JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Baiti Jannati

Dakwah pada Orangtua

Ada perjalanan yang lebih halus daripada sekadar kata-kata. Sebuah perjalanan yang lahir dari hati, berangkat dari kasih, dan berlabuh pada keridaan. Itulah jalan anak ketika ingin mendakwahi orang tuanya. Jalan yang penuh doa, penuh sabar, dan penuh cinta.

Segalanya dimulai dari niat. Niat yang jernih, hanya karena Allah, seraya menapaktilasi Sunnah Nabi ﷺ yang penuh kelembutan dalam menasihati. Sebab tanpa niat yang lurus, setiap kata akan kering, dan setiap usaha tak berbekas.

Maka seorang anak pun menyiapkan bekal. Ia tidak berbicara dengan hawa nafsu, tapi dengan ilmu. Ilmu yang benar, terang, dan mudah diterima, sehingga orang tua merasa tenteram, bukan disalahkan.

Saat tiba waktunya menyampaikan, ia tak melontarkan kata dengan keras, melainkan dengan suara lembut, wajah ceria, dan tubuh yang condong penuh hormat. Ia memilih kalimat yang sopan, sebab nasihat yang kasar hanya menutup pintu hati.

BACA JUGA: Menjaga Kejujuran Orangtua di Hadapan Anak

Namun sebelum kata-kata, ia meraih simpati dengan perbuatan. Ia berbuat baik, membantu pekerjaan orang tua, mendampingi dalam kesempatan-kesempatan kecil, melaksanakan perintah selama tak melanggar syariat. Kadang hanya dengan diam mendengarkan, tidak menyela, menunggu hingga orang tua selesai berbicara. Sebuah adab yang sering lebih bermakna daripada seribu nasihat.

Di sela-sela itu, ia mencari waktu terbaik. Tidak menasihati saat marah atau sibuk, tidak pula di depan orang banyak. Ia memilih momen yang sunyi, saat hati terbuka, agar kata-kata dapat masuk dengan tenang.

Dan ada saat ketika kata sudah tak cukup. Maka ia mengajak orang tua ke majelis ilmu, atau sekadar menghadiahkan sebuah buku, sebuah video ceramah, atau kisah tentang surga dan neraka, tentang lembutnya akhir hayat orang saleh, dan getirnya penutup orang zalim. Kadang ia bahkan mengajak mereka ziarah kubur, agar hati mereka tersentuh oleh ingatan akan kematian.

Di balik semua usaha itu, ada doa-doa yang ia bisikkan di sepertiga malam. Tangisan yang hanya Allah mendengar. Permohonan agar hati orang tuanya dilembutkan, dituntun, dan diberi hidayah. Kadang ia meminta doa orang saleh, atau bantuan seorang keluarga yang lebih tua dan dihormati, untuk turut menasihati dengan cara yang lebih diterima.

BACA JUGA: Berbuat Baik pada Kedua Orangtua

Ia tahu, semua ini bukan perkara sehari dua hari. Maka ia bersabar. Ia terus berbuat baik, memberi hadiah kecil, menjaga ketaatan dirinya sendiri agar menjadi teladan. Sebab ketika anak semakin saleh, orang tua pun perlahan ikut tersentuh.

Kadang, ia mengajak mereka ke rumah ahli ilmu, membuka percakapan yang jernih tentang perkara-perkara yang mereka ragu. Kadang ia hanya diam, menunggu. Tapi di dalam dirinya ada keyakinan: dakwah ini bukan sekali, bukan dua kali. Ini adalah jalan sepanjang usia. Sebuah jalan yang menuntut kesetiaan, kesabaran, dan cinta yang tak pernah padam.

Dan di ujungnya, ia tahu—hidayah bukan milik dirinya. Ia hanya berusaha. Yang membolak-balik hati hanyalah Allah. Tugasnya hanyalah mengetuk, berulang-ulang, dengan sabar, dengan kasih, hingga akhir hayatnya. []

Digubah dari nasihat Ustadz Najmi Umar Bakkar (@najmiumar_official)

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Baiti Jannati

Mengembangkan Hati Nurani Anak

Baiti Jannati

Tujuan Hukuman pada Anak dalam Pendıdıkan Islam

Baiti Jannati

Jadikan Shalat sebagai Penyejuk Hati

Baiti Jannati

Kapan Reward dan Punishment Diberikan pada Anak?