Jika Aku Tidak Berdiri Karena Ilmunya, Aku Berdiri Karena Usianya yang Lebih Tua
Umar bin Sa’id, saudara Sufyan Ats-Tsauri, meninggal dunia. Orang-orang kemudian datang melayat, dan ternyata majelis dipe-nuhi pihak keluarga, di antara mereka ada Abdullah bin Idris. Abu Hanifah datang bersama rombongan. Saat melihatnya, Sufyan bangun dari tempat duduknya, merangkul Abu Hanifah, mempersilahkannya duduk di tempatnya, lalu ia duduk di hadapannya.
Abu Bakar berkata marah kepadanya. Abdullah bin Idris ber-kata, “Bagaimana kamu ini! Apa engkau tidak tahu?!” la kemudian duduk sampai orang-orang bubar. Setelah itu ia berkata kepada Abdullah bin Idris, “Jangan pergi dulu sampai kami tahu kenapa ia bersikap seperti itu padanya (Abu Hanifah).” la berkata, “Wahai Abu Abdullah! Pada hari ini, aku melihatmu melakukan sesuatu yang aku ingkari dan juga diingkari sahabat-sahabat kami.”
“Apa itu?” tanya Sufyan.
BACA JUGA: Abu Hanifah dan Satu Nasihat dari Anak Kecil
la katakan, “Abu Hanifah datang kepadamu, lalu engkau ber-diri menghampirinya dan engkau menempatkannya di tempat dudukmu.”
Sufyan memberikan penjelasan, “Dia itu punya kedudukan dalam ilmu. Jika aku tidak berdiri karena ilmunya, aku berdiri ka-rena usianya (yang lebih tua dariku). Jika aku tidak berdiri karena usianya, aku berdiri karena fikihnya. Jika aku tidak berdiri karena fikih-nya, aku berdiri karena wara’-nya.” la membuatku terdiam tanpa bisa menjawab.” (Tarikh Baghdad, XIII: 341)
Seorang Wanita dan Pakaian
Pemah seorang wanita datang menemul Abu Hanifah di tokonya untuk meminta pakaian sutera, Abu Hanifah kemudian mengeluarkan pakalan mewah untuknya.
Si wanita itu berkata “Aku ini wanita lemah, Tadinya aku punya pakalan sutera tapt hilang, Juallah padaku sebuah pakaian yang datang kepadamu dengan harga berapa saja yang engkau mau.”
Dengan iba, Abu Hanifah berkata kepada wanita itu, “Ambillah pakaian ini dengan harga empat dirham.”
Si wanita berkata, “Jangan menghinaku, semoga Allah merah matimu. Aku ini wanita tua.”
Abu Hanifah berkata, “Aku membeli dua baju lalu aku menjual salah satunya dengan harga yang aku gunakan untuk membell kedua baju tersebut, kurang empat dirham. Maka, harga baju ini adalah empat dirham.”
Si wanita itu akhirnya mengambil pakaian tersebut seraya berterima kasih terhadap akhlak dan kezuhudan Abu Hanifah.
BACA JUGA: Imam Abu Hanifah dan Rumah Orang Majusi
Bagiku Kau Lebih Jujur
Seseorang pernah menemui Ibnu Abi Laila, memberitahu kan kepadanya bahwa Abu Hanifah mengambil uang milik salah seorang kerabatnya lalu ia serahkan uang itu kepada anaknya untuk diperdagangkan. Ibnu Abi Laila kemudian mengirim utusan kepada Abu Hanifah dan menceritakan kepadanya perihal kata-kata orang tersebut.
Dengan jujur dan amanah, Abu Hanifah berkata, “Uangnya memang ada padaku dengan stempel awal seperti yang dibubuhkan pemiliknya. Maka dari itu, silahkan engkau kirim seorang utusan bersamaku untuk melihat.”
Ibnu Abi Laila berkata, “Bagiku engkau lebih jujur dan yang benar adalah seperti yang engkau katakan.”
Abu Hanifah tetap bersikeras agar Ibnu Abi Laila mengirim seorang utusan bersama-nya. Setelah utusan memasuki rumah Abu Hanifah, ia mendapati uang tersebut masih di tempatnya seperti yang diletakkan pemiliknya. []
Sumber: 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Abi Hanifah An-Nu man -100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Malik bin Anas – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Asy-Syafii – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Ahmad bin Hanbal (400 Kisah Hidup Imam Empat Madzhab) /Penulis: Dr Muhammad Shiddiq Al-Minsyawi / Penerbit: Zam Zam Cetakan V: September 2023
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


