Ada sebagian orang yang menghabiskan usianya untuk mendengar hadits Nabi, melakukan perjalanan jauh dalam rangka mencari hadits, mengumpulkan jalur-jalur periwayatannya yang amat banyak, mencari sanad-sanadnya yang tinggi dan matan-matannya yang asing. Mereka ada dua macam.
Pertama; mereka yang hendak menjaga syariat Islam dengan mengetahui antara hadits shahih dan hadits dha’if. Sesuai tujuan itu, mereka patut mendapat pujian. Tapi, Iblis kadang menalbiskan tujuan mereka ini. Iblis menjadikan mereka sangat sibuk dengan aktivitas itu sehingga lalai untuk mengerjakan sesuatu yang hukumnya fardhu ‘ain, yaitu mengetahui apa yang wajib atas mereka, bersungguh-sungguh dalam melakukan kewajiban itu, dan memahami ilmu yang terkandung dalam hadits.
Jika ada yang berkomentar: “Hal ini telah dilakukan oleh banyak ulama Salaf; sebut saja Yahya bin Ma’in, Ibnul Madini, al-Bukhari, dan Muslim!”
Kami tanggapi; ulama-ulama itu sudah menghimpun dua hal dalam diri masing-masing, yaitu:
(1) mengetahui serta memahami berbagai perkara agama yang memang penting, dan
(2) mengetahui hadits yang mereka cari. Upaya mereka itu juga didukung oleh sanad yang masih pendek dan hadits yang masih sedikit diketahui. Karena dua hal inilah, mereka mudah melakukan aktivitas tersebut.
BACA JUGA: Talbis Iblis terhadap Para Penceramah, Pemberi Nasihat, dan Penutur Kisah (2-Habis)
Sedangkan di zaman sekarang ini, jalur-jalur hadits sudah sangat panjang dan kitab-kitab hadits sangat banyak. Maka, kecil kemungkinan seseorang mampu menghimpun kedua hal tersebut di atas. Bisa jadi, Anda mendapati seorang ahli hadits yang menulis serta mendengar hadits selama 50 tahun; dia pun mengumpulkan berbagai kitab hadits.
Meski demikian, dia tidak mengetahui kandungan/faedah yang ada di dalam hadits-hadits tersebut. Akibatnya, pada saat dia mendapati suatu permasalahan di dalam shalatnya, dia akan bertanya kepada ahli fiqih pemula yang mendengar hadits darinya.
Disebabkan orang seperti itulah para pencela ahli hadits dapat melontarkan celaan dengan nada yang mencemooh: “Orang-orang itu selalu saja bepergian jauh untuk mencari hadits, tetapi mereka tidak tahu apa yang didapat darinya.”
Jika salah seorang dari mereka berhasil mendapatkan dan melakukan penelitian terhadap suatu hadits, boleh jadi dia mengamalkan hadits yang mansukh (tidak valid lagi), atau dia memahami hadits seperti pemahaman orang awam yang jahil lalu mengamalkannya padahal itu tidak benar.
Al-Khathabi bercerita: “Di antara guru kami ada yang meriwayatkan hadits:
أن النبي الله ما نهى عن الحلق قبل الصلاةِ يَوْمَ الجمعةِ.
‘Bahwasanya Nabi melarang membuat halaqah sebelum shalat pada hari Jum’at.”
Akan tetapi, dia meriwayatkannya dengan men-sukun-kan (huruf lam) menjadi: تهى من الخلق ) melarang bercukur.”
Al-Khathabi meneruskan: “Dia berkata bahwa selama 40 tahun rambut kepalanya tidak dicukur sebelum shalat Jum’at. Kemudian aku pun berkata padanya: “Yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah الجلل bentuk jamak dari kata خانة )halaqah). Rasulullah melarang kita mengadakan perkumpulan untuk kajian ilmu atau madzakarab sebelum shalat Jum’at. Beliau memerintahkan kita agar mempersiapkan diri dalam rangka menuju ke shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah.” Maka guru kami berucap: “Telah kamu hilangkan penderitaanku. Guru kami itu termasuk orang shalih.”
Pada zaman sekarang ini, kami menyaksikan beberapa orang yang mengumpulkan banyak kitab dan mendengar banyak hadits namun tidak memahami apa yang sudah dia dapatkan dengan susah payah itu
BACA JUGA: Talbis Iblis terhadap Kaum Sufisthaiyah
Di antara mereka ada yang tidak menghafal al-Quran serta tidak mengetahui rukun-rukun shalat. Mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bersifat fardhu kifayah dan mengabaikan perkara yang fardhu ‘ain. Padahal, mendahulukan sesuatu yang kurang penting atas sesuatu yang lebih penting tidak lain salah satu dari bentuk talbis Iblis.
Kedua, mereka yang banyak mendengar hadits namun tidak mempunyai niat yang benar. Mereka tidak bermaksud mengetahui hadits shahih dan dha’if dengan mengumpulkan berbagai jalur riwayat. Mereka hanya ingin mengumpulkan sanad sanad tinggi dan hadits hadits asing. Mereka keliling dunia mencari hadits supaya bisa mengucapkan “Aku telah bertemu dengan fulan; Aku mempunyai sanad sanad yang tidak dimiliki oleh orang lain, Aku mempunyai hadits hadits vang tindak dimiliki orang lain.” []
Sumber: Al-Muntaqa An-Nafis min Talbîs Iblîs (Talbis Iblis – Tipu Daya dan Perangkap Iblis ddalam Upaya Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Kehancuran / Penulis: Ibnul Jauzi / Penerbit: : Dar Ibnul Jauzi Riyadh KSA / Cet. I 1429 Η / Pustaka Imam Syafi’i / Cetakan Keenam Jumadil Ula 1442 H / Desember 2020 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


