JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Cahaya Kecil di Pangkuan Halimah Sa’diah

Halimah Sa'diah

Di tanah kering yang digenggam angin padang pasir, sebuah kebiasaan telah mengakar: anak-anak yang baru lahir akan disusukan oleh wanita-wanita penyusu dari kabilah pedalaman. Mereka datang ke Mekah setiap tahun, menjemput bayi-bayi mungil yang akan mereka rawat, dengan harapan upah dan barakah yang menyertai. Dari sanalah rombongan wanita Bani Sa‘ad tiba, di antara mereka seorang perempuan berhati lembut bernama Halimah binti Abu Dzu’aib, yang kelak dunia akan mengenalnya sebagai Halimah As-Sa’diyah.

Hari itu, tatapan para wanita tertuju pada seorang bayi yang belum lama melihat dunia. Ia berwajah bercahaya, teduh, namun sunyi. Bayi itu bernama Muhammad. Namun ia lahir tanpa seorang ayah. Yatim. Dan dalam pandangan manusia yang mengukur dengan materi, seorang yatim bukanlah janji upah. Maka satu per satu wanita itu menolak, melangkah menjauh, mencari bayi lain yang dianggap lebih menjanjikan.

BACA JUGA:  Nabi Mengetahui Apa yang Tidak Diketahui Umatnya

Halimah pun, pada awalnya, merasakan keraguan yang sama. Hidupnya serba sempit. Dadanya terasa kering, air susunya tak cukup untuk bayinya sendiri, apalagi untuk anak orang lain. Keledainya lemah, jalannya tertatih. Bahkan padang rumput di halaman rumahnya telah lama kehilangan hijau. Maka tatkala ia mendengar kabar tentang bayi yatim itu, hatinya berbisik: mungkin lebih baik kuambil bayi lain, siapa tahu ada kebaikan yang bisa menolong hidupku.

Namun, saat ia tak lagi menemukan pilihan, ia mendekat juga pada sang bayi yatim itu. Muhammad kecil menatapnya dengan mata yang bening. Ada keteduhan yang menetes, seolah memanggil sisi terdalam nuraninya. Halimah pun berbisik pada suaminya, “Aku tak tega meninggalkannya. Mari kita bawa bayi ini, semoga Allah menaruh berkah pada kita karenanya.”

Maka terjadilah peristiwa yang menjadi awal dari seribu keajaiban. Begitu Muhammad kecil digendong, Halimah merasa dadanya penuh. Air susu yang semula kering, mengalir deras bagai mata air yang menemukan jalannya. Bayinya sendiri pun kenyang, berhenti menangis. Keledai yang tadinya letih, tiba-tiba berlari kencang hingga rombongan Bani Sa‘ad terheran-heran melihatnya. Seakan seluruh alam tunduk menyambut bayi bercahaya itu.

Hari-hari di rumah Halimah berubah menjadi musim semi. Padang rumput yang gersang mendadak menghijau. Kambing-kambingnya pulang dengan kantong susu penuh. Hidup yang semula sempit, perlahan dibuka oleh keberkahan. Halimah tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, bayi yatim itu bukan anak biasa. Ada cahaya di dalam dirinya, ada rahasia yang menetes bersama setiap napasnya.

Tahun-tahun berlalu, Muhammad tumbuh di pangkuan Halimah. Anak itu santun, tidak pernah menyakiti teman sepermainannya. Senyumnya riang, tutur katanya lembut. Ia tumbuh menjadi sosok kecil yang dikasihi semua orang. Halimah menyayanginya seperti darah daging sendiri, sedang Muhammad menghormatinya sebagaimana seorang anak menghormati ibu kandungnya. Hubungan itu bukan sekadar persusuan, melainkan ikatan hati yang dijahit dengan cinta dan kasih sayang.

BACA JUGA:  Khadijah Menenangkan Muhammad

Ketika tiba masa untuk kembali kepada ibunya, Aminah, Halimah merasa berat melepasnya. Tapi begitulah garis takdir berjalan. Meski jasad berpisah, hati mereka tetap bersambung. Hingga di kemudian hari, saat Muhammad telah menjadi Rasul Allah, ia tidak pernah melupakan Halimah. Ia menyebutnya ummi, ibuku. Ia menyambut Halimah dengan penuh hormat, memberi penghargaan yang mulia, dan memuliakan saudara-saudara persusuannya.

Inilah teladan yang meninggalkan jejak: betapa Rasulullah ﷺ menjunjung tinggi hubungan kekerabatan, tidak melupakan jasa, dan memuliakan siapa pun yang pernah menorehkan kebaikan dalam hidupnya. Dari rahim kasih Halimah, kita belajar bahwa setiap kebaikan, meski kecil, akan berbalas dengan limpahan rahmat Allah. Dan dari sikap Rasulullah, kita belajar tentang kesetiaan dan penghormatan yang tidak pernah pudar oleh waktu.

Di pangkuan Halimah, seorang cahaya kecil pernah tumbuh. Cahaya itu kemudian menyinari seluruh alam. Muhammad, sang yatim, yang diangkat oleh Allah menjadi rahmat bagi semesta. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

6 Jiwa Suci dari Bumi Yatsrib

Sirah

Kabilah-kabilah yang Ditawari Islam

Sirah

Tertidur saat Ingin Menonton

Sirah

Di Depan Pendeta Bahîrâ