JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

Bersyukurlah atas Makanan dan Minumanmu yang Diberikan kepadamu (2-Habis)

Termasuk kenikmatan yang besar adalah nikmat makanan. Jika nikmat makanan tersebut tidak membuahkan rasa syukur kepada Allah, maka akan menjadi musibah bagi yang bersangkutan. Allah mengingatkan hal ini agar orang-orang beriman memakan dari rezeki halal dan senantiasa bersyukur kepada Allah. Allah berfirman dalam Surah Al-Mu’minun (23) ayat 51:

يٰٓاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًاۗ

“Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan….”

Jika pada ayat sebelumnya Allah menggandengkan makan disertai dengan rasa syukur, dalam ayat ini Allah menggandengkan makan dengan beramal saleh. Artinya, nikmat makanan melazimkan syukur dalam bentuk amal saleh karena itulah bukti paling kuat dari rasa syukur kepada Allah.

Adapun orang-orang kafir, mereka bersenang-senang dengan makanan dan minuman mereka sehingga mereka lupa untuk beribadah kepada Allah. Allah berfirman dalam Surah Muhammad (47) ayat 12:

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

“… Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia), dan mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka.”

BACA JUGA:  Minuman dari Allah untuk Orang-Orang Zalim

Kenapa makanan itu halal bagi orang-orang beriman dan menjadi dosa bagi orang-orang kafir? Karena orang-orang kafir tidak mensyukuri nikmat-nikmat tersebut sehingga mereka akan disiksa akibat apa yang mereka makan. Semakin banyak mereka makan, semakin berat siksaan mereka pada Hari Kiamat karena rasa syukur dari nikmat makanan tersebut tidak mereka tunaikan. Oleh karenanya, Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 32:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِۗ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِۗ

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dari rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada Hari Kiamat….'”

Ini adalah peringatan bagi kita bahwa makan dan minum itu ada konsekuensinya. Jika kita ingin agar makanan dan minuman kita tidak menjadi dosa, hendaknya kita memenuhi persyaratannya. Yaitu, dengan menghindari makanan yang haram, beramal saleh, dan menjadikan apa yang kita konsumsi menjadi sarana untuk semangat dalam beribadah, kemudian mempertahankan keimanan, ketakwaan, dan berbuat ihsan, maka makanan kita menjadi halal.

Janganlah meniru perbuatan orang-orang kafir. Mereka hanya bersenang-senang. Kelezatan makanan dan minuman justru menyebabkan mereka lupa dengan akhirat dan lupa untuk mensyukurinya secara benar. Allah menyebutkan tentang sifat mereka dalam Surah Al-Insyiqaq (84) ayat 13:

اِنَّهٗ كَانَ فِيْٓ اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ

“Sungguh, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir).”

Kemudian, firman Allah,

وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Ini di antara dalil akidah Ahli Sunnah bahwa Allah memiliki sifat mencintai, yaitu mencintai para hamba-Nya yang berbuat ihsan. Adapun kalangan ahli bid’ah mengatakan bahwa Allah tidak bisa dan tidak boleh mencintai. Kalau begitu, lalu bagaimana dengan ayat ini? Mereka mengatakan bahwa Allah mencintai itu maksudnya Allah memberikan pahala. Mereka melakukan takwil karena, menurut anggapan mereka, Allah tidak boleh memiliki sifat mencintai.

Sanggahan terhadap pendapat mereka:

Bukankah di antara orang yang paling dicintai oleh Allah adalah Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ﷺ? Allah berfirman dalam Surah An-Nisa’ (4) ayat 125:

وَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا

“… Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(Nya).”

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.”

Maka, kita tanyakan kepada mereka (ahli bid’ah), apakah Allah mencintai Nabi Muhammad ﷺ atau tidak?

Jika mereka berkata bahwa arti mencintai bagi Allah adalah memberi pahala, kita katakan bahwa mencintai dan memberi pahala itu merupakan dua hal yang berbeda. Dan, ini mengandung konsekuensi bahwa Allah tidak mencintai Nabi ﷺ tetapi hanya memberi pahala kepadanya. Jika perkaranya demikian, lantas mengapa Nabi ﷺ disebut dengan kekasih Allah?

Di dalam banyak ayat, Allah berfirman, di antaranya adalah:

Pertama, dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 222:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“… Sungguh Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.”

BACA JUGA: Rasulullah Doakan Ayah Abdullah bin Busr yang Menghidangkan Makanan

Kedua, dalam Surah Ali-Imran (3) ayat 76:

 فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ

“… Maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”

Ketiga, dalam Surah Ali-Imran (3) ayat 134:

وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

Ketika Allah menyebutkan bahwa Allah mencintai para hamba-Nya, dan kita tahu bahwa Allah mencintai kita, maka kita akan bertambah semangat di dalam beribadah, yang itu lebih dahsyat dibandingkan tahu bahwa Allah memberi pahala. Selanjutnya, tentu sifat cinta pada Allah tidak sama dengan sifat cinta pada makhluk-Nya.[]

HABIS| SUMBER: PUSAT STUDI QURAN

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Keadaan Ayah dan Ibu Nabi ﷺ di Akhirat

Kajian

Doa saat Tiba di Kuburan, Serta Hukum Menangis di Sisi Kubur

Kajian

Pangkal Segala Keburukan dan Penawarnya

Kajian

Akikah: Tanggung Jawab Ayah dan Anjuran Bagi Anak yang Belum Diaqiqahi

Leave a Reply