersebut disandarkan kepada dirinya sendiri meskipun semua yang terjadi adalah atas kehendak Alla. Namun, semua hal tersebut hamba yang melakukannya, yang menghendakinya, dan ada pilihan di hadapannya (antara melakukan atau meninggalkannya), dan semua yang dipilih maka tidak keluar dari kehendak Allah karena semua yang terjadi berada di bawah kehendak Allah.

Walaupun demikian, jangan sampai seseorang berbuat maksiat, lalu dia mengatakan bahwasanya Allah-lah yang membuat Dia berbuat maksiat. Maka, ini tidak boleh karena dialah yang berbuat. Oleh karenanya, tatkala ada seseorang yang mencuri lalu ditangkap oleh Umar bin Khaththab dan diperintahkan untuk dipotong tangannya, pencuri tersebut berkata: “Sebentar, wahai Amirul Mukminin. Saya mencuri hanya dengan takdir Allah”. Maka, Umar pun menjawab: “Dan kami pun memotong tangan juga dengan takdir Allah.”

Jangan sampai di akhirat seseorang mengatakan: “Ya Allah, saya masuk neraka karena takdirmu, dan saya berbuat maksiat karena terpaksa “. Ini tidak benar karena sesungguhnya dia tidak terpaksa. Dia bisa memilih antara melakukan atau meninggalkan. Dan, semua yang terjadi atas kehendak kita, tetapi semua kehendak kita di bawah kehendak Allah.

BACA JUGA: Dampak Maksiat bagi Pelakunya

Kemudian firman Allah:

وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

dan perkara orang ini kacau

Maka, wahai Muhammad, jangan engkau ikuti orang yang seperti ini. Yaitu orang yang hanya memikirkan dunia, hatinya lalai, tidak ingat kepada Allah; mungkin lisannya menyebut Allah tetapi hatinya lalai. Dia hanya mengikuti hawa nafsunya dan perkaranya kacau.[]

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI PUSAT STUDI QURAN

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Uncategorized

Orang-Orang yang Masuk Surga tanpa Hisab

Uncategorized

Larangan Dengki

Uncategorized

Tangis di Abwa

Uncategorized

Mengabaikan Ucapan Buruk Orang Lain kepadamu

Leave a Reply