Berikut ini rukshah atau keringanan bagi Muslim yang tengah melakukan safar:
1- Boleh shalat sunnah di atas kendaraan
Dibolehkan shalat sunnah di atas kendaraan ke arah manapun kendaraan tersebut berjalan, berdasarkan perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Bahwa Rasulullah ﷺ pernah shalat sunnah di atas hewan tunggangannya ke arah manapun unta yang ditungganginya berjalan.” (HR. Muslim)
2- Mengusap khuf
Dibolehkan mengusap khuf (sepatu) selama tiga hari tiga malam, sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyalahu ‘anhu. Beliau berkata, “Nabi ﷺ menetapkan untuk kami tiga hari tiga malam sebagai jangka waktu mengusap khuf bagi musafir dan sehari semalam bagi muqim (orang yang menetap)”. (HR. Muslim).
BACA JUGA: Bolehkah Musafir Tidak Mengerjakan Shalat di Masjid
3- Tayamum
Musafir dibolehkan tayammum bila kehabisan air, atau sulit mendapatkan air, atau harganya mahal, berdasarkan firman Allah SWT, “Dan jika kalian sakit atau sedang dalam perjalanan (safar), atau sehabis buang air, atau telah menggauli istri, sedangkan kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); maka usaplah wajah dan tanganmu dengan (debu) itu.” (Qs. An-Nisa: 43).
4- Boleh menjama shalat
Dibolehkan menjama’ shalat Dzuhur dan Asar atau maghrib dan Isya dengan jama’ taqdim atau jama’ ta’khir jika perjalanan sulit. Sehinnga dapat mengerjakan shalat Dzuhur dan Ashar di waktu dzuhur atau Shalat Maghrib dan Isya di waktu Maghrib;jama’ taqdim. Atau melakukan jama’ ta’khir dimana shalat Dzuhur dan Ashar dikerjakan di waktu Ashar dan shalat maghrib dan Isya dikerjakan di waktu Isya. Hal ini berdasarkan perkataan Mu’adz bin Jabal ra, “Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ pada perang Tabuk, saat itu beliau menjama’ shalat Dzuhur dan Ashar serta menjama’ anatara shalat Maghrib dan Isya.” (HR. Muslim).
5- Boleh mengqashar shalat
Orang yang bepergian boleh mengqashar shalat yang empat raka’at menjadi dua raka’at. Kecuali shalat Maghrib, maka tetap dikerjakan tiga rakaat. Mengqashar dapat dilakukan setelah seseorang keluar dan meninggalkan negeri atau kampung yang ditinggalinya. Keringanan berupa bolehnya mengqashar shalat dijelaskan oleh Allah dalam Surah An-Nisa ayat 101, “Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqashar shalat.”
BACA JUGA: Wajibkah Shalat Jumat bagi Musafir?
Anas bin Malik ra juga menuturkan, “Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ dari Madinah menuju Mekah, lalu beliau mengerjakan shalat yang empat rakaat dengan dua rakaaat dua rakaat hingga beliau kembali ke Madinah”. (HR. Nasai dan Tirmidzi)
6- Boleh tidak berpuasa Ramadhan
Musafir mendapat keringanan tidak berpuasa Ramadhan, berdasarkan firman Allah, “…Maka barangsipa di antara kamu yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak puasa), maka (wajib baginya mengganti) sejumlah hari (yang ia tidak berpuasa) pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 184)
Dengan diberikannya keringanan bagi setiap Muslim yang bepergian, maka tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan kewajiban beribadah seperti shalat. []
SUMBER: WAHDAH
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


