Seandainya dulu, aku tinggalkan pekerjaan demi menghadap kepada-Nya.
Seandainya dulu, aku tidak lalai dengan shalat lima waktu.
Seandainya dulu, aku dahulukan shalat dari pada kesibukan dunia yang fana.
Seandainya dulu, aku shalat berjamaah lima waktu sesuai perintah nabi-Nya.
BACA JUGA: Mengapa Jangan Pernah Mengucapkan “Seandainya”
Seandainya dulu, aku berwudlu sebelum adzan berkumandang dan menunggu shalat di awal waktu.
Seandainya dulu, aku perbanyak langkah menuju masjid untuk berjamaah demi keridoan-Nya.
Seandainya dulu, aku tidak ingin di puji karena suara yang merdu dalam mengumandangkan adzan di saban waktu.
Seandainya dulu, aku merapikan baju dan berminyak wangi sebelum shalat untuk menghadap-Nya.
Seandainya dulu, aku mantabkan wudlu untuk kesempurnaan shalat-ku.
Seandainya dulu, aku husuk dalam shalat menghadap kiblat dan hati tertuju kepada-Nya.
Seandainya dulu, aku perbanyak zikir, mungkin tidak semalang ini nasib-ku.
Seandainya dulu, aku lebih sering berdiam diri di Masjid dari pada nongkrong di warung kopi.
BACA JUGA: Mayat yang Ingin Bersedekah
Seandainya dulu, aku sempatkan membaca Al-Quran dan maknanya dengan tidak menuggu waktu senggang kerja.
Seandainya dulu, aku mengaji tidak ingin dipuji, tidak mengganggu orang tidur di malam yang sunyi …
“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang.” (HR Tirmidzi) []
SUMBER: MEDIA SOSIAL
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


