Dalam sejarah perjalanan para ulama, selalu ditegaskan bahwa urusan rezeki adalah salah satu perkara besar yang sering mengikat hati manusia. Banyak orang yang gelisah dengan masa depannya, khawatir dengan kebutuhannya, bahkan tak jarang melupakan Allah dalam perburuan dunianya. Namun, Islam datang membawa keseimbangan: berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap menggantungkan hati hanya kepada Allah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah menegaskan dalam Majmu’ Fatawa (10/662):
وَأَمَّا أَرْجَحُ الْمَكَاسِبِ: فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ وَالثِّقَةُ بِكِفَايَتِهِ وَحُسْنُ الظَّنِّ بِهِ. وَذَلِكَ أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْمُهْتَمِّ بِأَمْرِ الرِّزْقِ أَنْ يَلْجَأَ فِيهِ إلَى اللَّهِ وَيَدْعُوَهُ
“Mata pencaharian yang paling utama adalah tawakal kepada Allah (setelah berikhtiar dan mengambil sebab), meyakini bahwa Allah akan mencukupinya, dan berbaik sangka kepada-Nya. Oleh karena itu, orang yang peduli dengan urusan rezekinya seharusnya bersandar sepenuhnya kepada Allah dan berdoa kepada-Nya.”
BACA JUGA: Rezeki: Ada yang Diatur, Ada yang Dicari
Ucapan ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).
Teladan dari Sirah Nabi ﷺ
Dalam sirah Rasulullah ﷺ, banyak kisah yang mengajarkan makna tawakal. Salah satunya adalah ketika hijrah dari Makkah menuju Madinah. Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ra. bersembunyi di Gua Tsur, sementara musuh sudah hampir menemukan mereka. Saat itu Abu Bakar merasa cemas, namun Rasulullah ﷺ menenangkan:
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40).
Ketenangan Rasulullah ﷺ menunjukkan keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah pasti datang. Inilah wujud tawakal sejati: hati yang yakin kepada Allah meski sebab-sebab dunia tampak lemah.
Perkataan Ulama Salaf
Ulama salaf juga banyak menekankan hal ini. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Tawakal bukanlah meninggalkan usaha, tetapi keyakinan bahwa rezeki ada di tangan Allah.”
Begitu pula Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata:
“Aku tidak mengetahui amal hati yang lebih utama dari tawakal kepada Allah.”
Mereka menegaskan bahwa tawakal adalah ibadah hati, sementara usaha adalah kewajiban anggota tubuh. Keduanya harus berjalan beriringan.
Keseimbangan Ikhtiar dan Tawakal
Islam tidak mengajarkan meninggalkan usaha. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih).
Perhatikan bahwa burung tetap berusaha, terbang mencari makan, namun hatinya bergantung penuh pada Allah. Begitulah seorang Muslim seharusnya menata kehidupannya: bekerja, berikhtiar, tetapi tidak menggantungkan hati kepada gaji, usaha, atau kekuatan manusia.
BACA JUGA: Maksiat Menghalangi Datangnya Rezeki
Penutup
Tawakal adalah mata pencaharian hati yang paling agung. Ia bukan sekadar konsep, melainkan jalan hidup yang telah dipraktikkan Nabi ﷺ dan para salafus shalih. Rezeki memang harus diusahakan, tetapi kecukupan hanya datang dari Allah.
Ibnu Qayyim rahimahullah pernah menasihati: “Barangsiapa bertawakal kepada Allah, Allah akan mencukupkannya; barangsiapa bergantung kepada selain-Nya, Allah akan menyerahkannya kepada sesuatu yang ia gantungkan itu.” (Madarijus Salikin).
Dengan demikian, sirah tawakal mengajarkan kita untuk menyeimbangkan usaha dengan keikhlasan hati. Rezeki akan datang sesuai takdir, namun kebahagiaan hanya akan hadir bila hati bersandar kepada Allah semata. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


