Saudaraku,
Pernahkah kita duduk sejenak, diam, dan menghitung dosa serta kesalahan yang telah kita lakukan? Saudaraku, betapa sering kita sibuk menghitung capaian, mengingat keberhasilan, dan memamerkan kebaikan kita kepada orang lain, tetapi lupa untuk merenungi aib dan dosa yang begitu banyak kita lakukan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Saudaraku, percayalah bahwa setiap dosa dan kesalahan pasti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala. Hari itu tidak ada seorang pun yang mampu mengelak, dan tidak ada tempat bersembunyi dari keadilan-Nya. Esok atau lusa, cepat atau lambat, kita akan menuai balasan dari setiap amal buruk sebagaimana kita juga akan menikmati hasil dari amal kebaikan.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung yang siap menimpanya. Sedangkan seorang pendosa melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia usir dengan tangannya.” Betapa dalam perkataan ini, mengingatkan kita agar selalu merasa takut dan waspada terhadap dosa yang tampak kecil, karena di sisi Allah, dosa sekecil apapun tetaplah dosa.
BACA JUGA: Nasihat Tidak Berguna, Saudaraku?
Saudaraku, ketahuilah, orang bijak bukanlah mereka yang hanya pandai menghitung keberhasilan, menimbun harta kekayaan, atau membanggakan jasa-jasanya. Orang bijak adalah mereka yang selalu sibuk menghitung dosa dan kesalahan, kemudian membenahi diri dengan taubat dan istighfar, serta merendahkan hati di hadapan Allah Azza wa Jalla.
Dahulu, sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu memberi nasihat, “Hitung dan ingatlah selalu dosa-dosa kalian, dan aku jamin bahwa tidak satupun dari kebaikanmu yang akan Allah lupakan.” Perkataan beliau menjadi pelajaran yang sangat berharga: tidak ada kebaikan yang sia-sia, tetapi kita tetap harus sibuk menghitung dosa agar senantiasa sadar dan tidak terbuai oleh rasa aman yang palsu.
Saudaraku, pernah pula Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah merasa khawatir amalanku tidak diterima. Yang aku khawatirkan adalah, setelah aku beramal baik, kemudian aku berbuat dosa yang menghapus pahala itu.” Perkataan beliau menyadarkan kita bahwa yang paling berat bukan hanya menjaga amal baik, tetapi juga menghindarkan diri dari dosa yang bisa memusnahkan kebaikan.
Coba kita renungi, seberapa sering kita merasa bangga akan sedekah kita, puasa kita, atau shalat malam kita? Namun dalam waktu yang sama, kita lupa betapa banyak dosa lisan kita, pandangan yang tak terjaga, atau hati yang penuh rasa dengki. Allah Maha Mengetahui segala yang kita sembunyikan.
Saudaraku, jalan menuju keselamatan bukan hanya memperbanyak amal kebaikan, tetapi juga membersihkan hati dan memperbanyak istighfar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang sudah dijamin masuk surga, tetap beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari. Bagaimana dengan kita yang penuh dosa dan kelalaian?
BACA JUGA: Saudaraku, Agar Hidup Kita Selamat, Bertakwalah
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada yang paling bermanfaat bagi hati selain membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan memperbanyak istighfar.” Ini menunjukkan pentingnya kita selalu memohon ampunan dengan tulus, karena istighfar adalah jalan untuk menghapus dosa dan menenangkan hati.
Saudaraku, marilah kita jadikan hari-hari kita penuh dengan muhasabah. Hitung dosa kita, bukan untuk putus asa, tetapi agar kita sadar dan bersegera memperbaiki diri. Jangan sampai kita termasuk golongan yang sibuk menghitung kebaikan, tetapi lalai dari dosa yang justru menjadi sebab kesengsaraan di akhirat.
Akhirnya, semoga Allah Azza wa Jalla memberi kita taufik untuk selalu sadar, senantiasa bermuhasabah, dan tak pernah lelah memohon ampunan-Nya. Sesungguhnya, hanya dengan rahmat-Nya kita bisa selamat. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


