مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendak-nya dia mengucapkan perkataan yang baik, atau (kalau tidak bisa) lebih baik diam (saja). Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya dan barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya.”
(HR al-Bukhari dan Muslim, Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam ash-Shahiih, Kitab al-Adab, Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wal Yaumil-Aakhiri falaa Yu’zii Jaarahu, hadits no. 5672. Adapun Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dalam ash-Shahiih, Kitab al-limaan, Bab al-Hatstsi ‘ala Ikraamil-Jaar wa Luzuumis-Shumti illa ‘an al-Khair, wa Kaunu Zalika Kullihi minal-limaan. Hadits no. 47)
BACA JUGA: Imam Hasan Al-Bashri, Perkataannya seperti Orang yang Shiddiq
Salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang adalah selalu menghiasi mulutnya dengan kata-kata yang baik dan menahan diri dari mengeluarkan kata-kata yang buruk. Menata pembicaraan merupakan satu jenis kebajikan yang mempunyai manfaat yang besar, tidak hanya bagi orang yang melakukannya, namun juga bagi orang lain yang mendengarkannya.
Oleh karena itu, dalam hadits ini Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan hal tersebut kepada kita. Beliau menegaskan bahwa di antara indikator kesempurnaan keimanan dan keislaman seseorang adalah manakala dia selalu menghiasi mulutnya dengan perkataan-perkataan yang bermanfaat bagi kehidupannya di dunia maupun di akhirat.
Manfaat dari perkataan yang baik ini tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengucapkannya saja, namun orang lain juga turut merasakan kebahagiaan dan ketenangan bila mendengar perkataan itu. Di samping itu, pada waktu yang bersamaan seseorang harus menahan dirinya dari mengeluarkan kata-kata yang bisa menimbulkan sakit hati ataupun kemafsada-han-kemafsadahan lainnya, terlebih lagi bila kata-kata tersebut bisa menyebabkan kemurkaan Allah SWT.
Imam Ahmad meriwayatkan dari sahabat Anas r.a. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
ولا يَسْتَقِيمُ إِيْمَانُ عَبْدِ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لسانه
“Iman seseorang tidak akan sempurna kecuali bila hatinya telah lurus (bersih). Dan hati seseorang tidak akan lurus kecuali jika lisannya telah terjaga (dari ucapan-ucapan yang kotor dan keji).”
BACA JUGA: Kebaikan dan Keburukan Akan Kembali Kepada Dirimu
Imam ath-Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Anas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang hamba tidak akan sampai pada tingkat keimanan hakiki kecuali setelah dia mampu menjaga lisannya.”
Maksudnya adalah, hingga dia mampu menahan mulutnya dari perkataan-perkataan yang tidak baik. []
Sumber: Akhlak Rasul, Menurut Al-Bukhari dan Muslim / Penulis: Abdul Mun’im al-Hisyami / Penerbit: Gema Insani Press / Cetakan Kedelapan, Dzulhijjah 1441 H / Agustus 2019 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


