Doa dan ta’awwudz (memohon perlindungan-Nya dari sesuatu) memiliki kedudukan seperti layaknya senjata. Kehebatan suatu senjata sangat bergantung pada pemakainya, bukan hanya dari ketajamannya.
Jika senjata tersebut adalah senjata yang sempurna, tidak ada cacatnya, lengan penggunanya adalah lengan yang kuat, serta tidak ada suatu penghalang, maka tentulah ia mampu dipakai untuk menghantam dan mengalahkan musuh. Namun jika salah satu dari tiga segi itu hilang, maka efeknya juga melemah dan berkurang.
Begitu pula doa. Jika doa tadi pada dasarnya memang tidak layak, atau orang yang berdoa tidak mampu menyatukan hati dan lisannya, atau ada sesuatu yang menghalangi terkabulnya doa tersebut, maka tentu saja efeknya juga tidak akan ada.
Ada pertanyaan yang cukup populer dalam bahasan kali ini: “Jika perkara yang diminta oleh seorang hamba itu memang telah ditakdirkan, niscaya hal itu sudah pasti akan terjadi, baik ia berdoa ataupun tidak. Jika memang tidak ditakdirkan, niscaya hal itu tidak akan terjadi, baik ia berdoa ataupun tidak. Bukankah demikian?”
BACA JUGA: Doa Dzun Nun (Nabi Yunus)
Ini merupakan salah satu sebab kekeliruan banyak penulis sejarah dan biografi para ulama. Setelah selesai menuliskan biografi sejumlah ulama dan orang-orang shalih, terkadang mereka menambahkan: “Doa di kuburan mereka akan dikabulkan.” Tentu saja perkaranya tidak seperti yang mereka katakan. Realita yang sebenarnya adalah sebagaimana penjelasan Ibnul Qayyim
Segolongan orang menyangka bahwa pernyataan di atas adalah sebuah kebenaran. Mereka pun lantas meninggalkan doa seraya mengatakan: “Doa itu sama sekali tidak berfaedah!” Seiring dengan kedunguan dan kesesatan mereka, sikap demikian sangat kontradiktif.
Sesungguhnya konsekuensi dari penerapan pemikiran ini hanya akan meniadakan dan menafikan salah satu bentuk atau keberadaan faktor-faktor penyebab dari sebuah kejadian.
Sebagai bantahan, kita katakan kepada mereka: “Seandainya Anda memang ditakdirkan untuk kenyang dan terbebas dari rasa dahaga, tentulah hal itu pasti akan terjadi, baik Anda makan ataupun tidak. Demikian pula jika memang tidak ditakdirkan untuk kenyang, tentu Anda tidak akan pernah kenyang, baik Anda makan ataupun tidak.
Begitu pula keturunan, sekiranya Anda memang ditakdirkan untuk memilikinya, tentulah hal itu pasti akan terjadi, baik Anda menyetubuhi istri dan budak Anda ataupun tidak. Namun, jika memang tidak ditakdirkan, tentu Anda tidak akan pernah memiliki keturunan.
Oleh sebab itu, tidak ada manfaatnya Anda menikah dan memiliki budak wanita. Begitulah seterusnya.
Adakah orang berakal, ataupun manusia pada umumnya, yang akan berpendapat seperti itu? Binatang ternak saja diberi naluri untuk berinteraksi dengan faktor penyebab, dalam rangka menjaga kelangsungan hidup dan eksistensi mereka. Ini artinya, hewan-hewan tersebut lebih pandai daripada orang-orang tadi. Mereka memang seperti ternak, bahkan lebih sesat lagi jalannya.
Di antara mereka ada orang yang sok pintar dengan menyatakan: “Menyibukkan diri dengan doa termasuk ibadah mahdhah (seperti shalat, haji, dan yang semisalnya Pro), supaya Allah memberikan pahala kepada orang yang berdoa, meskipun doa tersebut sebenarnya tidak mempunyai efek sedikit pun terhadap apa yang diminta.”
Menurut orang yang berlagak pandai tersebut, tidak ada bedanya antara berdoa dan berdiam diri, baik secara lisan maupun hati, untuk mendapat apa yang diinginkan. Keterkaitan doa dengan tercapainya keinginan itu seperti halnya keterkaitan orang yang diam saja untuk mendapatkannya. Sama saja, tidak ada bedanya.
Ada golongan yang lebih sombong, mereka berkata: “Doa hanya tanda yang Allah berikan sebagai isyarat atas terpenuhinya hal-hal yang diinginkan. Jika Allah memberi taufik kepada seorang hamba untuk berdoa, itu adalah tanda dan isyarat bahwa yang diinginkan telah dipenuhi. Sama seperti halnya jika kita melihat awan hitam di musim penghujan, yang merupakan pertanda turunnya hujan.”
Mereka melanjutkan: “Hal yang sama juga berlaku pada hukum ketaatan dengan pahala, serta hukum kekafiran dan kemaksiatan dengan siksa. Ketaatan, kekafiran, dan kemaksiatan hanyalah tanda dari pahala atau siksa, bukan merupakan penyebab keduanya.”
Begitulah pendapat mereka. Menurut mereka, sama sekali tidak ada hubungan sebab-akibat dalam peristiwa pecah dan memecahkan, terbakar dan membakar, serta terbunuh dan membunuh. Tidak ada hubungan antar keduanya melainkan rentetan peristiwa yang biasa, bukan rangkaian sebab dan akibat.
Pendapat mereka ini bertentangan dengan perasaan, akal, syariat, dan fitrah. Pemikiran mereka juga telah berseberangan dengan semua orang yang berakal, sekaligus menjadi bahan tertawaan mereka.
BACA JUGA: Beberapa Rahasia Doa
Pendapat yang benar ialah ada bagian ketiga yang tidak tercantum dalam pertanyaan di atas, yaitu apa yang ditakdirkan terjadi karena adanya sejumlah sebab, di antaranya adalah doa. Tidak mungkin sesuatu ditakdirkan terjadi begitu saja tanpa adanya sebab. la pasti memiliki keterkaitan dengan sebab. Jika seorang hamba mengerjakan sebab, maka terjadilah apa yang ditakdirkan; begitu pula jika hamba tidak mengerjakannya, maka apa yang ditakdirkan itu tidak terjadi.”
Ini sebagaimana ditakdirkannya kenyang karena makan dan minum, keberadaan anak karena bersetubuh, panen hasil pertanian karena menyemai, kematian ternak karena disembelih, dan memasuki Surga atau Neraka karena amal perbuatan. Demikianlah pendapat yang benar, namun hal ini tidak disinggung oleh penanya. Tampaknya, ia belum mendapatkan taufik untuk memahami perkara ini.”
Perbuatan hamba yang melakukan sebab juga termasuk perkara yang ditakdirkan. Ringkasnya, jika Allah menakdirkan terjadinya sesuatu, maka Dia juga akan menakdirkan sebab yang mengantarkan terjadinya sesuatu itu. []
Sumber: Ad-Daa’ wad Dawaa’, Macam-macam Penyakit hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Imam As-Syafi’i, Cetakan ke-10 November 2016 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


