Saudaraku, perkataan ulama salaf adalah cahaya yang menerangi hati, mengingatkan kita akan hakikat hidup yang sering kita lalaikan. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam Shayd al-Khathir:
“Kuperhatikan kondisi kebanyakan para alim ulama maupun ahli zuhud, yang mereka dalam hukuman Allah namun tak merasakannya. Hal itu terjadi disebabkan karena ambisi mereka meraih kekuasaan. Awal hukuman yang tak mereka sadari adalah dicabutnya lezat bermunajat dan beribadah.”
Renungan ini begitu dalam, Saudaraku. Betapa banyak orang yang tampak alim di mata manusia, namun ternyata jauh dari keikhlasan di hadapan Allah. Seorang ulama bisa saja terseret amarah hanya karena dikritik. Seorang penceramah berusaha memukau dengan kata-katanya, bukan karena ingin menyampaikan kebenaran, melainkan agar dipuji manusia. Bahkan seorang ahli ibadah, bisa jadi terjerat oleh riya dan kemunafikan. Inilah musibah yang sangat halus, hukuman yang tidak terasa namun amat mematikan.
BACA JUGA: Saudaraku, Saat Kita Diuji oleh Sakit
Saudaraku, Sufyan ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat untuk aku obati daripada niatku sendiri. Ia senantiasa berubah-ubah atasku.” Inilah tanda bahwa penyakit hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit jasmani. Sebab, ketika hati rusak, amal pun kehilangan makna di sisi Allah Ta’ala.
Ibnul Jauzi melanjutkan bahwa hanya sedikit orang beriman yang terjaga dari fitnah ini. Mereka adalah hamba-hamba pilihan yang Allah rahmati. Batin mereka seindah lahiriah mereka, bahkan lebih mulia. Amal yang tersembunyi dalam hati mereka lebih indah daripada yang tampak. Mereka tidak ingin dikenal, bahkan berusaha menyembunyikan keistimewaan yang Allah berikan. Saudaraku, inilah tanda orang-orang yang benar-benar ikhlas.
Al-Fudhayl bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata: “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, beramal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas adalah bila Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” Kalimat ini mengajarkan bahwa ikhlas adalah inti dari seluruh amal. Tanpa ikhlas, amal hanyalah debu yang tertiup angin.
BACA JUGA: Saudaraku, Tipu Daya Itu Sangat Halus
Saudaraku, mari kita renungkan. Bukankah kita sering lebih bersemangat beramal ketika dilihat orang, tetapi lalai ketika sendirian? Bukankah kita terkadang lebih peduli pada pujian manusia ketimbang ridha Allah? Jika iya, maka itu tanda bahwa kita masih harus banyak membersihkan hati dari penyakit riya dan cinta dunia.
Maka, jalan keselamatan adalah memperbanyak muhasabah, memohon keikhlasan kepada Allah, dan menjauh dari ambisi duniawi. Sungguh, orang-orang ikhlas adalah penyejuk bumi. Keberadaan mereka membuat bumi bergembira, doa mereka menjaga umat manusia.
Saudaraku, mari kita berdoa sebagaimana doa para salaf: “Ya Allah, jadikan amal kami seluruhnya ikhlas karena-Mu, dan jangan Engkau jadikan sedikit pun darinya untuk selain-Mu.” []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


