Ironis.
Justru ketika Ramadhan hampir selesai, sebagian orang malah mulai melemah semangatnya.
Di awal Ramadhan masjid penuh.
Tilawah semangat.
Sedekah lancar.
Shalat malam ramai.
Namun ketika memasuki 10 hari terakhir, justru terjadi sebaliknya. Masjid mulai lengang, ibadah berkurang, dan perhatian mulai bergeser kepada persiapan lebaran.
BACA JUGA: Memperbanyak Dzikir di Bulan Ramadhan
Padahal inilah fase paling mulia dalam Ramadhan.
Rasulullah ﷺ justru meningkatkan ibadahnya pada 10 malam terakhir melebihi malam-malam sebelumnya.
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah ﷺ mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kenapa demikian?
Karena pada 10 malam terakhir terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan.
Allah Ta’ala berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
Bayangkan…
Satu malam ibadah bisa lebih bernilai daripada ibadah selama lebih dari 83 tahun.
Maka sangat disayangkan jika seseorang justru melemah ketika kesempatan terbesar sedang di depan mata.
BACA JUGA: Makna Pintu Surga Dibuka dan Pintu Neraka Ditutup di Bulan Ramadhan
Jika di awal Ramadhan kita semangat, maka 10 hari terakhir harusnya lebih kuat lagi.
Bukan waktunya menurun.
Justru waktunya mengejar penutup terbaik.
Karena yang dinilai dalam amal adalah penutupnya.
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menghidupkan 10 malam terakhir Ramadhan dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


