JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Hadist

Hadist Qudsi No 4: Hadits tentang Apabila Seorang Hamba Mengucapkan La ilaha illallah

Bernazar

Ibnu Majah meriwayatkan dalam Sunan-nya dalam Bab: Fadhli La Ilaha Illallah, juz II, hlm. 219.

٤- عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنِ الْأَغَرِّ أَبِي مُسْلِمٍ أَنَّهُ شَهِدَ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدِ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (إِذَا قَالَ الْعَبْدُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، قَالَ : يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : صَدَقَ عَبْدِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا، وَأَنَا اللَّهُ أَكْبَرُ، وَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، قَالَ: صَدَقَ عَبْدِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي، وَإِذَا قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، قَالَ: صَدَقَ عَبْدِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَلَا شَرِيكَ لِي، وَإِذَا قَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، قَالَ: صَدَقَ عَبْدِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا، لِيَ الْمُلْكُ، وَلِيَ الْحَمْدُ، وَإِذَا قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ، قَالَ : صَدَقَ عَبْدِي، لا إِلَهَ إِلا أَنَا، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِي).

قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ : ثُمَّ قَالَ الْأَغَرُّ شَيْئًا لَمْ أَفْهَمْهُ قَالَ: فَقُلْتُ لِأَبِي جَعْفَرٍ : مَا قَالَ؟ فَقَالَ: (مَنْ رُزِقَهُنَّ عِنْدَ مَوْتِهِ لَمْ تَمَسَّهُ النَّارُ).

Dari Abu Ishaq, dari Al-Agharr Abu Muslim, dia bersaksi bahwa Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu’anhuma keduanya bersaksi bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba mengucapkan La ilaha illallah wallahu akbar (Tidak ada sesembahan Iyang benar lagi berhak diibadahil kecuali Allah, dan Allah Mahabesar), maka Allah Azza wa jalla berfirman, ‘Benar hamba-Ku. Tidak ada sesembahan (yang benar lagi berhak dubadahı) selain Aku, dan Aku-lah Allah Yang Mahabesar Apabila seorang hamba mengucapkan La ilaha illallahu wahdah (Tidak ada sesembahan (yang benar lagi berhak dibadahil kecuali Allah saja), Allah berfirman, “Benar hamba-Ku. Tidak ada sesembahan yang benar lagi berhak dubadalı) kecuali hanya Aku. Apabila seorang hamba mengucapkan La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah (Tidak ada sesembahan yang benar lagi berhak diibadahil kecuali Allah saja yang tiada sekutu bagi-Nya), Allah menjawab, “Benar hamba-Ku. Tidak ada sesembahan [yang benar lagi berhak dubadahil kecuali Aku dan tiada sekutu bagi-Ku.

BACA JUGA: Hadist Qudsi No 1: Keutamaan Berdzikir kepada Allah Ta’ala dan Membaca Kalimat Tauhid

Apabila seorang hamba mengucapkan La ilaha illallahu lahul-mulku wa lahul-hamdu (Tidak ada sesembahan (yang benar lagi berhak diibadahil kecuali Allah, hanya bagi-Nya segala kerajaan dan hanya bagi-Nya segala pujian), Allah menjawab Benar hamba-Ku. Tidak ada sesembahan (yang benar lagi berhak dubadahı) kecuali Aku, hanya bagi-Ku segala kerajaan dan hanya bagi-Ku segala pujian Apabila seorang hamba mengucapkan La ilaha illallahu wa la haula wa la quwwata illa billah (Tidak ada sesembahan [yang benar lagi berhak diibadahı) kecuali Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan [pertolongan] Allah), maka Allah menjawab, “Benar hamba-Ku. Tidak ada sesembahan (yang benar lagi berhak dübadahi) kecuali Aku, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan [pertolongan)-Ku.”

Abu Ishaq berkata, “Kemudian Al-Agharr mengatakan sesuatu yang tidak dapat aku pahami. Kemudian aku tanyakan kepada Abu Ja’far apa yang ia [Al-Agharr] katakan. Kemudian dia [Abu Ja’far) berkata, “Barangsiapa diberi karunia untuk mengucapkannya ketika meninggal dunia, niscaya tidak akan disentuh oleh api neraka.”

Penjelasan Hadits 4

Mengenai periwayatan hadits tentang keutamaan La ilaha illallah, Al-Agharr Abu Muslim menyatakan bahwa ia menyaksikan Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu sama-sama meriwayatkan hadits di atas darı Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau terima dari Allah Ta’ala. Mereka berdua dalam kondisi yakin terhadap apa yang mereka dengar dan yang mereka riwayatkan.

Persaksian yang mereka ucapkan adalah persaksian yang haq yang tidak mengandung keraguan dan praduga sedikit pun. Oleh karena itu, mereka berdua juga menanggung dosa akibat persaksian itu jika tidak sesuai dengan kenyataan. Pemakaian persaksian dalam periwayatan hadits di atas berfungsi sebagai penegasan.

Makna hadits di atas adalah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala meridhai beberapa macam dzikir sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang diucapkan seorang hamba dengan penuh keyakinan.

Buah dari pembenaran dirinya adalah bahwa Allah meridhai, menerima, dan memberinya pahala yang baik dan besar atas apa yang diucapkannya.

Maksud ucapan Al-Agharr yang disampaikan Abu Ja’far kepada Abu Ishaq “Barangsiapa diberi karunia untuk mengucapkannya ketika meninggal dunia, niscaya tidak akan disentuh oleh api neraka” adalah bahwa sesungguhnya orang yang senantiasa yakin terhadap dzikir ini [yakni: La ilaha illallah] hingga ketika hendak meninggal dia dikaruniai kemampuan untuk mengucapkannya, baik secara lisan maupun keyakinan dalam hati, maka dia akan diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari api neraka. Hal itu karena dia biasa mengucapkan:

BACA JUGA:  Hadist Qudsi No 2: Hadits tentang Keutamaan Dzikir dari Shahih Muslim

لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ إلا الله، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلا بالله الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه

“Tidak ada sesembahan yang benar lagi berhak dibadahi) selain Allah. Allah Mahabesar. Tidak ada sesembahan (yang benar lagi berhak dibadahi) selain Allah Yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada sesembahan (yang benar lagi berhak diibadahi) selain Allah, hanya bagi-Nya segala kerajaan dan hanya bagi-Nya segala pujian. Tidak ada sesembahan [yang benar lagi berhak dibadahi) selain Allah dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.

Ini adalah sejumlah kalimat yang seharusnya banyak diucapkan. Wallahu a’lam. []

Sumber: Al-Ahaadütsu al-Qudsiyyah (Kumpulan Hadist QUdsi, Beserta Penjelasannya) / Penyusun: Imam An-Nawawi dan Al-Qasthalani) / Penerbit: Muassah ar-Rayan – Darul Manar / Cetakan: Bab 1446 H/ Februari 2025”

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Hadist

Hadist Anjuran untuk Berobat

Hadist

Riyadhush Shalihin Hadist 12: Tawasul dengan Doa

Hadist

Riyadhush Shalihin Hadist 11: Niat Kebaikan dan Keburukan

Hadist

Riyadhush Shalihin Hadist 10: Menunggu Shalat dalam Masjid