Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat” (HR. Tirmizi no. 2499, Shahih al-Targīb 3139. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu).
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ، زَادَتْ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ {كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}
“Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa maka akan dibubuhkan satu titik hitam di (permukaan) hatinya. Kalau dia (segera) bertaubat, meninggalkan (dosa tersebut) dan memohon ampun (kepada Allâh Azza wa Jalla), maka hatinya akan bening (kembali),
(tetapi) jika dosanya bertambah, maka akan bertambah pula titik hitam tersebut. Itulah (makna) ar-rân (penutup hati) yang Allâh sebutkan dalam Al-Qur’an, (yang artinya -pen),
BACA JUGA: Dosa Besar: Riya’
‘Sekali-kali tidak (demikian), bahkan menutupi hati mereka perbuatan (dosa) yang selalu mereka lakukan’” (HR. Ibnu Majah 37/4385).
Ada beberapa dampak perrbuatan dosa di dunia ini.
Pertama, kehidupan yang sempit
Orang-orang yang bermaksiat kepada Allah akan menghadapi kehidupan yang sempit, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta” (QS. Taha: 124).
Dalam ayat di atas Allah Ta’ala menegaskan bahwa orang-orang yang melanggar batasan-batasan syariat Allah Ta’ala akan merasakan dampak dan akibatnya.
Tidak hanya dampak di akhirat dengan keadaan buta, tapi dampak dari dosa juga akan dirasakan di dunia berupa kehidupan yang sempit.
Kedua, musibah demi musibah
Tidak dapat dipungkiri dan nyata terjadi, bahwa mereka menerima dampak di dunia dari dosa yang mereka lakukan.
Dampak dosa tersebut berupa musibah demi musibah yang menimpa. Mulai dari bencana alam, hancurnya properti, hilangnya harta benda, kehilangan organ tubuh, kehilangan pekerjaan, dan berbagai musibah lain yang bersumber dari dosa-dosa yang dilakukan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syura: 30).
Berkaitan dengan ayat tersebut, Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87).
Ketiga, kehilangan nikmat Allah
Kebahagiaan yang diinginkan oleh manusia tentu tidak saja berupa kenikmatan di akhirat saja. Tapi juga kenikmatan di dunia berupa rezeki yang melimpah dan ketenangan jiwa.
Namun, kadang kala kenikmatan di dunia itu tidak didapatkan. Alasannya tidak lain karena perbuatan manusia itu sendiri.
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah Rahimahullah berkata,
“Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Allah Ta’ala berfirman,
ذَلِكَ بِأَنَّ اللّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Anfal: 53).
Untuk memperoleh nikmat itu kembali, tidak ada cara lain kecuali dengan mengubah diri sendiri dari yang sebelumnya berada dalam kubangan maksiat, menuju ketaatan pada Allah Ta’ala.
BACA JUGA: Dosa-Dosa yang Perlu Diwaspadai Penjual Online
Semoga dengan hal itu, Allah berikan petunjuk untuk mendapatkan kembali karunia Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ro’du: 11).
Lantas, bagaimana sebaiknya kita menyikapi kondisi demikian? Jawabannya adalah dengan bertekad untuk tidak melakukan dosa. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


