Kisah ini dinukil dari Syarh Riyadhus Shalihin.
Karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah.
Dahulu, ada seorang dari Ahlu Hisbah.
Ia bertugas menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Ia biasa menegur kesalahan di tengah masyarakat.
Suatu hari, ia melewati seorang penggembala unta.
Orang itu sedang menimba air dari sumur.
Waktunya bertepatan dengan adzan Magrib.
Kebiasaan para penggembala adalah melantunkan syair.
Syair itu disebut hida’.
Tujuannya agar unta menjadi lebih kuat dan bersemangat.
Unta memang peka terhadap lantunan suara.
BACA JUGA: Jilbab Punuk Unta
Melihat hal itu, anggota Ahlu Hisbah datang.
Ia tidak sendirian.
Ia menegur dengan kata-kata kasar.
Nada bicaranya menyakitkan.
Penggembala itu sedang lelah.
Pikirannya sempit karena pekerjaan.
Emosinya pun tersulut.
Ia memukul lelaki itu dengan tongkatnya.
Anggota Ahlu Hisbah pun lari.
Ia menuju masjid.
Di sana ia bertemu seorang syaikh.
Seorang ulama, keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.
Ia menceritakan semua yang terjadi.
Bahwa dirinya menegur.
Dan ia dipukul dengan tongkat.
Keesokan harinya, sang syaikh datang sendiri.
Ia datang sebelum matahari terbenam.
Ia berwudhu dari sumur tersebut.
Ia meletakkan jubahnya di dekat sumur.
Adzan Magrib pun berkumandang.
Syaikh berdiri seolah hendak mengambil jubahnya.
Lalu ia menyapa penggembala itu.
Dengan suara lembut ia berkata,
“Wahai saudaraku, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”
“Kamu sedang melakukan amal yang baik.”
“Kamu orang yang berada di atas kebaikan.”
“Kini telah masuk waktu Magrib.”
“Andai engkau shalat terlebih dahulu.”
“Lalu kembali bekerja.”
“Engkau tidak akan rugi apa pun.”
Ucapan itu menenangkan hati.
Penggembala pun tersentuh.
Ia lalu bercerita.
“Kemarin ada orang kasar mendatangiku.”
“Ia membentakku.”
“Ia berkata buruk hingga aku marah.”
“Aku tidak mampu menahan diri.”
“Akhirnya aku memukulnya.”
Syaikh menjawab dengan tenang.
“Masalah seperti ini tidak perlu kekerasan.”
“Engkau orang yang berakal.”
Syaikh terus berbicara lembut.
Tanpa mencela.
Tanpa meninggikan suara.
BACA JUGA: Unta Nabi Berhenti di Rumah Abu Ayyub Al Ansari
Penggembala itu pun luluh.
Ia menyandarkan tongkatnya.
Tongkat yang biasa dipakai memukul unta.
Lalu ia pergi shalat.
Ia shalat dengan patuh.
Dengan hati yang lapang.
Tanpa paksaan.
Inilah pelajaran besar.
Amar ma’ruf butuh hikmah.
Bukan sekadar niat baik.
Namun juga cara yang benar.
Kelembutan membuka hati.
Kekerasan sering menutupnya. []
📚 Syarh Riyadhus Shalihin,
Jilid 2, Bab Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.
Karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah.
RUJUJKAN: MUSLIM.OR.ID
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


