JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Sahabat Malam: Abdullah bin Umar

Lukmanul Hakim, Tahajjud

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Sebaik-baik orang adalah Abdullah (Ibnu Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.” (HR. Muslim). Kalimat itu bukan sekadar anjuran, tetapi cahaya yang menembus hati seorang pemuda, Abdullah bin Umar, anak dari Umar bin al-Khaṭṭāb.

Sejak saat itu, jiwanya seperti disirami hujan keimanan. Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ mematri dalam-dalam nasihat itu. Abdullah pun tunduk, menyerahkan malamnya bukan lagi kepada lelap panjang, melainkan kepada ibadah yang mengalir dari cinta.

BACA JUGA:  Ketika Umar bin Khattab Temui Rasulullah Tidur di Atas Tikar, Hati di Atas Langit

Budaknya yang bernama Sālim pernah bersaksi, “Tuanku, Ibnu Umar, tidak lagi tidur malam kecuali hanya sebentar.” Malam bukan lagi kegelapan bagi Abdullah, melainkan cahaya rahmat. Di saat manusia lain membaringkan letihnya, ia bangkit, berdiri tegak, menautkan wajahnya ke tanah dalam sujud panjang.

Ia pun digelari Sahabat Malam. Gelar yang bukan sekadar nama, melainkan bukti kesetiaan. Abdullah bersahabat dengan malam, karena di dalam sunyi itulah ia menemukan Sang Kekasih Sejati. Tiada lagi hiruk-pikuk dunia, hanya bisikan doa, ayat-ayat suci, dan detak hati yang berserah.

Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata, “Shalat malam adalah kekuatan seorang mukmin. Dengannya wajah menjadi bercahaya, hati hidup, dan jiwa berbahagia.” Abdullah bin Umar menghidupi kalam itu dengan tindakannya. Malam-malamnya ia isi dengan shalat, tilawah Al-Qur’an, atau zikir yang panjang. Baik ketika mukim di Madinah, ataupun saat menempuh perjalanan jauh, ia tak pernah meninggalkan kebiasaan ini.

Bayangkanlah seorang lelaki yang begitu setia menjaga ibadah malam hingga ajal menjemput. Al-Ḥasan al-Baṣri pernah berkata, “Aku tidak mengetahui sesuatu pun yang lebih menolong untuk akhirat daripada shalat di kegelapan malam.” Abdullah bin Umar telah merasakan manisnya janji itu, hingga malam menjadi teman karibnya.

Betapa indah pemandangan itu: seorang sahabat muda, teguh di atas kakinya, air matanya jatuh membasahi tanah, hatinya menghadap Rabbul-‘Ālamīn. Sementara orang lain terlelap dalam mimpi fana, ia terjaga dalam mimpi yang hakiki—mimpi bertemu Rabb-nya di akhirat.

BACA JUGA:  Abdullah bin Rawahah, Hancurkan Berhala untuk Sadarkan Sahabat Dekatnya

Hingga akhir hayatnya, Abdullah tetap menjaga ibadah malam. Ia wafat dalam keadaan yang penuh khusyuk, setelah bertahun-tahun menjadikan malam sebagai jembatan menuju Allah.

Demikianlah kisah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang menjadikan satu nasihat sebagai penentu jalan hidup. Sebuah nasihat yang mengubah malamnya menjadi cahaya, dan menjadikan namanya harum dalam sejarah.

Maka, siapakah di antara kita yang berani menjadikan malam sebagai sahabat? Karena sesungguhnya, sebagaimana dikatakan oleh Sufyān ats-Tsaurī, “Shalat malam adalah kemuliaan seorang mukmin, sedangkan meninggalkannya adalah aib.” []

Sumber: Hierah Syamsuddin/ 2013/ Para Abdullah di Sekitar Rasulullah/ Bandung: Khazanah Intelektual

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Khadijah Berpulang ke Rahmatullah

Sirah

Abu Thalib Wafat

Sirah

Abu Bakar Ash-Shiddiq: Cahaya Pertama dari Timur Islam

Sirah

Bayi Muhammad, Berkah bagi Keluarga Halimah