JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

Sifat Pedagang Muslim yang Tepercaya (1)

Pedagang harus memiliki sifat dan akhlak yang baik, sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala memberkahi perniagaan dan rezekinya.

Di antara sifat-sifat pedagang adalah sebagai berikut :

· Perdagangan yang dijalankannya tidak menyibukkannya dari dzikir (mengingat) kepada Allah Ta’ala, shalat, dan dari memenuhi hak-hak Allah pada hartanya. Allah Ta’ala telah memuji hamba-hamba-Nya yang beriman, yang perniagaan mereka tidak melalaikan dari ketaatan kepada-Nya. Allah berfirman,

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ * لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

النور/ 37، 38.

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. An-Nur : 37-38).

BACA JUGA:  Abu Abdirrahman Hatim bin Alwan dan Seorang Pedagang Wanita yang Kentut Tak Sengaja

· Memperhatikan ha-hal yang halal dan tidak memasukkan hal-hal haram pada diri dan keluarganya. Allah Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

النساء/29 .

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS. An-Nisa’ : 29).

· Menjauhi syubhat. Dalam hadits disebutkan,

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ رواه البخاري (52) ، ومسلم (1599).

“Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram.” (HR. Al-Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599).

Menghias diri dengan kebaikan, kejujurdan, dan takwa kepada Allah.

فعن حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا ، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا .رواه البخاري (1973) ، ومسلم (1532) .

Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila keduanya berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan pada transaksi mereka berdua.” (HR. Al-Bukhari, no. 1973 dan Muslim, no. 1599).

وعنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ رِفَاعَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ : أَنَّهُ خَرَجَ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِلَى الْمُصَلَّى ، فَرَأَى النَّاسَ يَتَبَايَعُونَ فَقَالَ : ( يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ ) ، فَاسْتَجَابُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَرَفَعُوا أَعْنَاقَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ إِلَيْهِ فَقَالَ : إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّاراً ، إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ .رواه الترمذي (1210) ، وابن ماجه (2146) ، وصححه الألباني في ” صحيح الترغيب ” (1785) .

Diriwayatkan dari Ismail bin Ubaid bin Rifa’ah dari ayahnya dari kakeknya, ia mengatakan bahwa ia pernah keluar bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ke tempat shalat dan melihat manusia sedang melakukan transaksi jual beli. Beliau lalu menyeru, “Wahai para pedagang!” Orang-orang pun memperhatikan seruan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sambil menengadahkan leher dan pandangan mereka pada beliau. Lantas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari Kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur.” (HR. Tirmidzi, no. 1210, Ibnu Majah, no. 2146, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 1785).

· Tidak lupa bersedekah.

فعَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي غَرَزَةَ قال : كان صلى الله عليه وسلم يقول : يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلِفُ ، فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ .

Qais bin Abu Gharzah meriwayatkan, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Wahai para pedagang, jual beli ini telah tercampur dengan hal-hal yang sia-sia dan sumpah, maka bersihkanlah dengan sedekah.’” (HR. At-Tirmidzi, no. 1208, Abu Daud, no. 3797 dan Ibnu Majah, no. 2145 serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Daud).

· Toleran dan mudah.

فعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى رواه البخاري (1970) .

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati hamba yang bermurah hati ketika dia menjual, yang bermurah hati ketika membeli, yang bermurah hati ketika menagih utang.” (HR. Bukhari, no. 1970).

BACA JUGA: Kedudukan Pedagang pada Hari Kiamat

· Memberi tenggang waktu kepada orang yang kesulitan melunasi hutang dan membebaskan hutangnya.

فعن أبي اليسر رضي الله عنه قال : قال صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِراً أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ رواه مسلم ( 3006 ) .

Diriwayatkan dari Abu Al-Yusri Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah.’” (HR. Muslim, no. 3006).

· Menjauhi transaksi yang haram dan sifat-sifat tercela yang tidak layak dilakukan oleh seorang Muslim, baik ia seorang pedagang atau bukan, seperti transaksi riba, jual-beli yang mengandung unsur penipuan, jual-beli ‘Inah, berdagang barang-barang haram, berbuat kecurangan, dusta, penipuan dan sejenisnya.

· Seorang pedagang Muslim juga garus memerhatikan akhlak-akhlak yang baik, seperti menerima pembatalan transaksi, membantu orang yang membutuhkan, menyayangi pedagang lainnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, sering berdoa untuk pedagang lainnya dan saudara-saudara Muslimnya agar Allah memberikan kecukupan dengan hal-hal yang halal daripada yang haram, dan memberikan kecukupan dari karunia-Nya daripada dari selain-Nya. []

BERSAMBUNG | SUMBER: ISLAMQA

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Pangkal Segala Keburukan dan Penawarnya

Kajian

Akikah: Tanggung Jawab Ayah dan Anjuran Bagi Anak yang Belum Diaqiqahi

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah yang Melakukan Amar Makruf Nahi Munkar

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah dalam Perkara Haji

Leave a Reply