Waktu adalah anugerah yang Allah berikan kepada manusia. Setiap detik yang berlalu bukan sekadar angka dalam kalender, tetapi langkah yang membawa kita semakin dekat kepada akhir perjalanan hidup.
Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah berkata,
“Setiap tahun yang kalian lalui akan mendekatkan kalian kepada kuburan setahun, sekaligus menjauhkan kalian dari istana-istana dunia setahun pula.”
(Adh-Dhiya’ul Lami’, 703).
BACA JUGA: Setan Menggoda Manusia untuk Meninggalkan Kebaikan
Nasihat ini begitu dalam, mengingatkan kita bahwa umur bukan bertambah, melainkan berkurang.
Setiap ulang tahun sejatinya bukan perayaan bertambahnya usia, melainkan tanda bahwa waktu kita di dunia semakin singkat. Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari pergi, maka pergilah sebagian dari dirimu.” Inilah kenyataan yang sering kita lalaikan. Kita sibuk memburu gemerlap dunia, seakan-akan waktu akan selalu ada untuk kita. Padahal setiap tahun, bahkan setiap hari, adalah perjalanan menuju liang lahat.
Renungkanlah, dunia dengan segala harta, kedudukan, dan kemewahannya hanyalah persinggahan sementara. Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Dunia ini hanyalah ladang akhirat. Barangsiapa menanam kebaikan, ia akan menuai kebahagiaan. Barangsiapa menanam keburukan, ia akan menuai penyesalan.” Maka, sejauh mana kita telah menanam amal untuk bekal yang abadi?
Setiap tahun yang kita lalui adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri. Allah Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133). Ayat ini mengajak kita untuk tidak menunda amal. Karena kita tidak tahu apakah tahun depan masih menyapa, atau justru nama kita telah terukir di batu nisan.
BACA JUGA: Amal Baik Itu
Waktu yang terus berjalan sejatinya menyingkap dua hal: mendekatkan kita pada kematian, dan menjauhkan kita dari dunia. Oleh sebab itu, ulama salaf selalu menasihati agar menjadikan setiap hari layaknya hari terakhir. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah merasa lebih berat dibanding menahan niatku. Ia selalu berubah-ubah.” Maka, menjaga hati agar terus ikhlas dan bersegera dalam kebaikan adalah bekal yang paling utama.
Wahai diri, jangan tertipu oleh panjang angan-angan. Setiap tahun yang pergi adalah panggilan lembut dari Allah agar kita sadar, bahwa pertemuan dengan-Nya semakin dekat. Dunia akan kita tinggalkan, sedangkan amal akan menemani. Maka jangan sia-siakan sisa usia yang masih tersisa, jadikan ia sebagai bekal menuju kampung akhirat yang kekal. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


