JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibadah

7 Keutamaan Wudhu

Menurut bahasa, Al-Wudhu berasal dari kata Al-Wadha’ah yang artinya kebersihan dan kecerahan. Sedang Al-Wudhu’ dengan mendhammahkan huruf dhadh adalah perbuatannya. Al-Wadhu dengan memfathahkan huruf dhadh adalah air yang digunakan untuk berwudhu. Atau bisa juga merupakan masdar. Bisa dikatakan memiliki dua versi makna. (Al-Qamus (1/33), Mukhtarus Shihah (575), Al-Majmu’ (1/355).

Adapun secara istilah menggunakan air pada anggota badan tertentu (wajah, kedua tangan, kepala dan dua kaki) untuk menghilangkan sesuatu yang menghalangi shalat dan semisalnya.

Para ulama seluruhnya telah sepakat atas disyariatkannya wudhu, dan shalat tidak sah tanpa bersuci, jika memungkinkan untuk melaksanakannya.

Keutamaan Wudhu

1. Bersuci adalah setengah dari iman.

Diriwayatkan oleh Abu Malik Al-Asy’ari, ia menuturkan bahwa Nabi bersabda:

الظُّهُورُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ

“Bersuci (wudhu’) adalah separuh iman.” (Shahih. HR. Muslim (223).

BACA JUGA: Pahala Wudhu di Rumah Atau Kantor Sebelum Berangkat Shalat ke Masjid

2. Menghapus dosa-dosa kecil.

Dari Abu Hurairah, ia menuturkan bahwa Nabi bersabda, “Jika seorang muslim-mukmin-berwudhu, ketika membasuh wajahnya, maka keluar dari wajahnya kesalahan yang dilakukan oleh pandangan mata pada tiap tetesannya atau akhir tetesannya. Apabila ia membasuh tangannya, maka keluar darinya setiap kesalahan yang dilakukan oleh tangannya pada tiap tetesan atau pada tetesan terakhir. Apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluar darinya setiap kesalahan kedua kakinya dalam melangkah, pada tiap tetesan air atau akhir tetesannya. Demikian itu sampai hamba tersebut keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (Shahih. HR. Muslim (244)

مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَكَانَتْ صَلَاتُهُ وَ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ نَافِلَةٌ

“Barang siapa berwudhu seperti ini niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sedangkan shalat dan berjalannya ke masjid dihitung sebagai amalan sunnah.” (Shahih, HR. Muslim (229)

Dalam hadits Utsman tentang sifat wudhu Nabi, ia menuturkan bahwa Nabi bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ مِثْلَ وُضُونِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يَحْدُثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian mengerjakan shalat dua raka’at dan menjalankannya dengan penuh kekhusyukan, maka Allah akan mengampuni seluruh dosanya yang telah lalu.”(Shahih. HR Al Bukhari (6433), Muslim (226)

3. Mengangkat derajat seorang hamba.

Dari Abu Hurairah, ia menuturkan bahwa Nabi bersabda:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ خَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الخُطا إِلَى الْمَسْجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Para shahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang dibenci (seperti pada keadaan yang sangat dingin), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath, itulah ribath, ” (Shahih. HR. Muslim (251)

4. Jalan ke surga.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda kepada Bilal:

يَا بِلَالُ، حَدَّثَنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ، إِنِّي سَمِعْتُ دُفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ

“Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan yang pernah engkau amalkan dalam Islam. Sungguh aku telah mendengarkan suara kedua sandalmu di depanku dalam surga”. Bilal berkata, “Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling aku harapkan di sisiku. Hanyasanya aku tidaklah bersuci di waktu malam atau siang. kecuali aku shalat bersama wudhu itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku.” (Shahih. HR. Al-Bukhan (1149), Muslim (2458)

Dari Uqbah bin Amir, ia menuturkan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، يُقْبِلُ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ، وَجَبَتْ له الجنة

“Barang siapa berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya, lantas mengerjakan shalat dua raka’at dengan segenap hatinya dan mengharap ridha-Nya, maka surga wajib untuknya.” (Shahih. HR Muslim (234), An-Nasa (1/80) dan lainnya)

BACA JUGA: 6 Rukun Wudhu

5. Tanda keistimewaan umat ini ketika mereka mendatangi telaga.

Dari Abu Hurairah bahwa, Rasulullah pernah mendatangi kuburan dan bersabda, “Semoga keselamatan bagi kalian wahai rumah kaum mukminin dan Insya Allah kami akan segera menyusul kalian. Aku sangat ingin melihat saudara-saudara kami”. Mereka (para shahabat) berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Kalian adalah para shahabatku. Sedang saudara kami adalah orang-orang yang belum datang berikutnya”. Mereka berkata, “Bagaimana anda mengenal orang-orang yang belum datang berikutnya dari kalangan umatmu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagaimana pandanganmu jika seseorang memiliki seekor kuda yang putih wajah, dan kakinya di antara kuda yang hitam pekat. Bukankah ia bisa mengenal kudanya”. Mereka berkata, “Betul, wahai Rasulullah”. Beliau melanjutkan. “Sesungguhnya mereka akan datang dalam keadaan putih wajah dan kakinya karena wudhu. Sedang aku akan mendahului mereka menuju telaga. Ingatlah, sungguh akan terusir beberapa orang dari telagaku sebagaimana unta yang tersesat dan terusir. Aku memanggit mereka, “Ingat, kemarilah!” Lalu dikatakan (kepadaku), “Sesungguhnya mereka melakukan perubahan setelahmu. Lalu aku katakan, “Semoga Allah menjauhkan mereka.” (Shahih HR. Muslim (2341, An-Nasa’ (1/80)

Lafadz Al-Ghurrah adalah tanda putih yang ada pada jidat seekor kuda. Maksudnya dalam hadits ini adalah cahaya yang ada pada wajah umat Nabi Muhammad. Adapun At-Tahjil adalah warna putih yang berada di tiga kaki kuda, dan ini artinya juga adalah cahaya.

6. Cahaya bagi seorang hamba di hari kiamat.

Dari Abu Hurairaha, ia menuturkan, “Aku mendengar kekasihku Muhammad bersabda:

تَبْلُعُ الحِلْيَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوءُ

“Perhiasan seorang mukmin pada hari kiamat sebagaimana bagian yang terkena basuhan air wudhu.” (165. Shubh. HR. Muslim (250, Nasai (10) Al-Hilyah artinya cahaya pada hari kiamat.

7. Sebagai pembuka ikatan setan.

Dari Abu Hurairah ia menuturkan bahwa Nabi bersabda, “Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk seseorang di antara kalian jika ia tidur.

Setan akan memukul setiap ikatan itu (seraya membisikkan), “Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah”. Jika ia bangun seraya menyebut Allah (berdzikir), maka terlepaslah sebuah ikatan. Jika ia berwudhu, maka sebuah ikatan yang lain terlepas. Jika ia shalat, maka sebuah ikatan akan terlepas lagi. Lantaran itu, ia akan menjadi bersemangat lagi baik jiwanya. Jika tidak demikian, maka ia akan jelek jiwanya lagi malas.” (166. Skahh HR. Al-Bukhari (1142) Muslim (776) []

Sumber: Shahih Fiqhu As-Sunnah (Shahih Fiqih Sunnah (Jilid 1)/ Penulis: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim / Penerbit: Insan Kamil / Cetakan: Cet. 1: Nopember 2021 / Rabiul Akhir 1443 H

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibadah

Waktu Shalat Syuruq

Ibadah

Apa Saja yang Bisa Dikerjakan dengan Tayamum?

Ibadah

Tayamum

Ibadah

8 Kiat Istiqomah Membaca Al-Qur’an