“Berhati-hatilah. Jangan sampai engkau terjatuh pada lumpur,” Abu Hanifah rahimahullaah berucap. Ketika suatu hari beliau jumpai seorang anak kecil bermain-main dengan lumpur.
“Berhati-hatilah Anda dari terjatuh (salah dalam memberi fatwa), karena jatuhnya seorang ulama adalah jatuhnya seluruh dunia,” jawaban lantang nan tegas ini diberikan si anak, pada sosok imam agung tersebut.
Gemetarlah seluruh tubuh Abu Hanifah.
Sejak itu, beliau tak lagi mengeluarkan fatwa kecuali setelah penelitian mendalam bersama murid-muridnya.
BACA JUGA: Imam Abu Hanifah dan Seorang Perempuan Penjual Pakaian
Saat lain. Dalam sebuah perjalanan. Abu Hanifah menginjak kaki seorang anak kecil, tanpa sengaja. Anak itu kemudian berkata, “Wahai Syaikh, tidakkah engkau takut hukuman qishash di hari kiamat kelak?”
Perkataan ini membuat Abu Hanifah jatuh pingsan. Saat siuman, beliau ditanya, “Wahai Abu Hanifah, betapa dahsyat perkataan anak kecil itu menghujam hatimu.”
Abu Hanifah menjawab, “Aku khawatir dia sedang men-talqin-ku.”
Kisah ini hanya salah satu contoh. Bagaimana sosok pribadi agung yang penuh ilmu, menerima nasihat dan kebenaran, dari anak kecil sekalipun. Bahkan menjadikan nasihat tersebut, acuan dalam tindakannya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan ad-Dailami dari Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Aku berkata kepada Nabi Shallallaahu ‘alayhi wasallam, “Ajarilah aku beberapa kalimat yang bersifat universal dan bermanfaat.”
Beliau bersabda, “Beribadahlah kepada Allah dan jangan engkau sekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Selalu berpeganglah pada Al-Qur’an dalam kondisi apapun. Terimalah kebenaran dari siapa pun yang membawanya, baik anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu benci dan jauh. Tolaklah kebatilan dari saiapa pun yang membawanya, baik anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu cinta dan dekat.”
Menerima kebenaran dari anak adalah sebuah pelatihan baginya. Bahwa jiwa kita harus tunduk pada nilai kebenaran tersebut.
Adalah termasuk kesombongan, ketika orang dewasa menolak kebenaran yang disampaikan anak kecil.
BACA JUGA: Abu Hanifah, ‘Imam para Imam’;
Berdialoglah dengan anak. Bukan hanya sekadar raga yang wujud. Hadirkan pikiran dan hati. Sangat mungkin, ada perkataan mereka yang mampu menggetarkan ruh kita. Jika kita menyediakan diri kita dengan segala kerendahan hati.
Nasihat dan nilai kebenaran. Tak akan mampu menggapai hati yang diposisikan terlalu tinggi.
Ketinggian hati hanya akan melahirkan sifat merendahkan. Tingginya hati hanya akan membuatnya menerima kebenaran dari apa dan siapa yang ia cintai saja. Mengabaikan kebenaran, dari apa dan siapa yang ia tidak condong padanya. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


