Al-Qur’an adalah cahaya yang diturunkan Allah untuk menuntun hati manusia. Ia bukan sekadar bacaan yang indah dilantunkan, bukan pula sekadar tulisan yang dibaca tanpa makna. Namun, betapa banyak di antara kita yang membuka mushhaf hanya sebatas menggugurkan kewajiban, tanpa pernah merasakan getaran iman di dalamnya.
Ketika ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah tidak lagi menumbuhkan rasa gembira dalam dada, itu tanda hati sedang bermasalah. Ketika ayat-ayat ancaman tak lagi membuat takut, padahal azab Allah sangatlah pedih, maka sungguh hati sedang tertutup oleh kelalaian. Saat perintah Allah dibacakan, namun kita tidak segera bersegera melaksanakannya, berarti kita tengah terjerat oleh kemalasan. Dan ketika ayat-ayat yang menggambarkan kedahsyatan kiamat dan panasnya neraka dibaca, namun hati tetap tenang-tenang saja, itu pertanda bahwa hati telah mulai keras.
Seorang salaf berkata, “Tidaklah seseorang membaca Al-Qur’an kemudian tidak berpengaruh pada perilakunya, melainkan ia semakin jauh dari Allah tanpa ia sadari.” Inilah bahaya besar yang mengintai siapa saja yang hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan rutin, tetapi tidak menghunjamkan isinya ke dalam jiwa.
BACA JUGA: Jangan Tinggalkan Quran
Allah Ta’ala memperingatkan kita dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Ayat ini menjelaskan tanda-tanda hati yang hidup. Hati seorang mukmin tidak pernah bosan dengan Al-Qur’an. Justru semakin sering ia mendengar atau membacanya, semakin lembut hatinya, semakin kokoh imannya.
Namun, berbeda halnya dengan hati yang telah lalai. Hati yang keras ibarat tanah tandus, air hujan turun namun tidak menyerap sedikit pun. Imam Al-Auza’i rahimahullah pernah berkata, “Siapa yang duduk bersama Al-Qur’an, maka ia akan bangkit dengan bertambahnya iman atau bertambahnya kekufuran.” Maksudnya, Al-Qur’an tidak pernah netral. Ia akan memberi pengaruh, baik mendekatkan atau justru menjauhkan, tergantung bagaimana hati menyambutnya.
Karena itu, jangan biarkan Al-Qur’an hanya menjadi hiasan di rak buku atau sekadar bacaan pengantar tidur. Jangan sampai kita membuka mushhaf, namun hati lalai dari isinya. Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kelak akan datang suatu kaum yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongan mereka? Artinya, bacaan itu tidak sampai ke dalam hati.
Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah menasihati, “Jika kalian ingin mengetahui apakah kalian mencintai Allah, maka periksalah diri kalian terhadap Al-Qur’an. Jika kalian mencintai Al-Qur’an, berarti kalian mencintai Allah.” Betapa jernih dan tegasnya perkataan ini. Ukuran cinta kita kepada Allah adalah sejauh mana kita mencintai kitab-Nya.
BACA JUGA: Abu Hanifah Membaca Al-Quran dalam Semalam
Maka dari itu, kita perlu melatih diri agar hati kembali lembut bersama Al-Qur’an. Bacalah dengan tadabbur, bukan sekadar mengejar jumlah halaman. Dengarkan bacaan Al-Qur’an dengan penuh rasa butuh, seakan-akan Allah langsung menegur dan menasihati kita. Tanamkan keyakinan bahwa setiap ayat yang dibaca mengandung petunjuk dan peringatan yang sangat berharga.
Wahai hamba Allah, jangan biarkan hati mati tanpa cahaya Al-Qur’an. Sebab hati yang jauh dari Al-Qur’an akan digelapkan oleh hawa nafsu dan syubhat. Sementara hati yang dekat dengannya akan senantiasa hidup, tenang, dan terarah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa tersentuh dengan ayat-ayat-Nya, bergembira dengan janji-Nya, takut dengan ancaman-Nya, dan bersegera dalam menjalankan perintah-Nya. Wallahu a’lam. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


