Manusia adalah makluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Sebabnya, selain memiliki akal dan pikiran, manusia juga dikaruniai dengan hawa nafsu yang harus dikendalikan.
Ini merupakan suatu tantangan yang harus manusia hadapi dalam menjalani hidupnya selain dari pada godaan setan yang selalu hadir setiap saat.
Salah satu hawa nafsu yang paling banyak kita temui adalah nafsu berbuat riya.
Agar terhindar dari salah satu sifat tercela ini, hendaknya kita mengetahui empat tanda riya yang disampaikan oleh Ali ibnu Abi Thalib, yaitu:
1. Malas jika sendirian
Ini menunjukkan bahwa amal dilakukan bukan karena Allah, tetapi karena ingin dilihat manusia. Jika ia sendirian dan menjadi malas, maka amal itu tidak berangkat dari hati yang ikhlas.
Al-Fudhayl bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”
BACA JUGA: Tanda Orang yang Ikhlas
Orang yang benar-benar ikhlas akan tetap rajin beribadah meski tidak ada yang melihatnya, karena ia yakin Allah melihatnya setiap waktu. Ia tidak mencari penilaian manusia, tetapi mengharap ridha Rabb-nya.
2. Rajin di muka orang
Ini adalah tanda riya’ (ingin dipuji). Ia mengerjakan amal dengan sungguh-sungguh ketika ada manusia yang melihat, namun biasa-biasa saja atau malas ketika sendirian.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan: “Riya’ adalah ketika seseorang memperbaiki amalnya di hadapan manusia karena ingin memikat hati mereka.”
Amal seperti ini tidak diterima oleh Allah, karena amal hanya diterima jika ikhlas dan benar sesuai tuntunan. Jika seseorang rajin karena manusia, maka ia menjadikan manusia sebagai tuhan kecil yang diharapkan balasannya.
3. Bertambah amal jika dipuji
Ini ciri hati yang bergantung pada manusia, bukan pada Allah. Ia menambah amal bukan karena ingin meningkatkan kualitas ibadahnya, tetapi karena merasa bangga dan ingin terus dipuji.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Celakalah hamba pujian dan celaan. Ia beramal karena pujian, dan meninggalkan amal karena celaan.”
Iman yang benar justru membuat seseorang bertambah amal karena takut kepada Allah, bukan karena sanjungan manusia.
BACA JUGA: 3 Tanda Kemuliaan Seseorang Menurut Imam Syafi’i
4. Berkurang kebaikan bila dicela
Jika celaan membuat seseorang meninggalkan amal kebaikan, itu tanda bahwa manusia lebih ia takuti daripada Allah. Padahal seorang mukmin sejati tetap teguh berbuat baik meski dicela.
Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan: “Tidaklah seseorang mencapai derajat ikhlas hingga celaan dan pujian manusia menjadi sama baginya.”
Celaan tidak boleh menghentikan seorang hamba dari kebenaran. Yang terpenting adalah pandangan Allah terhadap hati dan amalnya, bukan komentar manusia.
Orang yang riya’ , malas kalau sendirian alias tidak ada orang yang menyaksikan amal perbuatannya. Ketika ada ajakan untuk menyumbang dan akan ada pers yang meliput, orang yang riya akan langsung semangat.Dan bila dipuji ia akan semakin sering melakukan kebaikan. Sebaliknya, jika orang mencela amalnya, ia akan berhenti berbuat baik. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


