JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

Iblis yang Sombong

Neraka

Iblis yang sombong enggan memberikan penghormatan kepada Nabi Adam. Akhirnya, Allah SWT menjauhkannya dari rahmat-Nya. Allah SWT berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malai-kat, “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (cipta-an)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Iblis. la enggan ikut bersama-sama para (malaikat) yang sujud itu. Dia (Allah) berfirman, “Wahai Iblis! Apa sebabnya kamu (tidak ikut) sujud bersama mereka?’ Ia (Iblis) berkata, ‘Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari Kiamat.” (al-Hijr: 28-35)

Allah menciptakan Adam dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang dibentuk, kemudian Allah memberikan ruh kehidupan ke dalam tanah liat itu, maka jadilah Adam sebagai manu-sia dalam bentuknya yang sempurna.

BACA JUGA:  Ingkar Janji, Seperti Iblis

Kemudian Allah menyuruh malaikat untuk bersujud (mem-beri penghormatan) kepada Nabi Adam. Para malaikat memenuhi perintah Allah tersebut dengan penuh ketundukan. Mereka mengha-dap Nabi Adam dan meletakkan keningnya ke lantai sebagai bentuk penghormatan. Namun Iblis enggan melakukan hal ini. Dia menen-tang perintah Tuhannya, berlagak sombong dan akhirnya dia ter-masuk golongan kafir.

Allah SWT bertanya kepada Iblis mengenai alasan keengganan-nya memenuhi perintah-Nya itu. Allah berfirman,

.. مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَى اسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ )

“…apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kekuasaan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?” (Shaad: 75)

Iblis mengira bahwa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam, karena dia membandingkan antara unsur yang membentuknya dan unsur yang membentuk Adam. Iblis menganggap bahwa tidak ada makhluk pun yang bisa mengungguli derajatnya, tidak ada pula yang bisa menyamainya. Iblis pun berkata,

(٧٦) نه خلقتني مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ …. أَنَا خَيْرُ مِنْهُ خَلَقْتَنَى مِنْ نَارٍ وَ

“… Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Shaad: 76)

Iblis dengan terang-terangan memproklamasikan kemaksiatan-nya, menyombongkan diri di hadapan Tuhannya dan menolak ber-sujud terhadap makhluk ciptaan Tuhannya. Dan akhirnya, dia ter-masuk golongan makhluk yang kafir.

Allah menghukum Iblis karena kemaksiatan dan pembangkang-annya ini. Allah berfirman kepada Iblis,

“…(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari Kiamat.” (al-Hijr: 34-35)

Namun Iblis meminta kepada Allah untuk diberi waktu ber-operasi mengganggu manusia hingga hari Kiamat dan hidup hingga hari Kebangkitan. Allah memenuhi permintaannya ini,

“…(Baiklah) maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi pe-nangguhan, sampai hari yang telah ditentukan (Kiamat).” (al-Hijr: 37-38)

Meskipun permintaannya diterima oleh Allah SWT, namun Iblis tidak mau bersyukur, bahkan sebaliknya dia semakin ingkar dan kufur dengan kenikmatan itu. Iblis berkata,

“…Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,” (al-A’raaf: 16)

Dia sangat bersemangat untuk menggelincirkan manusia ke jalan kesesatan. Iblis kembali berkata,

“kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (al-A’raaf: 17)

Kemudian Allah menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya, meman-jangkan umurnya dan membebaskannya untuk menempuh jalan yang menjadi pilihannya. Allah SWT berfirman,

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَحِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا ) (٦٤

“Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau (iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu ter-hadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada me-reka.” Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.” (al-Israa’: 64)

Setan memberikan janji-janji semu dan angan-angan panjang nan indah kepada manusia. Namun dia sama sekali tidak bisa meng-goda orang yang akidahnya lurus, tekad dan semangatnya untuk melakukan kebajikan sangat kuat dan keikhlasan hati selalu menyertai setiap gerak-geriknya. Orang-orang seperti ini tidak akan terkecoh dengan jebakan-jebakan setan, dan telinga mereka tidak akan mendengar bujuk rayunya.

BACA JUGA: Keyakinan Iblis

Meskipun setan diberi kesempatan untuk menggoda dan menggelincirkan manusia dari jalan kebenaran, namun dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu, mendapatkan balasan yang berat di akhirat dan akan menjadi penghuni utama neraka, bersama orang-orang yang mengikutinya.

Allah membalas kesombongan dan kecongkakan Iblis ini. Allah benci kepadanya, mengusirnya, dan menjauhkannya dari rahmat-Nya. Akhirnya, iblis menjadi musuh Adam dan anak cucunya hingga hari Kiamat.

Di saat Adam diturunkan ke bumi, Allah SWT berfirman,

..اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ

“… Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaahaa: 123) []

Sumber:  Akhlaaq an-Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam fiü Shahith al-Bukhaarii wa Muslim (Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim) / Penulis: Abdul Mun im al-Hasyimi / Penerbit: Gema Insani / Cetakan Pertama, Syawwal 1430 H/Oktober 2009 M Cetakan Kedelapan, Drulhijjah 1440 H/Agustus 2019 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Membaca dari Mushaf

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah dalam Perkara al-Qur-an

Kajian

Talbis Iblis dalam Perkara Membaca Al-Qur-an

Kajian

Pinjaman kepada Allah yang Tak Pernah Merugi