JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Nasihat

Dahulukan Akhiratmu, Dunia Akan Mengikutimu

Sebagian ulama salaf memberikan nasihat yang begitu dalam:

أَنْتَ مُحْتَاجٌ إلَى الدُّنْيَا وَأَنْتَ إلَى نَصِيبِك مِنْ الْآخِرَةِ أَحْوَجُ فَإِنْ بَدَأْت بِنَصِيبِك مِنْ الْآخِرَةِ مَرَّ عَلَى نَصِيبِك مِنْ الدُّنْيَا فَانْتَظَمَهُ انْتِظَامًا.

“Engkau membutuhkan dunia, namun kebutuhanmu terhadap bagianmu di akhirat lebih besar. Jika engkau mendahulukan bagianmu di akhirat, maka bagianmu di dunia akan mengikutinya dengan teratur.” (Majmu’ al-Fatawa 10/663)

Kalimat ini menggambarkan keseimbangan yang sejati dalam kehidupan seorang Muslim. Tidak bisa dipungkiri, manusia memang membutuhkan dunia untuk bertahan hidup: makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan segala sarana kehidupan. Namun, kebutuhan manusia terhadap akhirat jauh lebih besar, sebab di sanalah kehidupan abadi yang tidak mengenal kematian.

Dunia Sebagai Jalan, Akhirat Sebagai Tujuan

Allah Ta’ala berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia…” (QS. Al-Qashash: 77)

BACA JUGA:  Janganlah Tertipu Kehidupan Dunia

Ayat ini menunjukkan keseimbangan: kita boleh mengambil bagian dunia, namun tujuan utama tetap akhirat. Dunia hanyalah jalan, sedangkan akhirat adalah tujuan. Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: “Dunia ini hanyalah jembatan, maka janganlah engkau menjadikannya tempat tinggal.”

Dengan demikian, seorang Muslim yang cerdas tidak akan tertipu oleh gemerlap dunia. Ia tahu bahwa dunia bukan tempat perhentian terakhir, melainkan sekadar ladang untuk menanam amal.

Dahulukan Akhirat, Dunia Akan Mengikuti

Seringkali manusia khawatir bila terlalu sibuk dengan ibadah akhirat, maka dunia akan tertinggal. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Allah menjanjikan kecukupan dunia bagi siapa yang mendahulukan akhiratnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai obsesinya, maka Allah akan menjadikan hatinya kaya, urusannya teratur, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa menjadikan dunia obsesinya, maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya, urusannya berantakan, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali sebatas yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2465, hasan shahih)

Hadis ini sejalan dengan perkataan ulama salaf di atas: mendahulukan akhirat bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan justru membuat urusan dunia menjadi lebih teratur.

Pandangan Salaf tentang Dunia

Ulama salaf sangat paham bahwa dunia hanyalah sementara. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Zuhud terhadap dunia bukan berarti engkau tidak memiliki harta, tetapi engkau lebih yakin kepada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu.”

Mereka melihat dunia dengan kacamata yang benar: sebagai sarana, bukan tujuan. Karena itu, mereka tidak membenci dunia, tetapi menempatkannya pada posisi yang semestinya.

BACA JUGA:  Bersaing dalam Urusan Akhirat

Penutup

Kehidupan dunia memang kita butuhkan, namun jangan sampai membuat kita lupa bahwa kebutuhan terbesar adalah untuk akhirat. Barangsiapa cerdas mengatur prioritasnya, ia akan mendahulukan bekal akhiratnya. Dan ketika itu dilakukan, dunia justru akan mengikuti dengan sendirinya.

Sebagaimana perkataan seorang salaf: “Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan mencukupi hubungan-hubungannya dengan manusia.”

Maka, mari kita jadikan akhirat sebagai tujuan utama, dan dunia sebagai sarana menuju ke sana. Dengan begitu, kita mendapatkan keduanya—dunia yang teratur dan akhirat yang bahagia. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Nasihat

Ridho Allah padamu

Nasihat

Jangan Bermaksiat

Nasihat

Mutiara Nasihat Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq

Nasihat

Mutiara Nasihat Urwah bin Zubair