Shalat malam atau tahajjud adalah ibadah yang dipuji dalam Al-Qur’an dan sunnah, serta dijadikan sebagai ciri utama orang-orang saleh dari kalangan salaf. Tidak ada amalan sunnah yang begitu tinggi kedudukannya hingga disebut sebagai kemuliaan seorang mukmin, kecuali shalat malam. Namun, tidak sedikit dari kita yang merasa berat untuk melaksanakannya, meski hati begitu ingin.
Fudhail bin ‘Iyâdh – seorang ulama besar dari kalangan tabi’in – pernah memberikan peringatan yang mendalam. Beliau berkata, “Bila engkau tidak sanggup melaksanakan shalat di malam hari dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau orang yang terhalang (dari kebaikan) lagi banyak dosa.” Ucapan ini menunjukkan bahwa kesulitan kita dalam ibadah bukanlah semata-mata karena letih fisik, tetapi karena adanya penghalang berupa dosa yang menumpuk.
Kisah tentang seorang lelaki yang datang kepada Hasan al-Bashri juga memberi pelajaran. Lelaki itu berkata, “Aku tidur dalam keadaan sehat, aku sangat ingin bangun melaksanakan shalat malam, bahkan telah kusiapkan air wudhu. Namun mengapa aku tetap tidak bisa bangun?” Hasan al-Bashri menjawab singkat namun tegas, “Engkau telah dibelenggu oleh dosa-dosamu.”
BACA JUGA: Shalat Malam, Kebiasaan Orang-orang Shalih
Ucapan ini seakan menggambarkan bahwa setiap maksiat di siang hari berdampak pada hati yang menjadi berat untuk beribadah di malam hari. Salah seorang dari generasi salaf mengingatkan, “Bila engkau belum bisa mengambil bagian di waktu malam, maka janganlah engkau bermaksiat kepada Rabbmu di waktu siang.” Artinya, menjaga diri dari dosa di siang hari adalah kunci agar malam kita tidak kosong dari ibadah.
Lebih dari itu, kemuliaan shalat malam ditegaskan langsung dalam sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’ad. Beliau menceritakan bahwa Jibril datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya kematian pasti akan menjemputmu. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya.” Kemudian Jibril menambahkan pesan agung, “Hai Muhammad, kemuliaan seorang mukmin terletak pada shalat malam, dan kehormatannya adalah pada saat ia tak lagi bergantung pada manusia.” (HR. Thabrani, dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani).
Perkataan Jibril ini menunjukkan bahwa shalat malam bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan kemuliaan dan identitas seorang mukmin. Sementara kehormatan seorang hamba bukan diukur dari hartanya atau kedudukannya, melainkan dari kemandiriannya di hadapan manusia dan ketundukannya di hadapan Allah.
BACA JUGA: Sahabat Malam: Abdullah bin Umar
Maka, bila kita mendapati diri begitu sulit bangun di sepertiga malam terakhir, jangan hanya menyalahkan rasa kantuk atau kelelahan. Renungkanlah, barangkali dosa-dosa kita di siang hari telah mengikat jiwa dan melemahkan hati. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Dosa-dosa itu adalah rantai dan belenggu. Semakin banyak dosa seseorang, semakin berat langkahnya menuju ketaatan.”
Oleh karena itu, mari berjuang memperbanyak istighfar, menjauhi maksiat, dan membiasakan ibadah kecil di siang hari agar Allah mudahkan langkah kita menuju kemuliaan malam. Karena pada akhirnya, hanya dengan bersujud di sunyi malam seorang mukmin meraih cahaya hati, ketenangan jiwa, dan kedudukan mulia di sisi Allah. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


